Jan 23, 2008

'Private Journals with Megaphones'

Blogs are merely "private journals with megaphones", wrote Russell Jacoby, a history prof at UCLA. Neat definition, isn't it?

He argued in today's Higher Education section of The Australian newspaper that in general blogs are pathetic when it comes to "reasoned contributions to public life." Certainly there is a grain of truth there. One can read lots of useless blogs, become a junkie at that, and, to use Portman's phrase, amuse him/herself to intellectual death. A word of caution there for both blog readers and writers (me included).

Here is another interesting quote from Jacoby:

Jose Ortega y Gasset's fear almost a century ago of the revolt of the masses needs an update. We face a revolt of the writers. Today everyone is a blogger, but where are the readers? A New Yorker cartoon reverses the usual picture of a literary festival with book lovers lined up to get the author's autograph. The cartoon shows a table and a queue, but authors line up to see the reader, who sits behind the table. On the internet, articles, blog posts and comments on blog posts pour forth, but who can keep up with them? And while everything is archived, has anyone looked at last year's blogs?

The full-text article is here.

Jan 21, 2008

New Book: The Discipline of Spiritual Discernment

Tim Challies, yang disebut oleh Justin Taylor (rekan sepelayanan John Piper) sebagai The World’s Most Famous Canadian Reformed Blogger menulis sebuah buku baru yang penting untuk dibaca: The Discipline of Spiritual Discernment.

Tertarik untuk membaca Foreword (oleh John MacArthur), Introduction, dan Chapter 1 dari buku tersebut? Klik disini.

Jan 20, 2008

Gaya Hidup "Akribos" (part 2)

Sejak Mbah Socrates bilang "An unexamined life is not worth living", maka orang di Barat mulai punya bibit kesadaran bahwa yg namanya hidup itu mesti reflektif. Tanpa refleksi, hidup kita akan mudah jalani sembarangan. Lengah. Orang bilang pengalaman adalah guru yang berharga. Tapi saya kira itu salah lho. Yang menjadi guru berharga itu bukan pengalaman, tapi refleksi terhadap pengalaman-pengalaman. Tanpa refleksi, pengalaman-pengalaman hidup itu lewat begitu saja, kayak angin yang bertiup di sela-sela tubuh kita numpang lewat doang.

Kalau ada yg suka bilang gini: "Saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan". Kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang sembilan kali ! Jadi kesalahan yg sama tetap dilakukan. Metode yg sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Hidup Akribos adalah hidup yang reflektif dalam pengalaman hidup keseharian yang kita anggap sederhana, yang sepele, yang remeh. Namun seringkali semua itu tanpa kita sadari membentuk karakter kita in the long run. Berikut beberapa contoh:

1. Dalam relasi suami-istri kita sudah biasa ngomong ke istri atau suami kita dengan asal-asalan. Ngomong tanpa berhadapan muka. Tapi menjerit dari ruangan sebelah. "Eh, loe besok rencana ke rumah si A Bun jadi ga? Hah, apa? Jawab kencengan dikit kek! Hah, bukan, bukan, gua bukannya ngelarang.....gua nanya soalnya kalo lu jadi, gua mau ikut. Apa? Lu ga denger? GUA MAU IKUTTT!" Ini hal sepele, namun cara komunikasi seperti ini dalam 2-3 tahun akan turut membentuk kualitas relasi antara suami dan istri. Lama kelamaan, cara bicara sekenanya akan menjadi sebuah pola. Akibatnya, seringkali komunikasi sambil lalu itu menghilangkan sensitivitas terhadap perasaan pasangan kita. Ujung-ujungnya, cekcok, berantem, pisah ranjang, etc. Ketika sedang marahan, yang dijadikan kambing hitam adalah urusan klasik (anak, uang, mertua, etc.). Padahal akar masalahnya sepele. Yaitu suami istri tsb tidak pernah duduk merefleksikan cara komunikasi mereka yang semakin lama semakin memburuk. Masalah yang persis sama seringkali terjadi dalam relasi orang tua dan anak.

2. Seorang remaja pria yang mulai coba-coba belajar melakukan masturbasi. "Ah, ini khan masalah sepele. Toh semua remaja usia puber melakukannya" (well, at least menurut dia). "Khan ndak ada yang tahu. Toh aku sudah cukup dewasa dalam iman untuk tidak keliwat batas. Mendingan begini daripada apa yang dilakukan teman-temanku, jauh lebih runyam." Maka sesuatu yang awalnya coba-coba, lama-lama jadi enak, keterusan, ketagihan. Tidak lama kemudian, jadi habit. Habit yang tidak pernah habis. Bahkan sampai remaja tersebut beranjak dewasa, sampai punya pacar, sampai menikah dan punya anak. Ketika menginjak usia senja, pemuda yang sekarang telah menjadi kakek tersebut berkata "Aku sudah tidak tahu lagi siapa diriku, mengapa aku berubah menjadi babi yang selalu ke kubangan dosa. Begitu menjijikkan. Tapi aku tak mampu berhenti."

Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, tulis Rasul Paulus. Gejala "coba-coba" yang lalu menjadi habit ini muncul dalam bentuk yang berbeda-beda: rokok, obat-obatan, alcohol abuse, mengumpat, dst.

3. Ken Lay, eks Chairman dari Enron, yang tadinya adalah one of the most innovative/highly respected/top-performing global firms, sebelum divonis hukuman penjara seumur hidup karena turut mendalangi the biggest accounting fraud dalam sejarah bisnis, memulai praktek menyulap angka-angka di pembukuan perusahaan itu secara kecil-kecilan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Masalah yang paling besar bukan kejahatan kerah putihnya yang semakin menggila, tapi karakternya yang semakin ter-erosi. Sehingga kalau dia membandingkan dirinya di usia 20-an saat dia mulai bekerja di Enron dan di usia 60-an ketika dia divonis oleh pengadilan, dia merasa dia tidak kenal lagi siapa dirinya. Akhir hidupnya begitu mengenaskan, tidak berapa lama setelah ia divonis, ia meninggal karena serangan jantung.

Masih ada banyak contoh lain. Tapi point-nya sudah jelas. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yg kita lakukan setiap hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Apa yang kita lakukan secara konsisten, sekecil apapun hal tersebut, akan mempengaruhi the core of our being.

Permasalahannya, sekitar 95% perilaku kita itu spontan, bukan premeditate. Pikiran, sikap, dan aksi kita meluncur otomatis. Semua itu semacam spillover dari apa yang ada dalam hati kita. “Out of the abundance of the heart the mouth speaks", kata Yesus dalam Mat 12:34. Kalau mobil kita diselip orang, kita tidak pernah menepikan mobil lalu mengerutkan alis dan berpikir, "Gua mendingan ngumpat itu sopir atau ngempet aja dalam hati?" Tapi reaksi kita spontan. Hawa panas naik membakar hati, lalu api tersebut memberi energi kepada sel-sel otot di mulut untuk berkata, "Hey, muke gile loe!" sambil otak memerintahkan kaki untuk injak pedal gas dan tangan untuk menyelip balik sopir gila itu (dan semua itu terjadi dalam dua detik).

Tidak heran apabila Rasul Paulus setelah memaparkan dengan beda manusia lama dan manusia baru, lalu memberikan aplikasi praktis dalam hidup keseharian kita: Jangan berdusta, jangan marah, jangan ada perkataan kotor dari mulutmu, dst. Semua itu adalah spillover dari apa yang ada hati kita.

Itu sebab mari kita hidup dengan Akribos. Perhatikan apa yg kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita. Karena itu menjadi refleksi apa yang ada di hati kita. Pengamsal dengan arif mengingatkan kita: "Jagalah hatimu dengan kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Amsal 4:23).

Jan 17, 2008

Gaya Hidup 'Akribos'

"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" - Efesus 5:15

Hidup orang Kristen berbeda dengan hidup orang dunia, karena standard yang dipakai berbeda. Bijaksana menurut Alkitab berbeda dengan bijaksana menurut dunia. Apa yang dianggap bijak oleh dunia, mungkin dianggap bebal oleh Alkitab. Demikian juga sebaliknya!

Elton John mungkin punya ide cemerlang dgn musiknya, demikian juga Steve Jobs dgn inovasinya dari iPod sampai Macbook Air, dst, namun diluar Kristus mereka tidak akan dapat menjalani hidup sebagai orang bijak menurut kacamata Allah.

Dalam teks Efesus 5:15-17, Paulus memberitahu kita beda orang bijak dan orang bebal.

Kata asli yang dipakai untuk ‘perhatikan dengan seksama’ adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, thoroughness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yg sedang menganalisa suatu zat dibawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup Akribos adalah hidup yang tidak sembarangan. Hidup Akribos adalah hidup yang selalu sepadan dengan standard, dengan sebuah idealisme.

Dalam PB, kata ini dipakai minimal empat kali:
- Matius 2:8 "Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
- Lukas 1:3 "Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu."
- Kisah 18:25 "Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes."
- 1 Tes 5:2 "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."

Menarik sekali mempelajari konteks dimana keempat ayat tersebut muncul, lalu melihat bahwa dalam keempat konteks yg berbeda tersebut, ada persamaan benang merah dalam penggunaan kata Akribos. Yaitu ketelitian dan keakuratan yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.

Dalam Matius, kata Akribos digunakan untuk orang Majus yang diminta Herodes menjadi Detektif menyelidiki Bayi Kudus yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, kata ini dipakai oleh Dr Lukas melihat dirinya sebagai seorang Jurnalis melaporkan pandangan mata dan pengalamannya bersama Kristus Yesus, Dalam Kisah Rasul, kata ini digunakan Apolos sebagai seorang Guru yang mengajar jemaat Efesus dengan akurat. Terakhir, kata tersebut digunakan jemaat Tesalonika sebagai Murid yang telah menguasai ajaran dengan mendalam ttg kedatangan Kristus. Jadi ada 4 profesi yang muncul menggunakan kata Akribos: Detektif, Jurnalis, Guru, dan Murid.

Dalam Efesus 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, tetapi sebuah gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis, hari ini bagian dari Turki. Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yg sangat tersohor shg semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya setiap tahun. Sebagaimana kota metropolitan hari ini seperti Melbourne atau Jakarta, segala macam dosa ada ada di Efesus. Kepada jemaat Efesus Paulus berkata, "Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!" Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di abad ke-21.

Mengapa kita harus hidup dengan Akribos? Ayat 15 dimulai dengan "Karena itu..." Kita lalu bertanya: Karena apa? Jawabannya ada di ayat sebelumnya, ayat 14: "Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Kita harus hidup dengan Akribos karena Kristus telah membangkitkan kita dari kematian rohani. Tadinya kita adalah zombie rohani. Hidup bergerak kesana-kemari, tapi mati secara rohani. Seperti Lazarus, kita dibangkitkan oleh Allah dari kematian. Itu sebab hidup kita sebagai manusia baru adalah hidup Akribos.

Anda dan saya akan disebut orang bebal, bila kita hidup terus-menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh Setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, Engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang-orang yg belum mengenal Allah. Ayat 11 berkata, "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu."

Konkritnya, hidup dengan Akribos adalah hidup yang dipimpin oleh firman Allah. Hidup yang diarahkan, diarahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Banyak orang yang namanya Sophia, mulai dari Sophia Latjuba, Sophia Loren, dst. karena arti Sophia adalah bijak. Bebal dalam ayat 5:15 berasal dari kata asophia. Kata philosophy berasal dari dua kata philo-sophia yg berarti orang yg mencintai kebenaran. Orang yang suka bijaksana hidup.

Jika kita tengok ke belakang ke tahun 2007, apakah kita sering lengah, terus-menerus menjadi bahan tertawaan Setan? Pemazmur berdoa kepada Tuhan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.... Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

bersambung...

The Truth shall set you free!


Die Wahrheit wird euch frei machen. That's the motto of University of Freiburg in Germany, one of the oldest and most respected universities in the world. It is literally taken from the Scripture: The Truth shall set you free (John 8:32). Top universities in the world were initially started in the 12th century with a passion to study the world and its Creator, something that is made possible by the orderliness with which God has weaved into His designs. However, the emerging rationalism and humanism in the 18th century staged a coup on theology as the queen of science. Since then the secularization process began.

To understand that process and its profound consequences, check this useful website, The Redemption of Reason, a conference for Intentional Christian scholars in conversation with the Secular mindset today. The website contains links to profound writings by concerned Christian scholars from multiple generations, such as Lewis, Malik, Schaeffer, Noll, etc. Their latest conference featured Dr Dallas Willard.

O'Donovan's on Morally Awake

If you fancy weighty theological stuff, here is the 2007 New College Lecture Series by Professor Oliver O'Donovan, entitled Morally awake? Admiration and resolution in the light of Christian faith. Here is a snapshot:

There is one metaphor in Scripture that seems to me to capture the dynamic of moral thinking, and that is “wakefulness”. The metaphor of wakefulness draws our attention to the fact that moral attention faces in more than one direction: to reality as it is, to possibility as it has yet to be realised, and to ourselves as actors. It brings together attentiveness and alertness: attentiveness to the realities that present themselves, alertness in responding to them. So it captures the nuclear core of our moral experience, the sense of being so situated in the world that certain practical dispositions are elicited from us. At the same time it forces us to look from our routine moral experience to the ultimate question of our final destiny.


The full pdf text and mp3 file are available here.

Jan 14, 2008

Computer Games bad for kids

An important piece of the latest research evidence for parents:

"CHILDREN should be banned from playing computer games until the age of seven because the technology is "rewiring'' their brains, it has been claimed. Bombardment of the senses with fast-pace action games is said to be causing a shortening of attention span, harming the ability to learn."

Read the entire article here.

Manusia Lama dan Baru (bag. 2)

Dalam sekolah Kristus, Ia sebagai kepala sekolah berkata, “Ganti bajumu dengan pakaian yang baru!" Pakaian baru tersebut telah Ia sendiri ciptakan bagi kita. Tapi pertanyaannya bagaimana kita mengenakan manusia baru yang Ia telah ciptakan tersebut? Yaitu manusia yang memiliki perpektif, pikiran, perasaan, perilaku, dan prioritas hidup yang berkenan pada Allah.

Jawabanya ada di ayat 23: Kamu dibaharui dalam roh dan pikiranmu. Dalam bahasa Inggris, terjemahannya lebih jelas: Be renewed in the spirit of your mind. Struktur kalimat aslinya seharusnya membuat kalimat tsb berbunyi: And be constantly renewed in the spirit of your mind. Ada beberapa prinsip yang penting yg kita perlu perhatikan dari struktur kalimat ini, dan ini perlu kita mengerti bukan supaya kita menguasai Alkitab, tapi supaya kita dapat hidup menyenangkan Allah.

Pertama, kata ‘be renewed’ ditulis dalam bentuk continuous present tense, menunjukkan bahwa kita secara konstan terus-menerus diperbaharui. Ini berbeda dengan kata “Put on” yang ditulis dalam bentuk Aorist tense yang menunjukkan bahwa ini adalah aksi yang telah selesai terjadi di masa lampau (a past completed action).

Kedua, kata ‘be renewed’ ditulis dalam bentuk passive voice, yang berarti kita tidak memperbarui pikiran kita sendiri, tetapi kita diperbarui oleh sebuah kuasa dari luar diri kita, yaitu kuasa Ilahi Allah Roh Kudus yang menyucikan kita.

Pembaruan pikiran kita terjadi saat pikiran kita dipenuhi oleh kebenaran firmanNya. Berikut beberapa ayat firman Tuhan yang mengajarkan kebenaran ini:

Kol 3:2-3 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Fil 4:8: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Mzm 119:11 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.

Kita tidak akan pernah berhasil menjadi suci, menjadi orang yang berkenan pada Allah, dengan usaha kita sendiri. Allah bekerja dengan dan melalui firmanNya yang lebih tajam dari pedang bermata dua, sanggup memisahkan pertimbangan dan pikiran hati kita. Saat pikiran kita semakin 'saturated' dengan kebenaranNya disanalah Allah perlahan mengubahkan perspektif dan prioritas hidup kita. Kecederungan hati kita, affection kita tidak lagi pada dunia dan segala tawaran manisnya, tetapi kepada Allah.

Manusia Lama vs Manusia Baru

Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:20-24).

Apa artinya menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru?

Ayat paralel teks diatas dari Kolose 3:8-9 berbunyi: “Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui.” Inilah prinsip penafsiran Alkitab yang penting. Yaitu Alkitab ditafsirkan oleh Alkitab sendiri. The best commentary of the Bible is the Bible itself. Dari ayat tersebut, kita mengerti bahwa arti menanggalkan manusia lama bukan hanya soal perilaku. Perhatikan tadi Kolose menulis “karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Manusia lama itu merujuk kepada siapa diri kita, yaitu perspektif hidup kita, sikap hidup kita, prioritas hidup kita, perasaan kita, dan perbuatan kita.

Mengenakan manusia baru dalam Kolose dijelaskan sebagai berikut di ayat 12: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Dalam sekolah Kristus, inilah baju seragam yang harus kita kenakan. Kita belajar dalam sekolah Kristus untuk ditransformasi menjadi orang yang berbelas kasih, bermurah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

Analogi yang paling tepat menggambarkan kebenaran ini adalah peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati selama 4 hari dan tubuhnya mulai membusuk dan bau. Namun Yesus bersabda dan firmanNya tsb membangkitkan Lazarus dari kematian. Yoh 11:44 mencatat “Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannnya masih terikat dengan kain kapan, dan mukanya tertutup dengan kain peluh.”

Anda ingat apa kalimat berikut yang keluar dari mulut Tuhan kita? “BUKALAH KAIN-KAIN ITU, dan biarkanlah ia pergi.” Bukalah kain-kain itu! Tanggalkan baju kuburan itu. Copot baju itu karena itu baju untuk orang mati itu. Karena ia sekarang tidak lagi mati, tetapi hidup.

Kalau Anda dan saya yang tadinya mati secara rohani, dan telah mendengar seruan Kristus yang membangkitkan kita dari kematian, namun kita masih berjalan kesana-kemarin dengan baju kuburan, ada sesuatu yang tidak beres dengan hidup kita. Kita bukan orang mati, mengapa kita masih pakai baju orang mati? Kita sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, mengapa kita masih pakai baju orang tahanan?

Ini konsep yang penting kita mengerti. Itu sebab Ef 4:22-24 ini dijelaskan panjang lebar oleh Paulus dalam 4 pasal kitab Roma, pasal 5,6,7,8. Jika Anda dan saya mengaku telah percaya Kristus, masuk dalam sekolah Kristus, namun masih memiliki perspektif hidup, nilai hidup, sikap hidup, prioritas hidup, dan kebiasaan-kebiasaan yang sama seperti dahulu, tidak ada perubahan, Anda dan saya perlu bertanya, BENARKAH SAYA SUDAH MENGENAL KRISTUS? BENARKAH SAYA SUDAH DISELAMATKAN?

Kristus berkata, “Ganti bajumu”, namun kita cuma merapikan baju kita yang lama, kita cuma tambahin aksesoris di baju kita, pakai pin, pakai dasi, ditutup dengan jaket, namun pakaian lapisan dalam yang lama itu tetap kita kenakan. Artinya: Setelah kenal Kristus, kita tetap adalah manusia yang cinta uang, yang terikat dengan pornografi, yang memandang rendah orang lain, yang suka mengumpat, yang egois, dan seterusnya.
Kita masuk sekolah Kristus tidak dengan hati yang sungguh-sungguh. Hidup yang telah dibenarkan dalam Kristus akan melahirkan kesucian hidup, kecintaan terhadap Allah terhadap pekerjaan Allah, dan kebencian terhadap dosa. Jika setelah dibenarkan dalam Kristus tidak ada kesucian hidup, keselamatan Anda perlu dipertanyakan.

1 Yoh 2:15 mencatat: Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

Mari kita periksa diri kita saat ini. Kita yang mengaku Kristen, tetapi kita tidak pernah punya niat untuk meninggalkan dunia, dosa, dan si Jahat, tidak ada kemauan untuk berubah, Anda perlu meragukan keselamatan Anda. Jangan pikir karena sudah jadi anggota gereja, ikut pelayanan dalam gereja, maka keselamatan Anda terjamin. Perubahan gaya hidup adalah tanda dari keselamatan, buah dari keselamatan.

Anda mungkin lalu berpikir, Wah, rasul Paulus kok muter-muter ya nulisnya? Kenapa ga langsung saja bilang, “ Okay, kamu sekarang sudah Kristen. Tinggalkan kebiasaan burukmu. Bangun kebiasaan yang baik mulai hari ini. Miliki kesucian hidup” Khan lebih jelas, lebih straightforward.

Karena sekolah Allah bukan sekolah orang Farisi, bukan sekolah yang legalistik, bukan sekolah yang berisi peraturan moral yang dipatuhi dengan kemampuan usaha manusia. Mari kita baca lagi ayat 24: mengenakan manusia baru yang telah DICIPTAKAN menurut kehendak Allah. Manusia baru ini bukan usaha kita. Tapi telah diciptakan oleh Allah. Kita tidak diperintahkan untuk mengejar hidup suci, karena Allah telah memberikan itu. Sekolah Allah bukan performance-oriented school, yang muridnya dituntut mati-matian ‘hidup suci’, dan dinilai oleh Allah dengan High Disctinction atau Fail.

Dalam sekolah Allah, kurikulumnya bukan self-improvement program. Tapi kurikulumnya adalah grace-based. Berdasar anugerah. Allah menciptakan manusia baru, dan itu berarti semua perspektif, pikiran, perasaan, dan perilaku yang kita harus kenakan itu sudah Allah ciptakan. Karena Allah Roh Kudus bekerja dalam hati kita sbgmana Paulus jelaskan dalam Efesus pasal 1.

bersambung...

Jan 11, 2008

Alkitab dan Weight-Loss Program

Sebuah artikel menarik dari Washington Post, yg muncul di The Age Online.


Berikut cuplikan artikel tersebut. Komentar singkat saya ada dibawah.
A YEAR ago Baptist minister Steve Reynolds told his Virginia congregation they were praying too much at the altar of fatty foods and put them on a diet. About 250 people, most of them members of Mr Reynolds' Capital Baptist Church, joined his Bod4God weight-loss program that combined Christian principles with a low-fat diet and exercise. They lost 952 kilograms in about 12 months.

"It was wonderful," said Diane Cornell, a homemaker from Falls Church, Virginia, who shed 21 kilograms. "It was like you got your life right with God and the weight just came off."

The program has been so successful that Mr Reynolds is launching the 2008 version of Bod4God with a luncheon on January 19 at the church. As many as 300 people are expected to enrol for the first of three sessions this year.

They also study the Bible, focusing on verses that appear to apply to issues of health and body image, such as Romans 12:1-2 — "I beseech you therefore, brethren, by the mercies of God, that you present your bodies a living sacrifice, holy, acceptable to God, which is your reasonable service."

Mungkin ini jadi contoh yg paling baru dan kocak tentang beda orang Kristen yang Alkitabiah dan Ayatiah. Comot-comot ayat untuk mendukung opini pribadi seperti buku primbon.

Kalau Roma 12:1 dipakai sebagai justifikasi utk program weight-loss, karena tubuh mesti jadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan pada Allah, berarti itu bisa juga dipakai sebagai justifikasi oleh:
- Ethical Tobacco Company Executive: "Smoking is Dangerous to Your Lung, Remember Romans 12:1-2"
- Alcoholic Anonymous Group Leader: "Alcohol ruins your lever. Let us recite again Romans 12:1-2"
- Vegetarian Advocate: "No meat, no fat, no bbq pork; they damage your heart. Romans 12:1-2 rules against it"
- Dermatologist: "No exposure to UV index, it will grow cancerous cell in your body. Reason: Romans 12:1-2"
- Water Saver Ad: "Four-minute once-a-day shower is best to avoid dry skin. It's biblical. See Romans 12:1-2"
- Yoga Teacher: "Christian Yoga is good for your body health. I am supported by the bible Romans 12:1-2"
- Retail Therapist: "Going shopping twice a week rejuvenates your soul and body. Romans 12:1-2 supports that"
- Greenist: "Leave your car. Walk, jog, run to and from work. It's good for your body. Ref: Romans 12:1-2"
- Milk Enthusiast: "Romans 12:1-2 says body is important to God. Drink Milk. It does your body good"
- Shiatsu Massage Specialist: "We fix your tense muscle in no time. Romans 12:1-2 said, Relax your muscle"
- Etc...

Ada cukup banyak buku Kristen yang memberitahu bahaya penafsiran Alkitab yang sembarangan, misal D.A. Carson's Exegetical Fallacies, James Sire's Scripture Twisting, dst, Sayang tidak digubris.

Memang program weight-lost ada bagusnya. Berguna dan mungkin perlu didukung. Cuma tidak perlu memaksa pemakaian ayat-ayat untuk menampilkan kesan itu Alkitabiah, bila itu diambil diluar konteks dan melenceng dari makna yang dimaksud oleh penulis kepada penerima surat yang pertama kali. Lagian, jika gereja fokus pada weight-lost program, bagaimana dampaknya pada issue-issue yg lebih penting. Misalnya, bagaimana kita menjadi lebih serupa Kristus terlepas dari berapa berat badan kita.

Family Christmas Snapshot

Here is a snapshot of our family Christmas dance.
Too bad the actual video is already unavailable.

Jan 9, 2008

Hidup Sepadan dengan Panggilan

Panggilan hidup atau vokasi hidup berasal dari kata vocare (Latin) atau kalein (Yunani). Di Alkitab, baik PL maupun PB, kita menemukan Allah sebagai Caller (Pemanggil) para hambaNya (Abraham, Musa, Yesaya, misalnya) dan umatNya. Dalam PB, umat perjanjian disebut sebagai Ekklesia, yang berasal dari kata ex (dari) dan klesis (dipanggil) dan berarti dipanggil keluar. Itu berarti kita adalah umat yang dipanggil keluar dari dosa oleh Allah untuk melayani Allah di dunia ciptaanNya. Inilah yang biasa disebut sebagai ‘panggilan umum.’

Alkitab juga mengajarkan tentang panggilan khusus. Yaitu bahwa setiap orang Kristen mendapat suara panggilan Allah untuk mempersembahkan seluruh dimensi kehidupan mereka sebagai ibadah mereka kepada Allah. Dengan demikian tidak ada dualisme antara klergi dan awam, rohani dan sekuler, orang Kristen full-time dan part-time, gereja dan dunia.

Dalam bukunya The Call, Os Guinness menggambarkan orang yang hidup sesuai dengan panggilan Allah ini sebagai berikut: “Hidup yang dihidupi menjawab panggilan Kristus sehingga kepribadian, karunia rohani, dan talenta naturalnya mengalami pembaruan sedemikian rupa sehingga semua itu dipakai bukan untuk kepentingan pribadinya, keluarganya, atau bahkan orang lain, tetapi untuk Allah, yang akan meminta pertanggungjawaban darinya atas semua itu.”

Kita tidak dapat memilih panggilan Allah untuk kita. Kita hanya dapat menemukannya, menerimanya, dan menjalankannya.

Guinness menekankan bahwa setiap kali kita berbicara soal panggilan, kita harus bertanya “Siapa yang panggil?” dan “Dipanggil untuk apa?” Dalam kitab Efesus, kita mendapat jawaban kedua pertanyaan tersebut. Pertama, kita mendapat panggilan untuk bertobat dan kembali kepada Allah dalam Kristus Yesus (Efesus 1-3). Kedua, panggilan untuk hidup memuliakan Allah (Ef 1:6,12,14).

Jadi kita dipanggil pertama-tama kepada ‘Seseorang’ sebelum kita dipanggil untuk melakukan ‘sesuatu’. Panggilan untuk memuliakan Allah tersebut dijelaskan oleh Paulus muncul dalam berbagai konteks hidup kita, yaitu gereja (Ef 4:1-16), pribadi (Ef 4:17-32), pernikahan (Ef 5:21-33), rumah tangga (Ef 6:1-4), tempat kerja (Ef 6:5-9), dan masyarakat (Ef 6:10-18).

Berikut definisi (sementara) saya tentang panggilan Allah, berdasar Efesus 1-6:
Panggilan Allah dalam Kristus Yesus kepada umatNya yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang mentransformasi seluruh dimensi hidup mereka agar sepadan dengan panggilan tersebut.

Itulah sebabnya setiap kali seorang Kristen memikirkan perannya sebagai soerang anggota gereja, seorang suami/istri, orang tua, seorang anak, seorang pegawai, seorang profesional, seorang manager, seorang warga negara, maka ia berhadapan dengan sebuah tantangan. Tantangan untuk menginterpretasi seluruh aktivitas yang tercakup dalam berbagai peran tersebut dalam terang panggilan untuk mengasihi Allah dan sesamanya.

Itu berarti saya bukan hanya dipanggil sebagai suami, ayah, dosen, tetapi saya dipanggil sebagai seorang suami, ayah, dan dosen di dalam rangka saya mengasihi Allah dan sesama manusia melalui peran saya tersebut.


Bagan dibawah ini mungkin membantu memperjelas:

New Year's Dilemma

I last blogged Dec 16 2007. Today is Jan 9 2008.
Nearly a month has passed.

During that holiday period, I had too much fun living in a real life, so much so that I found it difficult to find the time to stop and write. But the trappings of the real life at Christmas and its after-effects can be lethal in the absence of deep reflection. If the real life is a bus, I may need to shout, "Stop, I want to get off here and now!" I found blogging to be therapeutic at times, and will try to make it more so in 2008.

Which is why I wanted to play catch up, speaking out my cluttered mind.
Which is why I gave this blog the long-due facelift it deserves.

Problem is... time.

To me, blogging is a luxury. Especially 'naked blogging' (you know, the type that you are reading now, the candid spell-out-what-you-have-in-your-heart type). Though it keeps me honest before God. So I can only try, living this life with a fitting rhythm. Getting on the bus and off the bus.

Dec 16, 2007

The School of Christ: The Prerequisite

Minggu lalu firman Tuhan dalam Ef 4:17-21 mengingatkan kita bahwa tanpa Kristus, kita adalah manusia celaka. Diluar Kristus, setiap manusia secara natural berhadapan dengan masalah yang telah mendarah daging dalam dirinya, yaitu hati yang bebal. Yang kebal. Mati rasa, tanpa sensitivitas terhadap perbuatan dosa, sehingga berbuat dosa bagi kita adalah sesuatu yang sangat normal seperti gosok gigi dua kali sehari. Kita begitu menikmati dosa, terikat pada dosa, diperhamba oleh dosa, sehingga pikiran kita menjadi sia-sia, pengertian kita menjadi gelap, pikiran kita menjadi tumpul. Begitu bobrok moralitas manusia diluar Kristus sehingga hati nurani kita mennjadi bisu. Secara moral, kita menjadi orang tuli, orang budeg yang tidak mampu dan tidak akan pernah mampu mendengar suara Tuhan. Hasilnya apa? kita semakin dalam tenggelam masuk ke pusaran kesia-siaan hidup yang ujungnya tidak lain adalah api neraka.

Namun puji Tuhan. Ia mencurahkan anugerahNya dalam Kristus. Yesus berkata, “Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup” (Yoh 5:25). Saudara, anugerah Allah ini seperti sinar yang menerobos hati kita yang keras, gelap, dan dingin. “Ia juga yang membuat terangNya bercahaya di dalam hati kita” (2 Kor 4:6). Itu sebab Paulus menulis dalam Ef 4:17: “Jangan lagi hidup sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Mengapa?

Ayat 20 dan 21 mencatat “Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus.” Apa yang Paulus katakan? Kita sekarang telah masuk dalam proses belajar dalam sekolah Kristus. Hari ini kita akan melihat dua hal yang kita perlu ketahui untuk belajar dalam sekolah Kristus tersebut. Yang pertama, prerequisite atau prasyaratnya. Kedua, kurikulumnya.

Saudara, ayat 22-24 dalam Efesus 4 ini berlaku bagi orang Kristen. Untuk dapat masuk ke sekolah Kristus, belajar tentang Kristus, syaratnya bukan angka rapormu mesti bagus. Rapor perbuatan baik, rapor moralitas, rapor keanggotaan gereja tertentu, rapor tingkah laku agama, semua itu tidak akan membuat kita belajar tentang Kristus.

Anda dan saya tidak akan masuk ke sekolah Kristus kalau bukan Allah yang beranugerah memilih kita. Anda dan saya baru dapat mendaftar di sekolah Kristus apabila kita telah dengar-dengaran terhadap suara Kristus Yesus yang membangkitkan kita dari kematian rohani. Itu sebabnya Yesus berkata, “Barangsiapa mempunya telinga untuk mendengar, hendaklah Ia mendengar” Baru setelah itu kita bisa mengikuti program sekolah Kristus yang akan makan waktu seumur hidup.

Dec 13, 2007

Lari kepada TUHAN !

“Nama Tuhan adalah menara yang kuat. Kesanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat” (Amsal 18:10)

Beda orang Yahudi dengan orang Indonesia adalah orang Yahudi pada umumnya memiliki nama yang sangat penuh makna, misalnya Daniel (Allah adalah hakimku), Yeremia (Allah akan meninggikan), sementara banyak orang Indonesia memiliki nama tanpa makna yang mendalam, misalnya Budi, Iwan, Wati (maaf deh kalau ada yang namanya Budi, Iwan, Wati. Bahkan nama saya sendiri tidak ada artinya kok).

Bagi orang Yahudi nama mencerminkan karakter orang tersebut. Itu sebab Allah juga memperkenalkan diri kepada umat Israel secara progresif dengan berbagai nama dalam Perjanjian Lama. Dalam ayat diatas, pengamsal menulis bahwa nama-nama Tuhan tersebut adalah menara yang kuat. Di zaman dahulu, menara dibangun sebagai benteng pertahanan kota. Ketika musuh menyerang, maka penduduk serta-merta berlari menyelamatkan diri mereka ke menara tersebut untuk berlindung. Kota yang tidak memiliki menara mudah sekali diduduki musuh, karena dari menara itulah semua strategi bertahan dan menyerang diluncurkan.

Bagaimana orang benar berlari kepada menara tersebut? Orang benar dalam ayat diatas bukan hanya berarti orang yang telah dibenarkan oleh Allah dalam Kristus Yesus, tapi orang yang terus menerus hidup benar di hadapan Allah. Saat badai kehidupan menerpa orang tersebut, ia melepaskan segala sesuatunya dan berlari kepada Allah dalam doa dan iman.

Hasilnya? Ia menjadi selamat! Selamat disini berarti bukan berarti masalah hidup menjadi hilang, dan semuanya kembali lancar. Tetapi selamat disini berarti mendapat perspektif dan pengharapan yang baru. Kita dimampukan untuk menghadapi masalah tersebut karena Allah dan bersama dengan Allah.

Itulah sebabnya kita perlu mengenali Allah kita, yang memperkenalkan dirinya kepada umat Israel dengan beberapa nama sebagai berikut:

1. JEHOVAH-JIREH: "The Lord will Provide." Gen. 22:14.
2. JEHOVAH-ROPHE: "The Lord Who Heals" Ex. 15:22-26.
3. JEHOVAH-NISSI: "The Lord Our Banner" Ex. 17:15.
4. JEHOVAH-M'KADDESH: "The Lord Who Sanctifies" Lev. 20:8.
5. JEHOVAH-SHALOM: "The Lord Our Peace" Judges 6:24.
6. JEHOVAH-TSIDKENU: “The Lord Our Righteousness” Jeremiah 23:6
7. JEHOVAH-ROHI: “The Lord is my shepherd” Psalm 23:1

Jika kita melihat setiap nama diatas dalam konteks ayat dimana nama tersebut muncul, kita akan melihat bahwa Allah memperkenalkan diriNya dalam konteks yang tepat. Misal, Jehovah-Jireh muncul dalam konteks dimana Abraham diperintahkan Allah untuk mempersembahkan Ishak anak kesayangannya. Ketika Abraham dengan ketaatannya yang luar biasa hendak melaksanakan perintah Allah yang tidak masuk akal sehat itu, malaikat Tuhan menghentikannya. Lalu tiba-tiba muncullah seekor domba jantan untuk menggantikan Ishak sebagai korban bakaran. Dari sana Abraham mengerti sebuah pelajaran yang hari ini kita harus ingat tentang Allah kita, yaitu pada waktu kita taat pada Allah meski kita tidak yakin bagaimana kebutuhan hidup kita akan tercukupi, ingatlah bahwa Allah akan menyediakan.

Itu sebabnya pengamsal menulis orang benar berlari kepada Allah yang sedemikian. Menarik diayat selanjutnya pengamsal menulis ‘Kota yang kuat bagi orang kaya adalah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya’ (Amsal 18:11). Betapa kontras!

Yang satu menara, dan yang lain kota. Yang satu nama Allah, dan yang lain harta benda. Yang satu adalah kepastian mendapat selamat, dan yang lain hanyalah menurut anggapannya. Orang benar berlari kepada benteng pertahanan yang terbukti kokoh yaitu Allah YHWH. Orang fasik berlari kepada tempat berlindung yang dia pikir dapat diandalkan yaitu kekayaannya.

Hari ini kemana kita berlari saat bermasalah? Kepada rekening bank kita, deposito, super-annution kita, atau kepada Allah? Kapan kita terakhir datang kepada Allah dalam doa-doa kita dan beroleh perspektif baru melihat masalah & kekuatan baru untuk melewatinya?

Persoalan kita: kita hanya tahu siapa Allah kita sebatas teori, sebatas pengetahuan otak. Rasul Paulus menulis pada Timotius ‘Aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan’ (2 Tim 1:12). Dia bukan hanya tahu Allah, tapi dia yakin akan Allah. Yang pertama dia memahami siapa Allah, yang kedua siapa Allah menguasai dirinya. Itu sebab ia berani menderita sebagai rasul dan tidak malu atas penderitannya.

Menjelang akhir tahun 2007 dan memasuki tahun 2008 ini, mari kita berdoa agar Allah memberi kita pengalaman2x yg mungkin tidak enak agar kita paham bahwa ‘Umat yg mengenal Allahnya akan tetap kuat & akan bertindak’ (Dan 11:32b).

Incarnation

The Maker of man became man

that He, Ruler of the stars,
might be nourished at the breast;

that He, the Bread,
might be hungry;

that He, the Fountain,
might thirst;

that He, the Light,
might sleep;

that He, the Way,
might be wearied by the journey;

that He, the Truth,
might be accused by false witnesses;

that He, the Judge of the living and the dead,
might be brought to trial by a mortal judge;

that He, Justice,
might be condemned by the unjust;

that He, Discipline,
might be scourged with whips;

that He, the Foundation,
might be suspended upon a cross;

that Courage might be weakened;

that Security might be wounded;

that Life might die

~ St. Augustine, Sermons on the Liturgical Seasons, Trans. Sister Mary Sarah Muldowney, R.S.M., Vol. 38 in The Fathers of the Church, ed. Roy Joseph Deferrari (New York: Fathers of the Church, Inc.), p. 28.

Sleeping with a Mosquito

If you think something small cannot make a difference,
try going to sleep with a mosquito in the room.
~anon

Oct 26, 2007

When winning is losing...

I stumbled upon this interesting article last night.

In it, the author argues that our advances in the church (which are great in and of themselves) have weakened our preaching that is supposedly God-glorifying. Below is my summary of the first three (and in my opinion, most important) advances expressed in my own words:

1. The wide availability of the tools of exposition which preoccupy preachers to the extent that these tools stop becoming our tools and turning into our 'master', so much so that our sermons become dry, mechanistic, and formulaic.

2. The assumed task to make sermon simple and clear often ignores the rich insights in God's inspired words. Christians then have an eschewed understanding of even key concepts such as 'faith in Christ'. Einstein once challenged: How to make things simple, but not over-simplified.

3. The efforts to welcome and retain non-believers in the church services often compels us to dumb down in our preaching, making it as warm, hearer-friendly, non-offensive, non-apologetic, as non-patronizing as possible. No wonder the words hell, sin, repentance, the cross are often low in counts compared to words like forgiveness, happiness, self-confidence, self-esteem, and so on.

Read the entire text here:
http://www.theologian.org.uk/pastoralia/embersofpreaching.html

Oct 20, 2007

Dunia sebagai Kuburan Masal

“I see dead people”
“In your dreams?”
Cole shakes his head no.
“While you're awake?”
Cole nods.
“Dead people like, in graves? In coffins?”
“Walking around like regular people. They don't see each other. They only see what they want to see. They
don't know they're dead.”
“How often do you see them?”
“All the time. ”

Percakapan dari film Sixth Sense diatas mungkin terdengar agak menakutkan saat kita menonton filmnya. Namun percapakan tersebut sebenarnya mengandung kebenaran yang dinyatakan oleh Alkitab dalam Efesus 2:1-2 tentang manusia: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.”

Alkitab menyatakan bahwa dunia penuh dengan orang-orang mati rohani yang berjalan, beraktivitas, dan berkarya setiap hari dengan hati yang memberontak kepada Allah. Termasuk Anda dan saya sebelum kita mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Itu sebab dalam arti rohani dunia kita bagaikan sebuah kuburan masal berukuran global yang dihuni oleh ratusan juta tubuh yang telah membeku, tidak mampu berespon terhadap stimuli apapun. Kemanapun kita menoleh, kita seharusnya berkata seperti Coles dalam film Sixth Sense diatas: “I see dead people!” Mereka mati rohani karena telinga mereka tidak dapat mendengar suara Allah, mata mereka tidak dapat melihat kemuliaan Allah, dan tangan mereka tidak dapat meraba kebaikan Allah padahal suara Allah, kemuliaan Allah, dan kebaikan Allah telah dinyatakan dalam karya ciptaan Allah (Roma 1:19-21).

Namun Anda akan dianggap aneh, kuper, picik, ofensif bahkan gila kalau Anda berkata kepada rekan kerja Anda di kantor: “Hmm . . . tahu tidak, dimata Allah loe sebenarnya kayak orang mati dan akan menerima murka Allah.”

Jika abad ke-20 kekristenan ditolak karena sulit diterima oleh akal, di abad ke-21 kekristenan ditolak karena ajaran-ajarannya yang dianggap sangat tidak toleran. Tapi inilah firman Allah bagi manusia berdosa. Berita yang perlu disampaikan pada setiap individu yang hidup di luar Kristus, termasuk mereka yang hidup bermoral, beramal, dan berdampak positif bagi orang lain (dokter, filantrofis, sukarelawan, tokoh agama, dst.). Bukan dengan arogansi, tetapi dengan hati yang penuh compassion.

Puji Tuhan berita duka kematian tersebut tidak berakhri menyedihkan. Sebagaimana Kristus dalam Yohanes 11:43-44 berseru dengan suara keras kepada seorang yang telah empat hari dikubur dan berbau busuk: “Lazarus, keluar!” untuk membangkitkannya, demikian pula Allah “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Efesus 2:5). Inilah the great turning point. Karena kasih karuniaNya, kita diberi iman sebagai alat menerima keselamatan Allah berdasarkan pekerjaan Kristus yang telah genap di atas salib. Berita ini pun perlu kita sampaikan kepada manusia berdosa, sambil terus mengingat (Efesus 2:11) bahwa itulah juga kisah hidup kita yang dahulu sebelum kita mengenal Kristus.

Oct 15, 2007

Apa Artinya Menjadi Orang Kristen?

Saat saya masih duduk di bangku SMA, tidak berapa lama setelah saya menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan saya, seorang teman di sekolah bertanya, “Eh, sekarang khan lu udah jadi orang Kristen, apa ada bedanya lu yang dulu dan yang sekarang?” Karena saat itu saya masih lugu (lucu dan goblok), maka saya cuma bisa jawab begini: “Ga tahu deh. Pokoknya gua sekarang kalo mati pasti masuk surga, bukan neraka!”

Beberapa tahun kemudian, saya baru ngerti bahwa iman Kristen bukan cuma soal pindah jurusan dari neraka ke surga seperti orang ganti jurusan bis kota. Rasul Paulus dalam Efesus 1 menjelaskan apa artinya menjadi orang Kristen, apa keunikan dan implikasi dari iman percaya kepada Kristus. Ada 7 point yg relevan:

1. Allah Bapa telah memilih kita untuk mengenal Kristus sejak sebelum dunia dijadikan. Allah menentukan dalam kekekalan bahwa kita dipilih untuk diselamatkan dalam Kristus Yesus. Keputusan Allah ini bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Namun Allah memilih kita bukan karena kita baik atau pandai atau cantik/ganteng (atau jahat atau bodoh atau jelek). Pemilihan Allah tidak didasarkan atas diri kita, tapi atas kerelaan kehendakNya yang sempurna

2. Allah Bapa menentukan agar dalam Kristus Yesus kita beroleh pengampunan atas dosa-dosa kita oleh penebusan darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib, sekali untuk selamanya.

3. Allah Anak mengutus Roh Kudus yang memungkinkan kita untuk percaya kepada Kristus. Karena Roh Kudus, kita menjadi hak milik Allah, bukan lagi Setan, sehingga kita tidak harus hidup dibawah kuasa belenggu dosa. Memang orang Kristen tetap bisa berdosa selama masih hidup di dunia, namun karena Roh Kudus kita sekarang dimampukan untuk hidup berjuang melawan Setan dan untuk menang terhadap dosa, yaitu bila hidup kita dipimpin Roh Kudus.

4. Allah Bapa memberi Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya sebagai jaminan (down payment) supaya kita dapat mengecap warisan anugerah rohani yang kita akan terima seluruhnya saat kita bertemu dengan Allah nanti. Jadi beriman dalam Kristus memberi makna baru tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan kita karena apa yang Allah kerjakan.

5. Allah Bapa memilih, Allah Anak menebus, dan Allah Roh Kudus memeteraikan. Ketiga pribadi Allah tritunggal bekerja dalam diri orang percaya untuk satu tujuan: Agar kemuliaan Allah dinyatakan dengan jelas dan terang melalui keselamatan kita dan buah-buah keselamatan yang kita hasilkan secara natural dalam hidup kita. Jadi iman dalam Kristus berasal dari kehendak Allah dan berakhir untuk kemuliaan Allah

6.Setelah percaya Kristus, kita memulai sebuah perjalanan iman untuk semakin mengerti segala kekayaan berkat rohani yang kita terima dalam Kristus. Perjalanan ini perjalanan seumur hidup. Namun semakin kita mengerti betapa mulia panggilan kita dalam Kristus, semakin hidup kita diubahkan, dibentuk, ditransformasi sehingga kita semakin pantas disebut sebagai anak Allah. Mengapa banyak orang Kristen yang hidupnya masih tidak beres? Karena mereka belum mengerti kasih Allah yang merelakan Anak-Nya mati di atas kayu salib yang didalamnya terkandung segala kekayaan kemuliaan Allah dan berkat rohani yang dibutuhkan manusia baik untuk hidup di dunia dan di surga kelak.

7. Beriman kepada Kristus berarti bahwa kita yang tadinya secara natur (a) mati rohani bagaikan sebuah mayat sekarang dihidupkan bersama Kristus, (b) diperbudak oleh Setan, dunia, dan hawa nafsu daging sekarang dimerdekakan untuk hidup penuh dengan sukacita dalam Allah, dan (c) menderita hukuman kekal dibawah murka Allah sekarang menikmati kekayaan karunia Allah yang berlimpah, yang akan dinyatakan dengan menyeluruh di surga nanti.

Itulah iman Kristen. Luar biasa memang. Tidak heran setiap orang Kristen berkumpul, kita tidak henti-henti bernyanyi memuji Allah Tritunggal.