Jika kotbah di bukit bicara tentang karakter, tentang kualitas hidup orang Kristen, apakah implikasi "Miskin dihadapan Allah" atau kebangkrutan spiritual tersebut terhadap citra diri kita (self-image).
Pengakuan bangkrut rohani dihadapan Allah TIDAK berarti kita mengingkari citra diri kita yang dicipta berdasar rupa dan gambar Allah. Karena setiap manusia adalah "Imago Dei", maka kita memiliki kemampuan untuk membuat pilihan moral, untuk mengasihi dan dikasihi, untuk kreatif mengelola dunia dengan setiap talenta, tenaga, dan uang yang Allah titipkan pada kita. Yesus berkata, Berbahagialah mereka yang miskin dihadapan Allah, tidak berarti berbahagialah mereka yang rendah diri, yang minder, yang merasa tidak mampu apa-apa, karena itu berarti menghina Allah yang mencipta kita dengan berbagai potensi. Ayat tersebut tidak mengajarkan orang Kristen untuk menjadi orang yang minder.
Prinsip ini dapat kita lihat dalam diri Musa. Dalam Keluaran pasal 3-4, ketika Allah memanggil dia untuk memimpin umat Israel keluar dari Mesir, ia mencoba mengelak dengan berkata, "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Setelah Allah menjawab keberatan Musa, Musa mencoba berdalih lagi, "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Allah menjawabnya dengan keras, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." Bukannya malu hati, mendengar sabda Allah tersebut Musa malah berseloroh, "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." Mendengar jawaban tesebut, Keluaran 4:4 mencatat "MAKA BANGKITLAH MURKA TUHAN TERHADAP MUSA."
Yang menarik dalam bagian ini adalah bahwa Allah marah terhadap Musa bukan karena Musa rendah hati dan berkata bahwa dia tidak mampu, tetapi karena ia tidak beriman kepada Allah. Pelajaran yang berharga bagi Musa dan kita disini adalah bahwa Allah mengingatkan kita: Jangan melihat ke dalam dirimu sendiri. Tapi lihatlah kepada-Ku. Jika engkau melihat kepada dirimu sendiri, pada talenta, kemampuan, dan pengalamanmu, pasti engkau akan mati. Tetapi jika engkau melihat kepada-Ku, engkau akan hidup. Yang penting bukan lidahmu (seberapun hebatnya itu lidah berputar mengubahkan hidup banyak orang), tetapi Allah yang mencipta lidah. Yang penting bukan pengalamanmu, tetapi Allah yang telah menyertaimu dalam pengalaman2x tersebut dan yang akan terus menyertaimu.
Dengan demikian, pengakuan kebangkrutan rohani BERARTI pengakuan bahwa segala talenta, keberhasilan, dan pengalaman sebesar apapun yang kita miliki bukan saja tidak akan pernah cukup untuk memperkenan hati Allah, tetapi malah akan membuat Allah muak. Yesus menegur dengan keras gereja Laodikia: "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang." Miskin rohani berarti tidak memiliki segala sesuatu dalam diri sendiri yang bisa diandalkan. Tidak lagi merasa diri benar (self-righteous), merasa diri hebat (self-importance), merasa diri mampu (self-confidence), dst.
Miskin rohani menolong kita untuk memiliki citra diri yang tepat sesuai dengan yang Allah inginkan. Disatu pihak, kita mengakui bahwa Allah telah memberi kita berbagai potensi dan talenta. Tidak mengakuinya membuat Allah marah. Di lain pihak, kita mengakui bahwa potensi dan talenta tersebut tidak berarti apa-apa di luar Allah, karena natur dan efek dosa. Justru potensi dan talenta tersebut menghantar kita untuk menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah. Tidak ada secuil pun dalam diri saya yang dapat saya banggakan dihadapan Allah.
Showing posts with label poor in spirit. Show all posts
Showing posts with label poor in spirit. Show all posts
May 10, 2008
May 8, 2008
Berbahagialah Mereka yang Bangkrut!
Yesus memulai kotbah di bukit dengan kalimat yang mengagetkan murid-murid-Nya dan orang-orang banyak yang ikut mendengar: Berbahagialah mereka yang sadar akan kebangkrutan rohaninya!
Itulah arti "poor in spirit" atau "miskin di hadapan Allah." Yesus tentu tidak bermaksud bilang "Berbahagialah orang yang Mbogayot" (Mboten gadha yotho). Terjemahan: Tidak ada uang. Alias tongpes. Kantong Kempes. Kok yakin? Well, mari kita pikirkan logikanya. Kalau kita harus dalam kondisi mbogayot untuk dapat menerima perkenan Allah, betapa berdosa orang Kristen yang memberi uang kepada orang miskin. Sebaliknya, kalau Anda mau orang mendapat perkenan Allah, maka Anda harus berusaha sedemikian rupa untuk mengambil uang orang lain. “Sorry ya, saya menipu-mu dalam bisnis, dan menilep uangmu dalam kesempatan yang baru lalu. Tapi jujur saja, semua itu saya lakukan demi supaya engkau diberkati Allah.” Konyol bukan? Jadi jelas miskin dihadapan Allah bukan berarti miskin harta benda.
Miskin dihadapan Allah ini berarti kesadaran bahwa kita bangkrut rohani. Sadar bahwa kita bokek spiritual. Sebuah kesadaran bahwa kita orang berdosa tidak layak berdiri dihadapan Allah yang suci. Dan tidak memiliki apapun dalam diri kita yang cukup untuk memperkenan Allah. Pernyataan pertama dari 8 pernyataan bahagia Kristus ini mengajarkan kepada kita keselamatan karena anugerah. Pertanyaannya: Bagaimana pernyataan ini berlaku bagi orang percaya dan orang yang tidak percaya? Bagaimana konkritnya?
Ilustrasi yang menolong kita menjawab pertanyaan tersebut diberikan Yesus dalam Lukas 18:10 tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam sikap doa mereka kepada Allah. Pertanyaan pertama: Apakah orang Farisi ini telah mengenal Kristus? Jawabannya tidak. Perhatikan, meskipun mereka berperilaku seperti orang Kristen, tetapi mereka menganggap tindakan agama dapat menyenangkan Allah. Jangan heran Saudara kalau hari ini di gereja2x Tuhan banyak orang Farisi karena fenomena ini sudah terjadi sejak abad-abad pertama. Pertanyaan kedua, bgmana orang Farisi tersebut menunjukkan keangkuhannya merasa diri benar, suci dihadapan Allah? Jawabannya di ayat 11. Di dalam hatinya! Ini sangat subtle bukan? Di dalam hati, ia merasa hebat. Tidak ada orang yang tahu. Mereka tidak mengumbar keluar, tapi menginternalisasi keyakinan bahwa ia bisa membuat Tuhan tersenyum bangga terhadap dirinya dengan tingkah laku agamanya. Padahal semua itu kebusukan hati yang memuakkan Allah dan berakhir dengan penolakan Allah. Ayat 14 Yesus berkata “Aku berkata kepadamu: “Orang ini, pemungut cukai, pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu, orang Farisi, tidak.”
Bagi Orang Yang Belum Percaya
JIKA seorang yang belum percaya berusaha untuk mendapat keselamatan melalui agama, perbuatan baik, dan seterusnya, ia akan terus berputar-putar dalam usahanya tersebut untuk mendapatkan keselamatan. Semakin ia merasa bahwa ia sudah menyenangkan Allah dengan usahanya, semakin ia terjerumus ke dalam persepsi bahwa tingkah laku religiusnya akan menyenangkan Allah. Dan hanya karena anugerah Allah, ia dapat menjadi sadar bahwa semua usahanya tersebut di mata Allah tidak lebih dari sehelai kain kotor yang sia-sia. Itulah yang dialami oleh Martin Luther.
Sebagai seorang biarawan, Luther dengan tekun berdoa, baca Alkitab, berpuasa, bahkan menyiksa diri agar dapat memperkenan hati Allah dan beroleh keselamatan. Dia pergi berziarah ke Roma, dan merangkak menapaki seluruh 28 anak tangga dari Scala Sancta, bukan dengan kaki, tapi dengan lutut! Namun tetap dia merasa ada sebuah keraguan yang besar dalam dirinya, apakah dia akan masuk surga. Meskipun dia berusaha mengakui semua dosanya sampai yang kecil-kecil sekalipun, ia tetap tidak yakin bahwa semuanya telah dia akui. Sampai seorang mentor dia di kuil mengatakan ke Luther, bagaimana kalau kamu bunuh orang, supaya kamu dapat mengakui sebuah dosa yg besar dihadapan Tuhan?
Luther selalu bertanya dalam dirinya: Bagaimana kalau ada dosa yang kita tidak akui di hadapan Tuhan karena kita tidak sadar bahwa kita telah melakukannya, dan untuk itu kita lalu dihukum kekal? Hal ini berkecamuk dengan hebat dalam dirinya. Apakah aku telah sungguh-sungguh menyesal dalam pengakuan dosaku? Ataukah pertobatanku dimotivasi oleh rasa takut?
Pertanyaan ini menghantui Luther bahkan sampai tahun 1512 ketika ia menjadi Profesor Alkitab di Universitas Wittenberg di Jerman. Dia memberi kuliah-kuliah dari Alkitab, dan tahun 1515 sampai kepada kitab Roma. Dan dia sangat terganggu ketika membaca dalam Roma 1:17, bahwa kebenaran Allah dinyatakan dalam Injil. Siang malam dia memikirkan kalimat tersebut: Jika kebenaran Allah adalah keadilan Allah yang diwujudkan dalam penghukuman Allah terhadap orang-orang berdosa, bagaimana mungkin itu menjadi bagian dari Injil, bagaimana mungkin itu membawa kepada keselamatan?
Luther berpikir: Allah yang adil adalah Allah yang secara adil akan menghukum mereka yang berdosa. Meskipun aku seorang biarawan, aku tahu aku berdiri dihadapan Tuhan sbg seorang berdosa dengan hati nurani yang sangat terganggu, dan aku samasekali tidak pasti bahwa segala hal yg aku perbuat dapat meredam kemarahan Allah terhadap dosa. Dia terus memikirkan kalimat tersebut sampai suatu hari Allah berkenan menyingkapkan kebenaran tersebut kepadanya: kebenaran Allah adalah kebenaran yang karena anugerah dan belas kasihan Allah, telah membenarkan kita oleh iman. Melalui pemahaman ini, ia merasa lahir baru, dan seluruh kitab suci menjadi jelas bagi Dia. Kebenaran Allah yang dinyatakan ketika Allah membenarkan manusia berdosa hanya karena anugerah, dan hanya di dalam Kristus, dan hanya melalui iman.
Jika seorang yang belum percaya mampu memiliki kesadaran bahwa upayanya memperkenan Allah tidak cukup, kemampuan itu sendiri adalah sebuah anugerah dari Allah. Karena hari ini banyak orang hidup seperti orang Farisi. Kepada jemaat Korintus, gereja yang dipenuhi dengan orang-orang yang bobrok moral tapi tidak merasa bangkrut rohani, rasul Paulus menulis “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup juga untuk mereka yang akan binasa." Siapa mereka yang baginya Injil tertutup, yang akan binasa? Ayat 4 menjawab: "Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambar Allah.”
Bagi Orang yang Sudah Percaya
Orang yang sudah percaya mestinya menunjukkan kualitas hidup bangkrut total dihadapan Allah, bahkan lebih dari sebelum ia mengenal Kristus. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia menyadari ketidakmampuannya untuk memperkenan Allah dengan kekuatan sendiri. Semakin ia hidup bertaut dengan Allah, semakin tumbuh kepekaan betapa licik hati manusia (Yer 17:9), yaitu dirinya sendiri. Target utama pendengar kotbah di bukit adalah orang percaya, yaitu para murid Kristus. Dengan keras, Yesus berkata kepada para murid ini: “Jika hidup keagamaanmu, tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga.” Inilah ayat inti dari seluruh kotbah di Bukit.
Orang-orang yang Allah pakai dalam Alkitab menunjukkan kemiskinan rohani mereka. Yesaya, ketika melihat keagungan Allah, spontan berkata, “Celakalah aku! Aku binasa!” (Yesaya 6:5). Yohanes Pembaptis mengaku bahwa untuk melepas tali kasut Kristus saja ia tidak pantas (Lukas 3:16). Kepada Timotius, Paulus berkata tentang dirinya bahwa ialah yang paling berdosa dari antara orang-orang berdosa (1 Tim 1:15).
Mari kita periksa hati kita. Jangan-jangan meski sudah percaya, kita masih seperti orang Farisi. Orang lain tidak tahu. Di luar kita atur, kita rekayasan sikap dan perilaku kita untuk memproyeksikan image bahwa kita orang yang rohani. Tapi dalam hati. Dalam hati kecil kita, kita membanggakan diri kita, keberhasilan kita, pengalaman kita, karakter kita, dst. Kalau Anda dan saya masih seperti ini, tidak peduli berapa lama kita sudah aktif pelayanan di gereja, tidak peduli betapa tinggi jabatan struktural kita di denominasi gereja, tidak peduli betapa besar uang sumbangan kita untuk pekerjaan Tuhan, Yesus berkata kepada kita "Sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga."
DOA
Itulah arti "poor in spirit" atau "miskin di hadapan Allah." Yesus tentu tidak bermaksud bilang "Berbahagialah orang yang Mbogayot" (Mboten gadha yotho). Terjemahan: Tidak ada uang. Alias tongpes. Kantong Kempes. Kok yakin? Well, mari kita pikirkan logikanya. Kalau kita harus dalam kondisi mbogayot untuk dapat menerima perkenan Allah, betapa berdosa orang Kristen yang memberi uang kepada orang miskin. Sebaliknya, kalau Anda mau orang mendapat perkenan Allah, maka Anda harus berusaha sedemikian rupa untuk mengambil uang orang lain. “Sorry ya, saya menipu-mu dalam bisnis, dan menilep uangmu dalam kesempatan yang baru lalu. Tapi jujur saja, semua itu saya lakukan demi supaya engkau diberkati Allah.” Konyol bukan? Jadi jelas miskin dihadapan Allah bukan berarti miskin harta benda.
Miskin dihadapan Allah ini berarti kesadaran bahwa kita bangkrut rohani. Sadar bahwa kita bokek spiritual. Sebuah kesadaran bahwa kita orang berdosa tidak layak berdiri dihadapan Allah yang suci. Dan tidak memiliki apapun dalam diri kita yang cukup untuk memperkenan Allah. Pernyataan pertama dari 8 pernyataan bahagia Kristus ini mengajarkan kepada kita keselamatan karena anugerah. Pertanyaannya: Bagaimana pernyataan ini berlaku bagi orang percaya dan orang yang tidak percaya? Bagaimana konkritnya?
Ilustrasi yang menolong kita menjawab pertanyaan tersebut diberikan Yesus dalam Lukas 18:10 tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam sikap doa mereka kepada Allah. Pertanyaan pertama: Apakah orang Farisi ini telah mengenal Kristus? Jawabannya tidak. Perhatikan, meskipun mereka berperilaku seperti orang Kristen, tetapi mereka menganggap tindakan agama dapat menyenangkan Allah. Jangan heran Saudara kalau hari ini di gereja2x Tuhan banyak orang Farisi karena fenomena ini sudah terjadi sejak abad-abad pertama. Pertanyaan kedua, bgmana orang Farisi tersebut menunjukkan keangkuhannya merasa diri benar, suci dihadapan Allah? Jawabannya di ayat 11. Di dalam hatinya! Ini sangat subtle bukan? Di dalam hati, ia merasa hebat. Tidak ada orang yang tahu. Mereka tidak mengumbar keluar, tapi menginternalisasi keyakinan bahwa ia bisa membuat Tuhan tersenyum bangga terhadap dirinya dengan tingkah laku agamanya. Padahal semua itu kebusukan hati yang memuakkan Allah dan berakhir dengan penolakan Allah. Ayat 14 Yesus berkata “Aku berkata kepadamu: “Orang ini, pemungut cukai, pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah, dan orang lain itu, orang Farisi, tidak.”
Bagi Orang Yang Belum Percaya
JIKA seorang yang belum percaya berusaha untuk mendapat keselamatan melalui agama, perbuatan baik, dan seterusnya, ia akan terus berputar-putar dalam usahanya tersebut untuk mendapatkan keselamatan. Semakin ia merasa bahwa ia sudah menyenangkan Allah dengan usahanya, semakin ia terjerumus ke dalam persepsi bahwa tingkah laku religiusnya akan menyenangkan Allah. Dan hanya karena anugerah Allah, ia dapat menjadi sadar bahwa semua usahanya tersebut di mata Allah tidak lebih dari sehelai kain kotor yang sia-sia. Itulah yang dialami oleh Martin Luther.
Sebagai seorang biarawan, Luther dengan tekun berdoa, baca Alkitab, berpuasa, bahkan menyiksa diri agar dapat memperkenan hati Allah dan beroleh keselamatan. Dia pergi berziarah ke Roma, dan merangkak menapaki seluruh 28 anak tangga dari Scala Sancta, bukan dengan kaki, tapi dengan lutut! Namun tetap dia merasa ada sebuah keraguan yang besar dalam dirinya, apakah dia akan masuk surga. Meskipun dia berusaha mengakui semua dosanya sampai yang kecil-kecil sekalipun, ia tetap tidak yakin bahwa semuanya telah dia akui. Sampai seorang mentor dia di kuil mengatakan ke Luther, bagaimana kalau kamu bunuh orang, supaya kamu dapat mengakui sebuah dosa yg besar dihadapan Tuhan?
Luther selalu bertanya dalam dirinya: Bagaimana kalau ada dosa yang kita tidak akui di hadapan Tuhan karena kita tidak sadar bahwa kita telah melakukannya, dan untuk itu kita lalu dihukum kekal? Hal ini berkecamuk dengan hebat dalam dirinya. Apakah aku telah sungguh-sungguh menyesal dalam pengakuan dosaku? Ataukah pertobatanku dimotivasi oleh rasa takut?
Pertanyaan ini menghantui Luther bahkan sampai tahun 1512 ketika ia menjadi Profesor Alkitab di Universitas Wittenberg di Jerman. Dia memberi kuliah-kuliah dari Alkitab, dan tahun 1515 sampai kepada kitab Roma. Dan dia sangat terganggu ketika membaca dalam Roma 1:17, bahwa kebenaran Allah dinyatakan dalam Injil. Siang malam dia memikirkan kalimat tersebut: Jika kebenaran Allah adalah keadilan Allah yang diwujudkan dalam penghukuman Allah terhadap orang-orang berdosa, bagaimana mungkin itu menjadi bagian dari Injil, bagaimana mungkin itu membawa kepada keselamatan?
Luther berpikir: Allah yang adil adalah Allah yang secara adil akan menghukum mereka yang berdosa. Meskipun aku seorang biarawan, aku tahu aku berdiri dihadapan Tuhan sbg seorang berdosa dengan hati nurani yang sangat terganggu, dan aku samasekali tidak pasti bahwa segala hal yg aku perbuat dapat meredam kemarahan Allah terhadap dosa. Dia terus memikirkan kalimat tersebut sampai suatu hari Allah berkenan menyingkapkan kebenaran tersebut kepadanya: kebenaran Allah adalah kebenaran yang karena anugerah dan belas kasihan Allah, telah membenarkan kita oleh iman. Melalui pemahaman ini, ia merasa lahir baru, dan seluruh kitab suci menjadi jelas bagi Dia. Kebenaran Allah yang dinyatakan ketika Allah membenarkan manusia berdosa hanya karena anugerah, dan hanya di dalam Kristus, dan hanya melalui iman.
Jika seorang yang belum percaya mampu memiliki kesadaran bahwa upayanya memperkenan Allah tidak cukup, kemampuan itu sendiri adalah sebuah anugerah dari Allah. Karena hari ini banyak orang hidup seperti orang Farisi. Kepada jemaat Korintus, gereja yang dipenuhi dengan orang-orang yang bobrok moral tapi tidak merasa bangkrut rohani, rasul Paulus menulis “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup juga untuk mereka yang akan binasa." Siapa mereka yang baginya Injil tertutup, yang akan binasa? Ayat 4 menjawab: "Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambar Allah.”
Bagi Orang yang Sudah Percaya
Orang yang sudah percaya mestinya menunjukkan kualitas hidup bangkrut total dihadapan Allah, bahkan lebih dari sebelum ia mengenal Kristus. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia menyadari ketidakmampuannya untuk memperkenan Allah dengan kekuatan sendiri. Semakin ia hidup bertaut dengan Allah, semakin tumbuh kepekaan betapa licik hati manusia (Yer 17:9), yaitu dirinya sendiri. Target utama pendengar kotbah di bukit adalah orang percaya, yaitu para murid Kristus. Dengan keras, Yesus berkata kepada para murid ini: “Jika hidup keagamaanmu, tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga.” Inilah ayat inti dari seluruh kotbah di Bukit.
Orang-orang yang Allah pakai dalam Alkitab menunjukkan kemiskinan rohani mereka. Yesaya, ketika melihat keagungan Allah, spontan berkata, “Celakalah aku! Aku binasa!” (Yesaya 6:5). Yohanes Pembaptis mengaku bahwa untuk melepas tali kasut Kristus saja ia tidak pantas (Lukas 3:16). Kepada Timotius, Paulus berkata tentang dirinya bahwa ialah yang paling berdosa dari antara orang-orang berdosa (1 Tim 1:15).
Mari kita periksa hati kita. Jangan-jangan meski sudah percaya, kita masih seperti orang Farisi. Orang lain tidak tahu. Di luar kita atur, kita rekayasan sikap dan perilaku kita untuk memproyeksikan image bahwa kita orang yang rohani. Tapi dalam hati. Dalam hati kecil kita, kita membanggakan diri kita, keberhasilan kita, pengalaman kita, karakter kita, dst. Kalau Anda dan saya masih seperti ini, tidak peduli berapa lama kita sudah aktif pelayanan di gereja, tidak peduli betapa tinggi jabatan struktural kita di denominasi gereja, tidak peduli betapa besar uang sumbangan kita untuk pekerjaan Tuhan, Yesus berkata kepada kita "Sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga."
DOA
Pengalaman keberhasilan kami di dunia fana ini, ya Bapa,
sering membuat kami merasa hebat.
Kinerja dan produktivitas religius kami
menciptakan rasa layak berdiri dihadapanMu.
Itu sebab kami enggan mengaku diri kami miskin dihadapan-Mu.
Kami lebih suka menunjukkan kepada dunia bahwa bagi-Mu Tuhan
Ada banyak hal yang kami dapat kerjakan, berikan, sumbangkan.
Kami ingin dipersepsi orang sebagai orang Kristen yang sukses,
yang sibuk, yang serba bisa, selalu siap berjasa bagi Tuhan.
Doa kami hanya rutinitas di mulut karena hati kami dipenuhi keyakinan
bahwa kami dulu bisa, sekarang bisa, dan akan selalu bisa tanpa Allah.
Kami mengeluh kepadaMu saat dilanda kesulitan,
karena kami merasa tidak sepantasnya kami mendapat kesulitan tersebut.
Kami punya banyak agenda dan ambisi pribadi,
dan menuntut-Mu untuk memenuhi semua itu.
Ampuni kami Tuhan.
Ingatkan kami bahwa kami bukan siapa-siapa dihadapan-Mu
Dan tidak punya apa-apa bagi-Mu yang Engkau perlukan.
Kami tidak lebih dari cacing dan ulat dimata-Mu.
Kami bagai pengemis dengan cacat tubuh di persimpangan lampu merah,
yang tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu belas kasih pengendara yang lewat.
Dan kami bersyukur bahwa tidak seperti para pengendara yang cuma lewat,
Engkau Allah yang peduli, bukan hanya memberi sedekah,
Tetapi memberi kami kerajaan surga yang mulia,
Mengundang kami masuk kedalam-nya
Mengecap kemuliaan, menikmatinya tiada henti bersama-Mu.
May 7, 2008
Asumsi Dasar Kotbah di Bukit
Pernahkah Anda berpikir bahwa aktivitas keseharian hidup kita kita mampu lakukan karena kita telah memiliki beberapa pengetahuan yang mendasar tentang hal-hal yang berada disekeliling aktivitas tersebut, karena kita memiliki apa yg disebut sebagai conventional knowledge. Apa itu conventional knowledge? Berikut sebuah contoh sederhana.
Saat Anda memakai credit card membayar barang belanjaan di toko, Anda pasti memiliki conventional knowledge minimal yang mendasar tentang akuntansi dan sistem perbankan, tentang konsep income dan expenses, tentang konsep withdrawal, credit limit, ttg PIN (personal identification number), tentang interest rate, dst. Jika orang yg menjadi sales assistant tidak mengerti semua konsep ini, saat Anda hendak membayar bukan dengan uang cash, tapi dengan kartu plastik kecil, dia akan anggap Anda tidak waras. Sekarang bayangkan Anda hidup sebelum tahun 1950 ketika credit card belum ditemukan, maka Anda memiliki coventional knowledge perlu uang cash. Kemana-mana beli dengan uang tunai. Setelah tahun 1950, maka perilaku dan pola kita berjual-beli berubah drastis. Memakai credit card menuntut kita untuk memiliki pengetahuan, asumsi, pengertian yang baru.
Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, hal yang sama juga berlaku. Sejak kita mengenal Kristus, seharusnya ada conventional knowledge yang kita miliki. Ada asumsi dan pengertian yang mendasar yang kita perlu terima dan terapkan bila kita ingin hidup menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru kita di dalam Kristus. Saat kita bekerja, studi, pacaran, mendidik anak, berelasi dengan orang lain, maka kita harusnya memiliki conventional knowledge yang akan mendasari semua aktivitas kita sehari-hari tersebut. Salah satu conventional knowledge tersebut adalah standard nilai apa atau siapa yang kita jadikan patokan atau pegangan dalam semua kegiatan tersebut.
Carson dalam bukunya Jesus’ Sermon on the Mount menulis, “Dunia yang kita tinggal ini milik Allah, oleh sebab itu tidak ada berkat yang lebih besar, yang lebih tinggi dibanding disetujui oleh Allah."
Approved by God. Diberkati oleh Allah. Diperkenan dan direstui oleh Allah. Dipuji dan diberi ucapan selamat oleh Allah. Dinyatakan dan dinilai oleh Allah layak dihadapanNya. Tidak ada sapaan yang lebih indah dan perasaan yang lebih bahagia dan berkat yang lebih besar dibanding mendengar Allah berkata “You are my beloved Son; with you I am well pleased.” Kalimat tersebut diberikan Allah Bapa kepada AnakNya, Yesus Kristus, saat Ia dibaptis, yang dicatat dalam Lukas 3:22.
Mari kita memeriksa diri kita berkat, persetujuan, dan pujian siapa yang kita cari dengan begitu rajin di dunia ini. Jika approval dari bos kita, yang kita anggap sangat penting dan berpengaruh besar terhadap karir kita, kita anggap lebih penting daripada approval dari Allah, maka kita akan begitu peduli dengan Delapan Deklarasi Bahagia dari Allah ini.
Bila kita lebih peduli dengan penerimaan dan persetujuan orang yang kita kasihi dalam hidup kita, suami, istri, anak, orang tua, pacar, si pria atau wanita yang kita sedang impikan menjadi calon teman hidup kita, kita rela berbuat apa saja asal mereka senang dan tidak menolak kita, maka kita tidak akan pusing dengan apa yang Allah katakan dalam Delapan Ucapan Bahagia ini. Allah berkata, Berbahagialah yang orang yang miskin di hadapan Allah, Berbahagialah orang lemah lembut, respon kita: “Who cares?” So What? Siapa peduli? Siapa takut?”
Namun bila Anda berkata dalam hati kecil Anda dengan pribadi dan sungguh-sungguh, “Tuhan, aku mau hidupku yang sementara di dunia yg fana ini, diperkenan oleh Tuhan. Jika aku yg hina, yg berdosa ini, yg remeh ini dapat merindukan Tuhan berkata “Aku berkenan kepadaMu”, itu sebuah anugerah yg besar dan aku ingin hidup didalamNya, sepanjang sisa umurku berjuang untuk menyenangkan hati Tuhan."
Saat Anda memakai credit card membayar barang belanjaan di toko, Anda pasti memiliki conventional knowledge minimal yang mendasar tentang akuntansi dan sistem perbankan, tentang konsep income dan expenses, tentang konsep withdrawal, credit limit, ttg PIN (personal identification number), tentang interest rate, dst. Jika orang yg menjadi sales assistant tidak mengerti semua konsep ini, saat Anda hendak membayar bukan dengan uang cash, tapi dengan kartu plastik kecil, dia akan anggap Anda tidak waras. Sekarang bayangkan Anda hidup sebelum tahun 1950 ketika credit card belum ditemukan, maka Anda memiliki coventional knowledge perlu uang cash. Kemana-mana beli dengan uang tunai. Setelah tahun 1950, maka perilaku dan pola kita berjual-beli berubah drastis. Memakai credit card menuntut kita untuk memiliki pengetahuan, asumsi, pengertian yang baru.
Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, hal yang sama juga berlaku. Sejak kita mengenal Kristus, seharusnya ada conventional knowledge yang kita miliki. Ada asumsi dan pengertian yang mendasar yang kita perlu terima dan terapkan bila kita ingin hidup menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru kita di dalam Kristus. Saat kita bekerja, studi, pacaran, mendidik anak, berelasi dengan orang lain, maka kita harusnya memiliki conventional knowledge yang akan mendasari semua aktivitas kita sehari-hari tersebut. Salah satu conventional knowledge tersebut adalah standard nilai apa atau siapa yang kita jadikan patokan atau pegangan dalam semua kegiatan tersebut.
Carson dalam bukunya Jesus’ Sermon on the Mount menulis, “Dunia yang kita tinggal ini milik Allah, oleh sebab itu tidak ada berkat yang lebih besar, yang lebih tinggi dibanding disetujui oleh Allah."
Approved by God. Diberkati oleh Allah. Diperkenan dan direstui oleh Allah. Dipuji dan diberi ucapan selamat oleh Allah. Dinyatakan dan dinilai oleh Allah layak dihadapanNya. Tidak ada sapaan yang lebih indah dan perasaan yang lebih bahagia dan berkat yang lebih besar dibanding mendengar Allah berkata “You are my beloved Son; with you I am well pleased.” Kalimat tersebut diberikan Allah Bapa kepada AnakNya, Yesus Kristus, saat Ia dibaptis, yang dicatat dalam Lukas 3:22.
Mari kita memeriksa diri kita berkat, persetujuan, dan pujian siapa yang kita cari dengan begitu rajin di dunia ini. Jika approval dari bos kita, yang kita anggap sangat penting dan berpengaruh besar terhadap karir kita, kita anggap lebih penting daripada approval dari Allah, maka kita akan begitu peduli dengan Delapan Deklarasi Bahagia dari Allah ini.
Bila kita lebih peduli dengan penerimaan dan persetujuan orang yang kita kasihi dalam hidup kita, suami, istri, anak, orang tua, pacar, si pria atau wanita yang kita sedang impikan menjadi calon teman hidup kita, kita rela berbuat apa saja asal mereka senang dan tidak menolak kita, maka kita tidak akan pusing dengan apa yang Allah katakan dalam Delapan Ucapan Bahagia ini. Allah berkata, Berbahagialah yang orang yang miskin di hadapan Allah, Berbahagialah orang lemah lembut, respon kita: “Who cares?” So What? Siapa peduli? Siapa takut?”
Namun bila Anda berkata dalam hati kecil Anda dengan pribadi dan sungguh-sungguh, “Tuhan, aku mau hidupku yang sementara di dunia yg fana ini, diperkenan oleh Tuhan. Jika aku yg hina, yg berdosa ini, yg remeh ini dapat merindukan Tuhan berkata “Aku berkenan kepadaMu”, itu sebuah anugerah yg besar dan aku ingin hidup didalamNya, sepanjang sisa umurku berjuang untuk menyenangkan hati Tuhan."
Subscribe to:
Posts (Atom)