Sep 14, 2008

Dari Mata Turun ke Neraka

Hati hati gunakan matamu
Hati-hati gunakan matamu
Allah Bapa di surga melihat ke bawah
Hati-hati gunakan matamu
Demikian teks sebuah lagu Sekolah Minggu yang saya kira sampai sekarang masih sering dinyanyikan di banyak gereja. Saya tidak pernah ikut Sekolah Minggu (karena baru bertobat terima Kristus saat remaja), tapi saya bayangkan anak-anak Sekolah Minggu yang lucu dan lugu itu pasti tidak pernah berpikir bahwa teks lagu tersebut menjadi sangat relevan dan penting bagi mereka saat mereka dewasa. Karena jika kita tidak hati-hati menggunakan mata kita, kita bisa masuk neraka!

Yesus dalam kotbahNya di bukit bersabda "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka" (Matius 5:27-30)

Ada tiga hal yang mengemuka dalam sabda Tuhan kita tersebut:

1. Berzinah dalam hati sama dengan Perzinahan
Yesus menyetarakan dengan tindakan zinah secara fisik dengan perzinahan dalam hati, yaitu perzinahan yang kita lakukan saat kita memandangi seorang wanita dengan hawa nafsu. Terjemahan ESV adalah sbb: But I say to you that everyone who looks at a woman with lustful intent has already committed adultery with her in his heart. Tentu ini tidak berarti kita tidak boleh melihat wanita yang penampilannya menarik, anggun, cantik. Mengagumi ciptaan Allah yang satu ini bukanlah dosa, Itu menjadi dosa apabila saat kita memandang dia, kita:
- Menstimulasi pikiran kita untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan dia
- Berimajinasi untuk melakukan aktivitas seksual bersama dengan dia
- Menelanjangi dia dengan pandangan mata kita

Dan ini berlaku baik bagi para PRIA khususnya tetapi juga wanita!

Memang sih cobaan pria itu biasanya datang lewat mata (no question about that!), sementara wanita datang lewat sentuhan dan emosi, tapi tidak berarti mata tidak menjadi pintu masuk dosa bagi wanita. Ingat istri Potifar yang mabuk kepayang melihat elok paras Yusuf. Dalam Kitab Kejadian 39:7, dicatat demikian: "Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku." Itulah LUST. "Memandang dengan berahi"

Mengumbar mata dengan hawa nafsu adalah titik awal menuju perzinahan, sama halnya kemarahan yang penuh kebencian menjadi titik awal dari pembunuhan. Dan Yesus yang melihat hati tidak membedakan antara zinah fisik dan zinah hati. Keduanya serius, dan berakibat neraka.

2. Berzinah dalam hati membawa kita ke neraka
Kita hidup di dunia dimana seks menjadi salah satu komoditas yang paling laku di dunia dan simbol-simbolnya mudah ditemukan dimana-mana, mulai dari pornografi Internet "just a mouse click away" sampai katalog department store yang mengandalkan pria dan wanita dengan pakaian gaya minimalis untuk mendongkrak penjualan pakaian dalam. Dalam konteks yang sedemikian, berzinah dalam hati menjadi sesuatu yang sangat remeh. "Dikit-dikit khan boleh" seringkali menjadi justifikasi kita.

Apalagi kalau kita sudah aktif melayani Tuhan dan memegang peran yang penting di gereja (Pendeta, Majelis, Guru Sekolah Minggu dst), mudah sekali untuk terjebak berpikir begini "Lo, aku khan udah rohani, jadi lirik kiri dan kanan cuci mata sambil berfantasi dikit toh wajar sebagai pria. Khan aku tahu batas!" Atau kita adalah seorang yang berada di garis depan berjuang bagi Climate Change, mengorbankan banyak waktu, tenaga, pikiran, uang demi menyelamatkan bumi yang kita tinggali ini, lalu semua aktivitas yang "BESAR DAN PENTING" ini membuat kita merasa "Ahh... kalau cuma lihat majalah Playboy atau lihat website yang 'gitu-gituan' khan ga ada salahnya."

Ketika Yesus berkata "jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka", Ia sedang menegaskan bahwa dosa zinah dalam hati melalui mata kita ini adalah soal surga dan neraka. Konsekuensi dosa tersebut 1000x lebih serius dibanding konsekuensi masalah Climate Change. Kok bisa? Well, climate change mungkin dapat meluluhlantakkan bumi ini dalam 50 tahun ke depan, namun yang punah adalah hanya tubuh kita.

Yesus berkata "Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah DIA, yang setelah membunuh, mempunya kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luke 12:4-5).

Pandangan yang Salah Kaprah ttg Keselamatan
Jika hawa nafsu kita mendatangkan hukuman neraka, apakah itu berarti keselamatan jiwa saya akan hilang saat saya melakukan dosa tersebut? Kita sering berpikir bahwa jika kita sudah menerima Kristus, maka pernyataan-pernyataan Yesus seperti dalam area ini tidak berlaku lagi kepada kita. Ini ajaran berbahaya yang dapat menyesatkan kita ke neraka tanpa kita sadari.

Keselamatan jiwa kita memang didasarkan atas karya Kristus Yesus yang final di atas kayu salib, yang melalui iman kita terima sehingga apa yang dicapai Kristus sebagai korban penebus dosa itu ditransfer kepada kita. Samasekali tidak ada usaha manusia didalamnya.

Kita diselamatkan melalui iman (Sola Fide), namun iman yang menyelamatkan itu tidak sendirian. Inilah salah satu motto reformasi. Iman yang menyelamatkan itu adalah iman yang melawan hawa nafsu seksual. Jika kita mengaku telah berada dalam Kristus, namun kita tidak pernah berperang dan berjuang melawan dosa, kita PASTI belum memiliki iman yang menyelamatkan. Ada banyak sekali ayat-ayat firman Tuhan yang mensaksikan kebenaran ini, dan jika kita cuek, kita akan menanggung akibatnya. Bagai berjalan di atas escalator menuju neraka tanpa kita bahkan menyadarinya sama sekali. Mari kita perhatikan beberapa:

Kolose 3:5-6 "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat… semuaya itu mendatangkan murka Allah."

Galatia 5:19-21 "Perbuatan daging telah nyata: yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, … Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu – seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah"

1 Korintus 6:10 "Janganlah sesat! Orang cabul… tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah."

Ibrani 12:1 "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan KEJARLAH KEKUDUSAN, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat TUHAN"

Jika Anda tidak pernah punya keinginan untuk berperang melawan dosa, Anda sedang menuju neraka.

3. Mematikan Dosa Perzinahan di Hati
Bagaimana kita dapat mematikan dosa hawa nafsu seksual ini? Yesus memberitahu kita strategi mengalahkan dosa ini: "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka" (Matius 5:28-30)

Yesus tidak berkata, "tutup matamu" atau "hentikan langkah kakimu", tetapi "cungkillah matamu" dan "penggallah tanganmu". Tentu ini tidak berarti harafiah. Ada seorang bapa gereja bernama Origen dari Alexandria yang menginterpretasikan ayat tsb dengan literal, lalu mengebiri dirinya sendiri agar tidak lagi terpengaruh oleh pencobaan seksual yg maha dashyat itu (dia lupa bahwa organ seksual manusia yang paling ampuh bukan alat kelamin, tetapi otak manusia...). Arti dari strategi Yesus ini adalah bahwa kita harus mengambil tindakan yang tegas, serius, drastis, urgen untuk membuang segala sesuatu yang dapat membawa kita jatuh ke dalam dosa perzinahan hati ini.

Sama seperti orang yang rela tangannya diamputasi daripada mati karena sel-sel kanker yang ia derita menjalar ke seluruh tubuhnya, maka Yesus berkata kita harus mau dan siap kehilangan apapun yang membuat kita tidak taat kepada Allah, berdosa terhadap Allah (John Calvin). Sikap kita harus seperti orang yang buta-tuli dan lumpuh, tanpa mata melihat hal-hal yang dapat merangsang hawa nafsu seksual kita, dan tanpa kaki-tangan untuk dapat pergi ke night club, diskotik, dan pesta-pesta dan tempat/acara lain yang dapat membuat kita jatuh dalam dosa lust.

Catatan: Terkadang pesta pernikahan dan sweet 17th birthday party menjadi ajang dimana banyak pria jatuh ke dalan dosa ini ditengah wanita-wanita yang karena ingin tampil menawan nan mempesona memakai gaun pesta yang bergaya minimalis. Demikian juga acara-acara dalam pesta nikah dan ultah tersebut seringkali sarat dengan nuansa seksual. Hati-hati "just for fun" bisa berubah menjadi "just to hell"

Puritan William Gurnal mengingatkan kita untuk senantiasa menjadi orang bijak: “What lust is so sweet or profitable that is worth burning in hell for?” Masalahnya kita sering lupa soal neraka saat sedang terbuai dengan tipuan manis si Iblis "Ahhh...sedikit aja kan boleh. Kamu khan sudah banyak berjasa, jadi wajarlah rileks dikit menikmati waktu santaimu. Semua orang toh sering melakukannya. Lagian, siapa sih yang akan tahu?" Rayuan Setan ini maut karena ia sudah berpengalaman ribuan tahun menghancurkan orang Kristen, dan ia tidak akan buang-buang waktu saat menyerang kita karena ia langsung menuju ke titik kelemahan kita.

Itu sebab John Owen menulis bahwa indwelling sin ini menjadi sangat rumit karena musuh kita terbesar tidak berada di luar kita, tetapi di dalam diri kita. Dan Owen mengajak setiap anak Tuhan untuk selalu berperang mematikan dosa, atau kita yang akan dimatikan oleh dosa. Be killing sin or it will be killing you!

Berikut strategi praktis "mencungkil mata dan memenggal tangan" dalam konteks kita yang dapat membuat kita terhindar api neraka yang tak pernah padam itu. Beberapa tips tersebut saya terapkan dalam kehidupan saya sehari-hari dan meski tidak 100% saya berhasil (karena saya masih terbut dari darah daging - bukan malaikat - dan penuh kelemahan), beberapa tips tsb membantu saya saat Iblis melancarkan serangannya:

1. Berkata "NO!" dalam 5 detik pertama pencobaan itu datang. Usir segala pikiran jahat dan mesum didalam nama Yesus.

2. Kutip ayat-ayat Alkitab yang menolong kita untuk bertahan dalam kesucian, dan bahkan untuk menyerang Iblis. Yang saya suka pakai misalnya:
"Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal 5:24)";

"'Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik (Amsal 15:3);

"Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1 Pet 1:15-16)."
Semua ini memerlukan disiplin menghafal ayat (sebuah disiplin yang saya pernah miliki ketika dulu pernah KTB dgn staf Navigators di US, dan sekarang sudah karatan, perlu diperbarui...)

3. Menyanyikan lagu-lagu hymn saat merasa rentan terhadap pencobaan. Misal:

Turn your eyes upon Jesus,
Look full in His wonderful face,
And the things of earth will grow strangely dim,
In the light of His glory and grace"

Onward, Christian soldiers, Marching as to war,
With the cross of Jesus Going on before!
Christ, the royal Master, Leads against the foe;
Forward into battle See His banners go!
Onward Christian soldiers, marching as to war,
With the cross of Jesus going on before
.

4. Memiliki teman akuntabilitas yang kepadanya kita mengakui dosa kita untuk menjaga nurani kita bersih, yang dapat mendukung kita dalam doa saat kita lemah, yang dapat kita telpon kapanpun juga (24 jam per hari, 7 hari seminggu) saat detik-detik kita dicobai.

5. Bila kita addicted thd pornografi di internet, mungkin perlu menghentikan subscription internet kita dari ISP. Atau meng-install software yg dapat memberi laporan kepada sahabat akuntabilitas kita. Misal software bernama Covenant Eyes.

6. Bila sedang santai dan sendirian, menjadi ekstra berhati-hati untuk tidak meng-ekspose diri terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan hawa nafsu seksual (TV, majalah, internet, etc.). Kalau tidak tahan, lebih baik jangan pernah sendirian. Dan jangan pernah nganggur tanpa gawe (ingat Daud jatuh berzinah dgn Batsyeba saat ia nganggur berleha-leha di saat seharusnya ia berada di medan perang).

7. Berdoalah untuk memiliki appetite dan kerinduan terhadap Yesus, ini hal yang krusial yang sering luput dari perhatian kita. Saya banyak belajar dari Owen tentang prinsip ini. Ia menulis: Be sure to get an interest in Christ - if you intend to mortify sin without it, it will never be done.Selama kita berpikir bahwa kebahagiaan kita akan bertambah dengan kita berbuat dosa tersebut, kita tidak akan pernah menang terhadap dosa. Dan selama kita tidak melihat bahwa Kristus itu jauh lebih mulia, lebih indah, lebih berharga daripada semua kenikmatan palsu yang ditawarkan Setan, kita tidak akan pernah mematikan dosa.

DOA:
"Bapa disurga, ampuni hamba-Mu, bila anggota tubuh hamba tak lain adalah alat berbuat dosa,
mata, kaki, tangan, mulut, yang semuanya seharusnya menjadi alat kebenaran untuk kemuliaan-Mu

Tolong hamba-Mu belajar seperti Ayub yang pernah membuat perjanjian dengan matanya,
untuk tidak memandang dengan penuh hasrat dosa seorang wanita
Tolong hamba-Mu untuk tidak melangkahkan kaki menuju tempat-tempat yang mengundang dosa
Tolong hamba-Mu untuk tidak menggerakkan tangan melakukan aktivitas dosa, online maupun offline
Dan kuatkan hamba-Mu untuk berkata 'TIDAK' terhadap semua itu.

Singkapkan kedegilan hati hamba-Mu tuk dapat menyelami keindahan-Mu Yesus yang tiada tara
Pulihkan kebutaan mata hamba-Mu tuk dapat memandang kemuliaan-Mu
Bangkitkan kerinduan jiwa hamba-Mu tuk dapat mengecap dan melihat betapa baiknya Engkau Tuhan

Puaskan dahaga hamba-Mu dengan diri-Mu sendiri ya Tuhan Yesus sehingga
manisnya tipuan dosa menjadi hambar bagi hamba
sedapnya godaan Iblis menjadi tawar bagi hamba
Amin"

Sep 9, 2008

Ibadah yang ditolak Allah

Minggu pagi itu ada sebuah pemandangan aneh yang yang tidak pernah terjadi sebelumnya sejak gereja tersebut dimulai lebih dari 50 tahun lalu. Kira-kira 30 menit sebelum jam kebaktian biasanya berakhir, sekitar 400 orang tiba-tiba keluar dengan perlahan-lahan dari ruang kebaktian utama, dan dengan air muka yang kelihatan serius, tanpa berbasa-basi dengan satu sama lain, mereka keluar meninggalkan gereja menghilang pulang. Sementara sekitar 200 jemaat yang lain tetap didalam ruang ibadah mendengarkan kotbah yang rupanya masih belum selesai.

Pemandangan ini membuat para satpam gereja terheran-heran. Yang lebih heran adalah pemilik warung dan gerobak makanan kecil disekitar gereja, karena dagangan mereka yang biasa dikerubutin jemaat gereja hanya dilewati saja. Ada apa gerangan?

Rupanya dalam kotbahnya, si pendeta menyuruh jemaatnya untuk pulang saat itu juga. Sebagian besar menuruti hal tersebut. Teks kotbahnya diambil dari Matius 5:23-24:
"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu"
Amarah dan kebencian dalam hati kita membuat segala pujian, penyembahan, dan doa kita di Ibadah Minggu hanya naik sampai ke atap gereja. Tidak lebih dari itu. Karena Allah menolaknya.

Yesus menegaskan prinsip bahwa rekonsiliasi harus mendahului ibadah. Bukan karena relasi dengan sesama lebih penting dibanding ibadah kepada Allah, tetapi karena keduanya saling terkait erat, dan tidak mungkin kita dapat menyembah Allah dalam 'roh dan kebenaran' bila ada hal yang belum kita bereskan dengan sesama kita. Yesus melihat hal tersebut begitu penting sampai Ia berkata, "STOP berdoa, STOP menyanyi, pergi dulu bereskan relasi dengan si A, baru balik berdoa dan menyanyi. Aku menunggumu kembali."

Ketaatan terhadap instruksi Yesus yang eksplisit ini lebih penting daripada ibadah itu sendiri, tidak peduli betapa merdu suara kita, betapa penuh hikmat isi doa kita, dan berapa besar uang persembahan kita. Alkitab mengajarkan prinsip ini ketika Saul yang tidak taat terhadap perintah Allah ditolak persembahan bakarannya. Melalui nabi Samuel, Allah menegur Daud, "Has the LORD as much delight in burnt offerings and sacrifices As in obeying the voice of the LORD? Behold, to obey is better than sacrifice, and to heed than the fat of rams." (1 Samuel 15:22).

Mengomentari bagian ini, Sinclair Ferguson menggarisbawahi bahwa Allah melihat rekonsiliasi ini sebagai sebuah hal yang important (ayat 23-24) dan urgent (25-26): "The illustration of the man in church underlines the necessity of reconciliation. The illustration of two men going to court underlines the urgency of reconciliation. Animosity is a time bomb; we do not know when it will `go off.' We must deal with it quickly, before the consequences of our bitterness get completely out of control."

Yang menjadi pertanyaan penting disini adalah apa yang dimaksud Yesus dengan "engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau." Apa sih 'sesuatu' tsb, apakah sebuah uneg-uneg, ganjalan, suara hati nurani? Dan apakah ini berarti kita harus berinisiatif untuk rekonsiliasi bila kita berada di pihak yang salah, yang telah menyakiti hati sesama kita dengan perkataan atau perbuatan kita?

Bagaimana kalau kita berada di posisi yang benar, yang disakiti? Bagaimana kalau orang tersebut memang super menjengkelkan, tidak masuk akal, mbo ceng lie? Apakah saya masih harus tetap rekonsiliasi.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah kasus dimana seorang pendeta menyuruh saya untuk minta maaf kepada seseorang untuk kedua kalinya, karena permintaan maaf saya yang pertama kali dianggap tidak tulus oleh orang tersebut. Saya memberitahu pendeta tersebut bahwa saya telah minta maaf dengan sungguh-sungguh dan tidak ada lagi perasaan mengganjal dalam hati saya, bahkan saat itu saya dan orang tersebut telah berdamai dengan baik.

Betapa kaget saya ketika pendeta tersebut lalu mengatakan bahwa kalau saya tidak minta maaf lagi kepada orang tersebut, saya melanggar perintah Yesus dan seluruh pelayanan dan ibadah saya tidak akan diterima Allah. Bahkan dia berkata jika saya tidak minta maaf lagi kepada orang tersebut (yang juga adalah seorang pendeta), itu berarti saya melawan seorang yang telah diurapi Allah. Lalu ia bercerita bahwa dulu ada orang yang berlaku sedemikian kepadanya, dan tidak lama kemudian yang satu usahanya bangkrut dan yang satu lagi kena penyakit.

Saya sedih sekali mendengar kalimat tsb keluar dari mulut seorang pendeta. Saya menjawab bapak pendeta tsb "Maaf pak, saya harap Bapak tidak mengutip ayat dengan sembarangan untuk menakut-nakuti orang agar melakukan suatu hal yang sesuai keinginan Bapak. Yang dimaksud Yesus dalam Matius 5:23-24 sangat berbeda dengan apa yang Bapak katakan. Saya telah melakukan tanggung jawab saya dihadapan Allah dengan minta maaf dan berdamai dengan orang tersebut. Tapi Allah tidak menjadikan hasil dari rekonsiliasi tsb sebagai tanggung jawab saya. Bagi saya, minta maaf lagi untuk ke-2, ke-3, ke-5 kalinya tidak ada masalah. Tapi kalau saya hanya minta maaf demi untuk memuaskan ego orang tersebut, bukankah justru saya sedang tidak bertanggung jawab terhadap Allah?"

Tujuan saya menceritakan pengalaman pribadi diatas adalah untuk menggarisbawahi betapa penting kita mengerti arti rekonsiliasi yang Yesus maksudkan disini. Ada dua hal yang menolong kita memahaminya:

1. Yesus tidak menjelaskan siapa pihak yang benar dan pihak yang salah dalam Mat 5:23-24.
Ia juga tidak memberikan indikasi apakah ini berlaku diantara orang Kristen saja atau termasuk orang non-Kristen. Dan saya kira Ia sengaja tidak melakukannya. Di beberapa ayat sebelumya Ia bersabda bahwa kita harus menjadi pembawa damai. Berdamai sebelum beribadah menjadi prinsip secara umum yang kita mesti terapkan dengan istri kita, suami kita, anak kita, mertua kita, tetangga kita, kolega kita, musuh kita (termasuk musuh bebuyutan kita).

2. Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya didunia banyak membuat orang tersinggung dan marah.
Khususnya kepada orang Farisi dan ahli Taurat. Begitu tersinggung mereka sampai mereka ingin menyalibkan Dia. Namun apakah Yesus minta maaf kepada mereka? Tidak. John Piper mengomentari bagian ini dan berkata bahwa jika Ia melakukan itu, mungkin Ia tidak akan pernah sempat ke Synagogue karena ia perlu waktu banyak tiap hari minta maaf kepada satu per satu kepada orang banyak yang tersinggung mendengar kotbah-Nya. Yesus berkata murid-muridNya akan mengalami hal yang sama jika mereka setia mengikut Yesus Kristus. Kesetiaan kepada Kristus selalu mengundang oposisi dari dunia. Namun Ia tidak meminta mereka untuk minta maaf. Ia malahan berkata "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu" (Mat 5:11-12). Saat kita menegur orang lain, saat kita 'speak the truth in love', seberapa lembut dan hormat kita menyampaikannya, akan ada orang yang tersinggung dan tidak terima.

Berdasarkan dua point diatas, saya mengambil kesimpulan seperti berikut:

a. Kita tidak bertanggung jawab tentang uneg-uneg atau ganjalan yang terjadi antara kita dengan orang lain apabila itu terjadi karena ketaatan kita kepada Kristus dan kepedulian kita kepada orang tersebut, dan bila itu telah didahului oleh pergumulan doa dan air mata terhadap orang tersebut.

b. Diluar perkecualian tersebut, kita perlu aktif mengupayakan rekonsiliasi meski inisiatif tersebut hanya akan bertepuk sebelah tangan, meski kita akan dicuekin. Hasil rekonsiliasi itu Allah yang menentukan, dan bukan tanggung jawab kita. Kalau diterima, puji Tuhan kita berdamai dengan dia. Kalau tidak diterima, puji Tuhan karena kita mempertahankan hati nurani kita bersih dihadapan Allah (Amsal 4:23). Ibadah kita tidak akan terhalang karenanya, ini ditegaskan Paulus dalam Roma 12:18: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”.

Kiranya ibadah Anda dan saya naik ke tahta Allah sebagai persembahan yang harum bagi-Nya karena itu muncul dari jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk, ketika kita menyadari dosa kita kepada sesama dan mau taat berdamai dengannya, dan dengan demikian berdamai dengan Allah. Hati yang sedemikian Allah tidak akan pandang hina.

Sep 8, 2008

Ravi Zacharias on the Incomparable Jesus

In his most recent interview, Ravi Zacharias highlighted the peculiar attitude that people (in the West) have towards Jesus, which goes to show the uniqueness of, as his book title suggests, "Jesus among other gods". The entire interview transcript can be found here, but here are two paragraphs which grab my attention:
Q: Why do you call "Jesus Among Other Gods" your most significant book?

A: There was no life so impeccably lived as His. There are those who've claimed prophetic status who have led pretty heavily duplicitous lives. But in Christ, you never see that. You never find Him in any compromising situation that shows itself where He was driven by the sensuality of the moment. After 2000 years, no name has been scrutinized more, none abused or challenged more in the public media.

I find a lot of Western journalists intellectually cowardly here. They would never do with Mohammed what they do with Jesus. They don't have the courage to do that. If the major magazines — Time, Newsweek or U.S. News and World Report — did with Mohammed on one of their major festivals what they do to Jesus on Christmas or Easter, they probably wouldn't be in existence any more.

Q: What has been your experience on American campuses?

A: If I speak on Hinduism, Buddhism, Islam or whatever, I am quite free to do it without any repercussions. But if you speak on the Christian faith, somebody is going to question why you are there. You talk to any Christian campus group on any major campus and they'll tell you about the intimidation there.

It's sad. I lived in India, then in Canada and then I've come here. America seems to take a hit for everything it does. But worse can be done in other parts of the world and it will be done with impunity. For instance, racism: I could take you to parts of the world today where racism is horrible, blatant. The same people who will tell you that, are the ones who will take us to task. I will tell you what is hidden under all of this. I believe because we live under the outworking of a Christian worldview, we are willing to face the self-criticism and scrutiny. Other worldviews are not willing to lend themselves to that.

Sep 7, 2008

Amarah yang Berakibat Neraka

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala (Matius 5:21-22).
Hari ini dalam gereja Tuhan banyak sekali jatuh korban pembunuhan. Bukan karena senapan atau senjata tajam, tetapi karena lidah. Mereka terbunuh karena kalimat-kalimat kasar yang menyinggung perasaan mereka, yang mematikan semangat hidup mereka, dan yang mengecilkan citra diri mereka. Karena Yesus dalam kotbahNya di bukit, engkau tidak membunuh secara fisik, tetapi sikap hatimu dan perkataanmu yang menyakitkan orang lain sama kejinya dengan pembunuhan fisik.

Banyak dari para korban tersebut hari ini tidak lagi berada di gereja, karena realita hidup bergereja mereka temukan samasekali berbeda dari harapan mereka. Dan para pembunuhnya masih bebas berkeliaran. Tingkah laku agama begitu baik, namun hati mereka yang dingin tak pernah tersentuh dengan kasih Allah, itu sebab mereka terus menyakiti sesamanya.

Orang Farisi dan ahli Taurat sibuk dengan detail yang eksternal tentang hukum Allah. Dari generasi ke generasi mereka telah diajar dari sejak kecil untuk melakukan 613 perintah dan larangan yang mereka pikir diperlukan untuk memenuhi standar Allah. Namun mereka tidak peduli dengan hal-hal yang internal, yang jauh lebih penting, yaitu soal motivasi. Soal hati mereka. Mereka berdiskusi dan berdebat: bagaimana kita mendefinisikan pembunuhan? Kalau saya memukuli seseorang sampai ia hampir mati, apakah itu termasuk membunuh? Bagaimana kalau saya tidak memakai tangan orang lain untuk membunuh seseorang bagi saya, apakah itu termasuk pelanggaran terhadap perintah Allah yang ke-6 tsb? Bagaimana kalau saya dipenuhi amarah dan kebencian terhadap seseorang dan saya dalam hati berkata ”Gua harap dia mati ketabrak bis” tapi tidak benar-benar menabrak dia?

Mereka berpikir bahwa perintah jangan membunuh itu mereka telah taati bila mereka tidak mengambil nyawa orang lain. Itu sebab pada akhirnya meski mereka tidak membunuh Yesus dengan tangan mereka sendiri, mereka berkonspirasi untuk membunuh dia, dan memakai tangan orang lain untuk melakukan dosa terbesar yang pernah dilakukan manusia terhadap Allah: Menyalibkan Anak-Nya.

Inti dari semua ini adalah jika kita mengumbar kebencian hati kita dengan menyakiti sesama kita, kita berhadapan dengan Allah sendiri. Yesus menegaskan bahwa dosa ini adalah dosa yang serius, jauh lebih serius dari yang kita bayangkan, karena yang menjadi taruhannya adalah surga dan neraka. Hal ini muncul dalam banyak ayat dalam firman Allah, misalnya:
“Bagaimana kamu yang jahat, dapat mengeluarkan kata-kata yang baik? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu, engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum” (Matius 12: 34-37)

"The one who says he is in the light and yet hates his brother is in the darkness until now" (1 John 2:9)"

"Everyone who hates his brother is a murderer; and you know that no murderer has eternal life abiding in him (1 John 3:15)"
Memang tidak semua kemarahan itu berdosa. Yesus marah beberapa kali karena kedegilan hati manusia, karena pemberontakan mereka terhadap Allah, karena kekudusan Allah diinjak-injak, namun Ia tidak marah ketika Ia dihianati, diadili, dicaci-maki, dianiaya. Kita sebaliknya seringkali marah karena hak-hak pribadi kita diinjak-injak sementara kita lenggang kangkung saat nama Allah dijadikan bahan tertawaan.

Kata marah yang dipakai Yesus dalam bahasa aslinya adalah orgidzo, yang menunjukkan kemarahan terhadap seseorang yang kita pelihara semakin lama semakin menjadi-jadi, mirip seperti teko berisi air yang dipanaskan, semakin lama semakin panas sampai mendidih. Rasa marah itulah yang dialami Kain dalam kitab Kejadian pasal 4. Allah berkata menegur Kain “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?.. .Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu”

Yesus tidak mengkoreksi arti perintah Allah yang ke-6 ini, tidak mengubah atau menambahkannya. Ia justru mengembalikan arti semula yang esensial dari perintah tsb. Darimana saya tahu akan hal ini? Dari Imamat 19:16, Allah berkata melalui Musa: "Do not do anything that endangers your neigbours’ life” Ayat tsb memberitahu kita bahwa Allah tidak hanya melarang aksi pembunuhan itu saja, tetapi segala sesuatu yang dapat menjurus kepada hal tersebut. Ayat berikutnya berkata “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah engkau menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan.”

Demikian pula saat kita mencela, mencaci-maki, menghina, melecehkan mengecilkan orang lain, neraka menjadi konsekuensi dari semua itu. Sayang sekali LAI salah menterjemahkan kata "RACA" yg di KJV/NIV/NASB tetap dipakai sbg transliterasi dari Yunani. Arti kata RACA bukan 'Kafir' sbgmana di Alkitab Indonesia, tetapi mengacu kepada penghinaan secara intelektual. Dalam bahasa gaul, misalnya, bisa diparafrase menjadi misalnya: “Dasar kepala udang” atau “Makanya, otaklu jangan ditaruh di dengkul” atau “Goblok ga ketulungan”. Di Australia, umpatan seperti itu muncul dalam bentuk misalnya: "Bonehead" atau "Bloody Idiot!"

LAI juga salah kaprah menterjemahkan kata "Jahil" karena aslinya adalah kata MORE, yang berarti tolol tak bermoral. Bahwa Allah memakai kata ini di PL (misal, 'Hear this, O foolish and senseless people, Who have eyes, but see not; Who have ears, but hear not" Jer 5:21) dan PB (misal, 'You fool! This very night your soul is required of you; and now who will own what you have prepared?" Luke 12:20) menunjukkan bahwa saat kita mengata-ngatai sesama kita 'tolol', kita sedang mengambil posisi seperti Allah yang sedang menghakimi secara objective pemberontakan manusia kepada Allah.

Dalam bagian ini, Yesus menegaskan bahwa jika kita telah memiliki iman yang menyelamatkan, maka kebencian yang penuh amarah terhadap sesama tidak akan meluap keluar dari hati kita dan meluncur dari mulut kita. JIka kita berulang-ulang melakukan dosa ini, kita perlu meragukan keselamatan kita! Neraka (gehenna) menjadi tanggungan kita (Matius 5:22). Inilah beban dosa yang terlalu sering kita anggap enteng.

Sep 6, 2008

Strategi Melawan Hawa Nafsu Seksual

John Piper mengembangkan sebuah strategi pribadi untuk melawan hawa nafsu seksual (lust) yang terdiri dari 6 kata kerja, yang ia sebut dengan akronim A N T H E M. Deskripsi di bawah ini saya ambil dari website Desiring God, yang saya pikir relevan utk mengingatkan diri saya pribadi terkait dengan kasus Guglielmucci dalam posting sebelum ini:
A - AVOID as much as is possible and reasonable the sights and situations that arouse unfitting desire. I say "possible and reasonable" because some exposure to temptation is inevitable. And I say "unfitting desire" because not all desires for sex, food, and family are bad. We know when they are unfitting and unhelpful and on their way to becoming enslaving. We know our weaknesses and what triggers them. "Avoiding" is a Biblical strategy. "Flee youthful passions and pursue righteousness" (2 Timothy 2:22). "Make no provision for the flesh, to gratify its desires" (Romans 13:14).

N - Say NO to every lustful thought within five seconds. And say it with the authority of Jesus Christ. "In the name of Jesus, NO!" You don't have much more than five seconds. Give it more unopposed time than that, and it will lodge itself with such force as to be almost immovable. Say it out loud if you dare. Be tough and warlike. As John Owen said, "Be killing sin or it will be killing you." Strike fast and strike hard. "Resist the devil, and he will flee from you" ( James 4:7).

T - TURN the mind forcefully toward Christ as a superior satisfaction. Saying "no" will not suffice. You must move from defense to offense. Fight fire with fire. Attack the promises of sin with the promises of Christ. The Bible calls lusts "deceitful desires" (Ephesians 4:22). They lie. They promise more than they can deliver. The Bible calls them "passions of your former ignorance" (1 Peter 1:14). Only fools yield. "All at once he follows her, as an ox goes to the slaughter" (Proverbs 7:22). Deceit is defeated by truth. Ignorance is defeated by knowledge. It must be glorious truth and beautiful knowledge. This is why I wrote Seeing and Savoring Jesus Christ. We must stock our minds with the superior promises and pleasures of Jesus. Then we must turn to them immediately after saying, "NO!"

H - HOLD the promise and the pleasure of Christ firmly in your mind until it pushes the other images out. "Fix your eyes on Jesus" (Hebrews 3:1). Here is where many fail. They give in too soon. They say, "I tried to push it out, and it didn't work." I ask, "How long did you try?" How hard did you exert your mind? The mind is a muscle. You can flex it with vehemence. Take the kingdom violently (Matthew 11:12). Be brutal. Hold the promise of Christ before your eyes. Hold it. Hold it! Don't let it go! Keep holding it! How long? As long as it takes. Fight! For Christ's sake, fight till you win! If an electric garage door were about to crush your child you would hold it up with all our might and holler for help, and hold it and hold it and hold it and hold it.

E - ENJOY a superior satisfaction. Cultivate the capacities for pleasure in Christ. One reason lust reigns in so many is that Christ has so little appeal. We default to deceit because we have little delight in Christ. Don't say, "That's just not me." What steps have you taken to waken affection for Jesus? Have you fought for joy? Don't be fatalistic. You were created to treasure Christ with all your heart - more than you treasure sex or sugar. If you have little taste for Jesus, competing pleasures will triumph. Plead with God for the satisfaction you don't have: "Satisfy us in the morning with your steadfast love, that we may rejoice and be glad all our days" (Psalm 90:14). Then look, look, look at the most magnificent Person in the universe until you see him the way he is.

M - MOVE into a useful activity away from idleness and other vulnerable behaviors. Lust grows fast in the garden of leisure. Find a good work to do, and do it with all your might. "Do not be slothful in zeal, be fervent in spirit, serve the Lord" (Romans 12:11). "Be steadfast, immovable, always abounding in the work of the Lord" (1 Corinthians 15:58). Abound in work. Get up and do something. Sweep a room. Hammer a nail. Write a letter. Fix a faucet. And do it for Jesus' sake. You were made to manage and create. Christ died to make you "zealous for good deeds" (Titus 2:14). Displace deceitful lusts with a passion for good deeds.

Guglielmucci dan Dosa Pornografi

Tanggal 21 Agustus lalu saya nge-blog ttg Pastor Mike Guglielmucci yang menjadi headline di koran karena ia menipu publik, orang tuanya, dan bahkan istrinya sendiri selama 2 tahun dengan penyakit kanker yang ia tidak pernah derita. Ratusan ribu orang di dunia telah terinspirasi oleh saat ia tampil membawakan lagu ciptaannya, Healer, dengan memakai selang oksigen di hidungnya.

Yang saya tidak ikuti adalah bahwa empat hari setelah penuturannya itu menjadi berita nasional, dia membuat sebuah pernyataan publik untuk menjelaskan mengapa ia menciptakan penyakit palsu yang terus berkembang menjadi berbagai kebohongan-kebohongan lain. Ia terikat pada pornografi dari sejak ia berumur 12 tahun. Terikat oleh pornografi selama 16 tahun!

Guglielmucci menyatakan bahwa penderitaan emosional yang dialami karena addiction yg ia derita begitu dalam sampai setiap malam ia muntah-muntah. Gejala ini memang mirip seorang penderita kanker. Dan kebohongan ini berkembang semakin besar, dan ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa selain meneruskan kebohongannya dengan mengaku menderita tumor otak, gagal ginjal, patah tulang, dst. Ia mengirim email-email palsu kepada keluarganya dan sahabatnya dari dokter yang ia rekayasa sendiri, karena ia tidak pernah pergi ke dokter. Ia hanya ke rumah sakit dan klinik dan duduk-duduk di ruang tunggunya.

Yang mendorong Guglielmucci untuk mengaku kepada orang tuanya adalah sebuah mimpi dimana ia melihat Yesus dikayu salib melihat kebawah kepadanya dan berkata “The truth will set you free.” Itu sebabnya ia memutuskan untuk mengakui dosa dan kebohongannya kepada publik. Berikut cuplikan pernyataannya yang saya ambil dari website The Advertiser:
"It is with much pain and sadness that I make this statement today," he said in the statement.
"For over 16 years I have struggled with an addition to adult pornography as a result of this secret life of sin my body would often breakdown.
"I'd report the cause of my symptoms simply as illnesses and I've thrown my life into a ministry for many years trying to compensate for my sin.
"I believe that I do love Jesus and I know that he loves me and it is this love along with the prayers of people around the world that bring me to this place of confession.
"Two years ago, I reported that I was suffering from cancer, the truth is that although I was ill I did not have cancer but was again using the misdiagnosis to hid the lie that I was living.
"I know in my heart that it is the truth alone that will set me free and this is the reason for my confession.
"I've dishonoured God, my wife, my family and the church and I take full responsibility for my actions and would like to make it very clear that no-one else was in any way aware of my double life.
"I'm fully commited to a process of discipline, recovery and restitution and will see this process through to what ever extent is necessary.
"I am deeply sorry and pray that you will find it in your hearts to forgive me.
"Currently I am undergoing professional medical assessment and evaluation to help identify and begin to treat the real and much deeper issues.
"Please continue to pray for my wife and I and my family as we have a long, hard road ahead of us but a road that I'm thankful to God that I'm finally walking."
Banyak sekali video clip di berbagai website ttg Guglielmucci yang telah dicabut oleh pihak gereja, Planetshaker, dan Hillsong, namun berikut sebuah video clip interview-nya dengan Today Tonight:



Begitu banyak anak Tuhan, pemimpin Kristen, yang jatuh karena dosa LUST. Kita perlu berdoa bagi para pemimpin Kristen yang memiliki kelemahan diarea ini, agar dengan anugerah Allah mereka dimampukan untuk berperang dengan sengit melawan dosa ini.

Sep 3, 2008

Wealthy Buffett

On February 11 2008, Warren Buffett was declared by Forbes magazine as the richest person on the planet, with an estimated net worth of $62 billion. But unlike other super rich CEOs who live in immense luxury, the CEO of Berkshire Hathaway lived a relatively very simple life. He does not upgrade his lifestyle; today he still lives in the house he bought in 1958 for $31,500. This guy is also the world's biggest philanthropist; a title he carried two years ago when he announced that he would give his multi-billion fortune to charity, with 83% of it going to the Bill & Melinda Gates Foundation. When he donated his money, however, being an agnostic, he said, "There is more than one way to get to heaven, but this is a great way."

Despite what the critics say about his motives behind the donation, it is hard to argue he is a humble man, and that humility saves him from trouble (one is reminded of Tyco and Enron bosses, for example). Buffett once quipped:
Of the billionnaires I have know, money just brings brings out the basic traits in them. If they were jerks before they had money, they are simply jerks with a billion dollars.
On the other hand however it is precisely that self-morality and self-righteousness that will lose him his soul. "For what will it profit a man if he gains the whole world and forfeits his soul? Or what shall a man give in return for his soul?" (Matthew 16:26)

Sep 2, 2008

Tiga Kriteria Kotbah yang Baik

Jemaat Allah perlu memahami kriteria kotbah yang baik agar dapat menjadi seperti jemaat Berea yang dipuji karena mereka bukan hanya “menerima firman itu dengan segala kerelaan hati” dari Paulus dan Silas, tetapi “setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian” (Kisah 17:11).

Menurut saya, minimal ada 3 kriteria kotbah yang baik:

1. Memberitakan Firman Allah dengan meng-eksposisi seluruh maksud Allah dalam Alkitab (the whole counsel of God).

Rasul Paulus dalam pesan utamanya pada Timotius memberi sebuah tekanan: Beritakanlah firman (2 Tim 4:1-2). Berkotbah (preach the Word) berbeda dengan mengajar. Dalam 2 Tim 1:10-11 Paulus membedakan perannya sebagai seorang pengkotbah, rasul, dan guru. Kata yang dipakai untuk ‘beritakanlah’ adalah “kerusso” (bhs. Yunani) kata yang dipakai untuk utusan yang hendak menyampaikan perintah raja. Utusan tersebut harus menyampaikan dengan otoritas, intensitas, dan kesungguhan karena yang dipertaruhkan adalah otoritas yang mengutus. Demikian halnya dengan kotbah.

Paulus menulis di ayat sebelumnya: “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya” (2 Tim 4:1). Kita berkotbah mewakili Allah Bapa dan Allah Anak. Taruhannya adalah surga dan neraka. Tidak ada organisasi/ instusi lain yang membahas tentang surga/neraka, keselamatan/kebinasaan, dosa/pengampunan, kecuali gereja. Celaka kalau gereja tidak lagi memberitakan hal tersebut, karena kotbah adalah means of grace, sarana Allah menurunkan anugerah-Nya dan melahir-barukan kita. Richard Baxter menekankan sentralitas dan urgensi dari kotbah ketika ia menulis "I preach as never sure to preach again, and as a dying man to dying men."

Kotbah yang baik, karenanya adalah kotbah eksposisi, meng-ekspose jemaat pada apa yang Allah katakan. “Expose” berarti menundukkan pikiran kita dibawah Firman Tuhan, berbeda dari “impose” yang berarti menaruh pikiran, pendapat, dan minat pribadi di atas Firman Tuhan, atau memakai Firman sebagai pendukung pendapat dan pikiran pengkotbah. Kalimat Haddon Robbison harus selalu diingat oleh setiap pengkotbah:
"Whether or not a minister does biblical preaching starts with the honest answer to the question: "Do I, as a preacher, endeavor to bend my thought to the Scriptures, or do I use the Scriptures to support my thought?"

Kotbah yang baik juga harus menyampaikan the whole counsel of God (Kis 20:27) yang berarti seluruh ajaran, perintah, kehendak Allah yang Ia wahyukan untuk disampaikan pada jemaat-Nya. Sementara bagian jemaat adalah menerima semua wahyu Allah, tanpa pilih-pilih. Inilah yang disampaikan dalam seluruh pengajaran Rasul Paulus selama 2.5 tahun di gereja Efesus. Tentu dalam waktu yg relatif singkat itu, dia tidak membahas ayat per ayat dari Perjanjian Lama, tetapi dia membahas seluruh apa yang disebut DA Carson sebagai "the burden of the whole of God's revelation" yaitu:
- God's purposes in the history of redemption (truths to be believed and a God to be worshiped),
- an unpacking of human origin, fall, redemption, and destiny (a worldview that shapes all human understanding and a Savior without whom there is no hope),
- the conduct expected of God's people (commandments to be obeyed and wisdom to be pursued, both in our individual existence and in the community of the people of God), and
- the pledges of transforming power both in this life and in the life to come (promises to be trusted and hope to be anticipated)
(Challenges for the Twenty-first-century Pulpit, in Preach the Word, pp. 177-178)

2. Membukakan kemuliaan Allah, memaparkan Kristus, dan berfokus pada Injil.

2 Kor 4:3-6 menegaskan bahwa Injil mewartakan kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah. Seringkali kotbah yang dianggap baik adalah yang relevan, yang banyak pakai ilustrasi. Rasul Paulus mengingatkan bahwa ada orang-orang yang memang tidak akan menerima berita Injil, sehingga pengkotbah tidak perlu tergoda menjadikan keinginan jemaat sebagai penentu arah kotbah demi untuk relevan.

Jika kita hanya mencari pengkotbah yang lucu, daripada mendengar kotbah, lebih baik kita menonton Seinfeld atau Everybody Loves Raymond. Jika kita hanya mencari pengkotbah yang memberi cerita-cerita yang mengharukan dan menggerakkan hati, kita akan lebih puas mendapatkannya dari Oprah atau Dr Phil ketimbang pengkotbah manapun. Kotbah yang baik adalah kotbah yang ekspositori, yang menyatakan pikiran Allah, bukan hikmat manusia. Mimbar-mimbar gereja Tuhan akan menyeleweng bila diisi dengan hanya 25% firman Allah, dan 75% filsafat atau psikologi atau sosiologi atau manajemen. Lagi dari Haddon Robinson yang dengan tegas menyatakan:
“If it's not expository and not solidly biblical, I don't care how wonderful the sermon is, I don't care how people line up at the door to tell you it's a great message, and I don't care how many people break down in tears as they listen—if it's not faithful to the Scriptures forget about it. You're not called to be an actor; you're called to be a preacher.”

3. Mentransformasi hidup umat Allah saat mereka melihat dan bersuka dalam kemuliaan Allah.

Allah mengubahkan manusia dengan menyatakan kemuliaan-Nya, sehingga hidup manusia kembali diletakkan dalam perspektif yang tepat di hadapan Allah, dan terus diubahkan dengan kemuliaan yang semakin besar (2 Kor 3:18). Saat kita berhadapan dengan kesucian Allah, kebesaran, kemuliaan, dan keindahanNya, maka kita juga akan diberi hikmat untuk menerapkan Firman Tuhan tersebut dalam konteks hidup kita masing-masing. Inilah cara Allah.

Kotbah yang baik bukan kotbah yang penuh ilustrasi dan aplikasi praktis tetapi kotbah yang membawa kita mengalami personal encounter dengan Allah. Pengkotbah tidak perlu mengkotbah setiap dan seluruh kebutuhan jemaat yang sangat bervariasi. Saat ia setia membukakan jemaat terhadap kemuliaan, kebesaran, keindahan, kesucian, keadilan, dan kedaulatan Allah, disana jemaat akan diubahkan.

Dua contoh yang saya kemukakan disini. Jika dalam jemaat ada para mahasiwa yang sedang kuatir dan resah tentang masa depannya setelah lulus kuliah apakah ia akan mendapat pekerjaan. Apakah pengkotbah mesti membahas tentang "Bagaimana Mencari Pekerjaan Sebagai Anak Allah?" atau "Bagaimana menjadi Konglomerat bagi Allah"? Tentu tidak. Namun jika ia berkotbah tentang kedaulatan Allah, maka disana mahasiswa tersebut akan melihat bahwa masa depannya ada ditangan Allah, dan saat ia kuatir ia sedang tidak mengingkari kebenaran tentang kedaulatan Allah yang akan memelihara hidupnya.

Jika ada sebuah keluarga yang sedang mengalami ketegangan karena suami dan istri merasa tidak cocok, lalu timbul cekcok tiap hari. Bagaimana misalnya kotbah ttg kesucian Allah dapat berbicara kepada mereka? Saat mereka mendengar pengupasan firman Allah tentang kekudusan Allah, mereka menjadi sadar bahwa misalnya (1) mereka telah berjanji untuk menjadi satu tubuh dihadapan Allah yang suci yang menuntut mereka untuk berjuang memperbaiki relasi yg sudah renggan tsb sehingga baik suami maupun istri tidak melakukan tindakan yg tidak suci, (2) mereka sadar bahwa selama ini setiap hari concern dan pemikiran mereka dikuasai dengan masalah-masalah pribadi yang ketika dibandingkan dengan isu kesucian dan kebesaran Allah tiba-tiba menjadi sangat sepele dan remeh. Mereka lalu berdoa "Tuhan, ampuni kami, karena kami tidak pernah peduli ketika kesucian-Mu diinjak-injak, karena kami sibuk membela hak-hak pribadi kami dan lalu melukai perasaan satu sama lain."

Sebagai jemaat, kita perlu menuntut agar kotbah yang disampaikan memenuhi kriteria di atas. Kita juga perlu mendoakan setiap mereka yang berkotbah agar tetap setia pada Firman.

Sep 1, 2008

MBA turns idealists to pragmatists

In the March 2008 edition of the Academy of Management Learning and Education, Peter Navarro reported a recent web-based survey of the MBA core curricula of top-50 ranked US business schools (e.g., Harvard, Stanford, Yale, Kellogg, Sloan) which highlighted, among others, that in a post-Enron world business schools can and should contribute to the development of ethical workplaces. Unfortunately, a 2004 survey-based study found that:
"...an MBA education doesn't build moral character but actually tears it down--turning incoming idealist students into myopic share price maximizers within the space of two short years" (Navarro, 2008, p. 110).

Aug 31, 2008

Unsalted Christians


Matthew 5:13b The Message

Bergulat dengan Virus

Dua minggu ini kami sekeluarga sedang bergulat dengan virus. Di Melbourne hari-hari ini memang banyak orang sakit. Entah siapa dulu yang membawa virus tersebut (biasanya sih anak-anak yg nularin dari sekolah mereka). Kami sekeluarga pilek, batuk, tenggorokan gatel, sakit kalau menelan sesuatu, dst. Si Tiffany sudah dapat antibiotics dari dokter. Calvin yang tadinya kuat akhirnya kena juga. Demikian juga istri saya yg mesti ambil cuti kerja beberapa hari lalu.

Minggu lalu saya kotbah sulit sekali karena hidung dipenuhi dengan mucus jadi setiap 10 menit sekali mesti blowing nose, untung tidak lupa bawa sapu tangan. Hari Rabu kemaren, mestinya sudah jauh membaik. Tapi Kamis malem kembali parah, seakan diserang virus baru. Kalau tadi penuh mucus, sekarang tenggorokan gatel sekali, sehingga mesti batuk setiap 30 detik. Mungkin karena saya ngajar 6 jam penuh hari Kamis pagi-sore, jadi langsung teler. Jumat pagi kembali ngajar 3 jam, tapi batuk melulu di kelas sampai mahasiswa merasa kasihan ngeliatnya.

Semalem si Calvin bangun-bangun terus, tidak seperti biasanya sih dia kayak gitu. Akhirnya saya jadi tidur ayam. Baru bisa nyenyak jam 5 sampai jam 10. Begitu bangun langsung kuatir batuk-batuk terus ga bisa kotbah, tapi saya udah persiapan dari rumah. Sebelum berangkat, minum Panadol, Obat batuk, Vit C, sambil doa. Eh ternyata selama kotbah cuma batuk 3-4x. Sehabis kotbah sampai sekarang kembali batuk-batuk melulu.

Sakit emang ga enak. Apalagi kalau yang sakit sekeluarga. Tapi saya merasa justru saat saya sakit, saya lebih dekat pada Tuhan (dan lebih jauh dari Cemilan dan Coke/Sprite, dst). Karena tenggorokan kering dan batuk2x, saya lebih mengandalkan Tuhan sebelum ngajar dan (apalagi) sebelum kotbah. Juga karena kami sakit, kami lebih banyak di rumah ketimbang jalan-jalan sekeluarga, dan karena di rumah, jadi lebih banyak bisa ngobrol dengan istri dan anak-anak.

Dari Yohanes 11, saya belajar bahwa saat kita sakit, kita dapat datang kepada Yesus dalam doa. Dan sebagaimana Yesus sangat peduli terhadap Lazarus yang sakit keras itu, Dia juga peduli terhadap kita, Dia memiliki belas kasihan. Saat kita sakit, mari kita mengingat bahwa Yesus telah tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu apa yg akan terjadi pada Lazarus, dan Ia tahu apa yg akan terjadi pada kita. Tidak ada penyakit yang terlalu besar yg Yesus tidak dapat atasi. Itu sebab Ia tidak panik atau tergesa-gesa menyembuhkan Lazarus, karena segala sesuatunya Ia kerjakan dalam waktuNya yg sempurna. Jadi saat kita sakit mari kita bersandar sepenuhnya kepada Yesus yang telah mengalahkan segala penyakit bahkan kematian, dan menunggu cara dan waktuNya untuk memulihkan kita.

Doa untuk orang sakit dari the Book of Common Prayers berikut sedang pas dengan kondisi saya:
O Father of mercies and God of all comfort, our only help in time of need: We humbly beseech thee to behold, visit and relieve thy sick servant for whom our prayers are desired. Look upon him with the eyes of thy mercy; comfort him with a sense of thy goodness; preserve him from the temptations of the enemy; and give him patience under his affliction. In thy good time, restore him to health, and enable him to lead the residue of his life in thy fear, and to thy glory; and grant that finally he may dwell with thee in life everlasting; through Jesus Christ our Lord. Amen.

Aug 28, 2008

Why do we serve others?

Why do we serve others as small group leaders, as counselors, as a brother/sister to another brother/sister in Christ? The following quote from Paul Tripp's book gives a solid answer on the purpose of personal ministry:
"Personal ministry is not about always knowing what to say. It is not about fixing everything in sight that is broken. Personal ministry is about connecting people with Christ so that they are able to think as he would have them think, desire what he says is best, and do what he calls them to do even if their circumstances never get 'fixed.' It involves exposing hurt, lost, and confused people to God's glory, so that they give up their pursuit of their own glory and live for his. It is about so thoroughly embedding people's personal stories in the larger story of redemption that they approach every situation and relationship with a 'God's story' mentality. We need to be filled with awe at what the Lord has called us to participate in! ... Biblical personal ministry is more about perspective, identity, and calling than about fixing what is broken" (Paul D. Tripp, Instruments in the Redeemer's Hands: People in Need of Change Helping People in Need of Change, 2001, pp. 185-186).

Aug 26, 2008

Mark Driscoll Interview in Sydney

Mark Driscoll, founding pastor of Mars Hill Church in Seattle is currently in Sydney to be the keynote speaker at several conferences and talks. I heard the 3,000+ online tickets for admission to one of these conferences, Engage Conference, was sold merely in less than 30 minutes! (of course, there is also the "DA Carson" factor apart from Driscoll). Too bad I couldn't come due to work commitments.

Driscoll who described himself as 'a Calvinist in boxer' in one of his books was interviewed by Sydney Anglican in King Cross, the most famous red district in Sydney (obviously, it was done in a broad daylight). Here is the link to the Video Interview where among others he characterized pockets of people in Sydney who perceived various kinds of Jesus but not biblical Jesus.

The Purpose of Preaching

When the people of God come to church every Sunday and hear the Word being preached, one may ask what the ultimate goal of preaching. Is it to get a 'spiritual' warm, sentimental feeling or relief from all sorts of psychological stress or entertainment that includes a few mentions of God in the background? Or is it to hear the wisdom of the preacher which flows from his personal interest, be it psychology, philosophy, sociology, pop culture, etc.? If that is the case, the pulpit becomes a stand-up talk show that boasts the wisdom of men aimed to please the audience. What then is the purpose of preaching?
"The Scottish preacher James Stewart put it like this: The aim of all genuine preaching are:
to quicken the conscience by the holiness of God,
to feed the mind with the truth of God,
to purge the imagination by the beauty of God,
to open the heart to the love of God,
to devote the will to the purpose of God."
(taken from John Piper, The Supremacy of God in Preaching, Revised Ed, Baker, 2004, p. 23).

Aug 25, 2008

ESV Study Bible

I have enjoyed all sneak previews of the ESV Study Bible (primarily through the blog of Justin Taylor, its project managing director) which have been continually presented to the public. For those of you who miss all that, you can catch up with all the news before purchasing your own copy of this much-anticipated Study Bible at its website. Don't forget to check out its blog in one of the menu.

What I found valuable are things like superb articles on Reading the Bible written by people like J.I. Packer (pp. 1-2), Leland Ryken (pp. 3-4), John Piper (pp. 4-6), David Powlison (pp. 6-8), and R. Kent Hughes (pp. 8-10).

Here is a video presentation about the ESV Study Bible:



HT: Justin Taylor

What is Expository Preaching?

The following quote from Dr John Stott's classic book Between Two Worlds (Eerdmans) on the definition of expository preaching (which I cited yesterday in my sermon) in my opinion provides the clearest understanding of expository preaching:

"It is my contention that all true Christian preaching is expository preaching. Of course if by an 'expository' sermon is meant a verse-by-verse explanation of a lengthy passage of Scripture, then indeed it is only possible way of preaching, but this would be a misuse of the word. Properly speaking, 'exposition' has a much broader meaning. It refers to the content of the sermon (biblical truth) rather than its style (a running commentary). To expound Scripture is to bring out of the text what is there and expose it to view. The expositor prizes open what appears to be closed, makes plain what is obscure, unravels what is knotted and unfolds what is tightly packed. The opposite of exposition is 'imposition', which is to impose on the text what is not there. But the 'text' in question could be a verse, or a sentence, or even a single word. It could equally be a paragraph, or a chapter, or a whole book. The size of the text is immaterial, so long as it is biblical. What matters is what we do with it. Whether it is long or short, our responsibility as expositors is to open it up in such a way that it speaks its message clearly, plainly, accurately, relevantly, without addition, subtraction or falsification. In expository preaching the biblical text is neither a conventional introduction to a sermon on a largely different theme, nor a convenient peg on which to hang a ragbag of miscellaneous thoughts, but a master which dictates and controls what is said" (Stott, 1982, p. 125-126).

Shepherding A Child's Heart (2)

I have made a promise a few days ago to cite a few important paragraphs from what I am becoming certain a most influential book on parenting "Shepherding a Child's Heart" by Tedd Tripp.

In the Introduction Chapter, Tripp tackled head-on one of the most avoided issues in the politically correct world, namely parent's authority, and offer a biblical perspective. Here is what he wrote in part:
"By age ten to twelve, scores of children have already left home. I am not referring to the tragic "Times Squares kids" in New York City or your community. I refer to the numbers of children who, by age ten to twelve, have effectively left Mom or Dad as an authority or reference point for their lives" (p xvii).

"You exercise authority as God's agent. You may not direct your children for your own agenda or convenience. You must direct your children on God's behalf for their good. Our culture tends toward the extreme poles on a continuum. In the area of authority, we tend to be either toward a crass kind of John Wayne authoritarianism or toward being a wimp. God calls you by his Word and his example to be authorities who are truly kind. God calls you to exercise authority, not in making your children do what you want, but in being true servants--authorities who lay down your lives. The purpose for your authority in their lives of your children is not to hold them under your power, but to empower them to be self-controlled people living freely under the authority of God" (p. xix-xx).
In this day and age where parental authorities are so undermined that children can now sue their parents if they perceive their freedom have been violated by their parents, it is important to go back to the biblical view of parental authority. On the other hand, there are many parents who abuse their authority figures as parents, those who forget that their authority is merely a derivation of God's, given to them for a specific purpose: to teach their children to be under the ultimate authority that is God himself.

Saat Tradisi Mengikis Esensi

Mendengar lagu rohani dalam irama Hip-Hop bagi sebagian (besar) orang Kristen Indonesia mungkin kedengaran tidak rohani. Lagu rohani berirama keroncong mungkin malah lebih kita terima sebagai musik yang 'rohani'. Sebaliknya kita jauh lebih comfy dengan musik klasik atau pop bila kita ingin mendengar lagu rohani.

Jadi akhirnya soal lagu rohani itu hanya masalah selera. Dan yang lebih aneh lagi, selera kita ditentukan oleh preference kita terhadap jenis musik yang kita suka, bukan kepada isi dari teks lagu. Kita lebih peduli dengan jenis musiknya, dan cuek terhadap teks lagu. Apakah teks tersebut menyatakan Allah, memaparkan Kristus, dan berfokus pada Injil, kita tidak mau tahu asal musiknya pas di telinga kita.

Kesimpulan kita misalnya seperti ini: Pop itu rohani, rock itu duniawi. Klasik itu rohani, Hip-hop itu duniawi.

Jika itu persepsi kita, barangkali karya musik Hip-Hop Kristen berikut ini dapat mengubah konsep kita. Evangel dan Voice adalah dua artis Hip-Hop Reformed yang isi lagu-lagunya sangat biblikal. Sebuah review di Reformation Theology menyimpulkan musik Evangel sebagai berikut:
Basically, Evangel is in fact an evangelist. His music is primarily sermonic, an appeal to the unsaved and to fellow believers alike to be more firmly rooted in the deep doctrinal truths of the Reformation.
Voice yg juga terkenal di US di-'endorse' oleh Pdt John Piper saat ia mengundang Voice untuk perform di gerejanya sebuah piece berjudul Unstoppable:



Bagi Anda yang tertarik, dapat mendengar dan download secara legal beberapa lagu Evangel dan Voice.

Terus terang, daripada mendengar lagu-lagu gerejawi dalam bahasa Latin atau Jerman yang saya tidak ngerti (tapi harus pura-pura menghayatinya), lebih baik mendengar lagu-lagu yg teks-nya saya mengerti spt Evangel dan Voice. Musik-musik seperti ini menolong saya untuk lebih appreciate bagaimana kemuliaan Injil itu dinyatakan dalam berbagai bentuk dan rupa untuk menjangkau orang-orang di luar mainstream tanpa mengkompromikan kebenaran Allah. Isinya jauh lebih mirip teks kitab Roma bahkan dibanding lagu-lagunya Hillsongs.

HT: Challies

Aug 23, 2008

Divorce and Remarriage

Sabtu pagi saya hari ini terisi dengan pergumulan saya tentang apa yang Alkitab ajarkan tentang Divorce and Remarriage. Topik ini adalah salah satu dari segelintir topik yang sulit, karena pemahaman yang berbeda terhadap apa yang dipaparkan Alkitab.

Namun yang membuat topik ini lebih sulit ketimbang topik lain adalah bahwa ini emotionally-charged topic, sehingga hanya membahasnya dari sisi akademis-teologis-filosofis tanpa memperhitungkan sisi emosional-eksistensial tidak akan menolong orang-orang yang sedang bergumul mengalami proses konflik suami-istri yang seringkali sangat pahit dan gelap. Namun sebaliknya juga, tanpa kita serius menggumuli apa yang firman Tuhan katakan tentang topik ini, yang keluar dari nasihat kita kepada mereka yang mengalami adalah common sense, opini manusia yang tidak merefleksikan bijaksana Allah tentang pernikahan yang Ia sendiri mulai jauh sebelum gereja dimulai di Perjanjian Baru. Tidak banyak issue di Alkitab yang memiliki pastoral implications sebesar issue divorce and remarriage.

Di blogosphere beberapa waktu lalu berlangsung cukup seru diskusi tentang topik ini. Diskusi tsb memaparkan tiga pandangan berbeda yang diwakili Dr Andreas Kostenberger, Dr John Piper, dan Dr David Instone-Brewer. Dipicu oleh sebuah artikel yang ditulis oleh Instone-Brewer di Christianity Today tentang perceraian, Piper dan Kostenberger memberikan pendapat mereka yang berbeda. Inti dari posisi mereka tentang , sebagaimana diringkas oleh Kostenberger, adalah sebagai berikut: "To recap, then, in my view Instone-Brewer is too permissive, while Piper is too restrictive". Berikut posisi mereka, dan untuk memahami ketiga posisi tersebut, saya sertakan beberapa paparan mereka. Masing-masing juga telah menulis buku atau bab buku tentang topik ini.

David Instone-Brewer
Ada tiga alasan yang menjustifikasi perceraian
1. Adultery (in Deuteronomy 24:1, affirmed by Jesus in Matthew 19)
2. Emotional and physical neglect (in Exodus 21:10-11, affirmed by Paul in 1 Corinthians 7)
3. Abandonment and abuse (included in neglect, as affirmed in 1 Corinthians 7)

Christianity Today Article "What God has Joined"
Response to Piper and Kostenberger: More from David Instone-Brewer on divorce

Andreas Kostenberger
Ada dua alasan yang menjustifikasi perceraian
1. Adultery (Mat 19:9)
2. Abandomment (1 Cor. 7:12-15)
(catatan: inilah posisi sebagian besar kaum Injili)

First Response: Clarifying the NT Teaching on Divorce
Second Response: Q & A on Divorce and Remarriage

Excerpt dan Chapter 1 dari buku Kostenberger berjudul God, Marriage, and Family
Video Presentation yang bersumber sebagian besar bab buku God, Marriage and Family

John Piper
Tidak ada alasan yang dapat menjustifikasi perceraian

Response to Instone-Brewer: Tragically Widening the Grounds of Legitimate Divorce

Untuk memahami dengan lebih akurat posisi teologis Piper, berikut beberapa tulisan yang akan menolong kita:
- Chapter 40-42 on the subject of marriage, divorce, and remarriage (diambil dari bukunya What Jesus Demands from the World)
- Divorce and Remarriage: A Position Paper
- On Divorce and Remarriage in the Event of Adultery

Aug 21, 2008

Guglielmucci dan Penipuan Penyakit Kanker

Hillsong hari ini kembali membuat sensasi media massa bukan hanya di Australia tetapi juga di luar negeri. Kali ini yang menjadi sorotan berita adalah Pendeta Mike Guglielmucci, salah satu staf hamba Tuhan di Planetshaker, yang awal tahun ini merilis lagu "Healer" yang diproduksi Hillsong. Lagu ini melejit luar biasa, karena kesaksian Guglielmucci dibalik lagu tersebut, yaitu bagaimana ia bergumul dengan penyakit kanker yang ia derita selama dua tahun terakhir.

Namun sebagaimana diberitakan di koran The Australian hari ini, Guglielmucci ternyata tidak menderita kanker. Ia menipu publik bahkan keluarganya sendiri. Berapa video-nya di YouTube telah ditarik dari peredaran oleh Hillsong, demikian juga kesaksiannya didepan publik sebelum ia menyanyikan lagu tersebut dengan selang oksigen di hidungnya. Bagi yang penasaran ingin tahu lagu tersebut masih dapat melihatnya di sini.

Dari beberapa blog yang saya baca, banyak sekali anggota jemaat yang kecewa menghadapi realita ini, apalagi Guglielmucci termasuk seorang pengkotbah yang sangat baik dan dihormati oleh semua orang. Disisi lain kegagalan pemimpin seperti ini perlu dilihat dari kacamata pengikut juga, yaitu bahwa seringkali karena pengikut meng-idolakan pemimpin, maka ada ekspektasi yang tinggi yang selalu diberikan pengikut kepada pemimpin. Akhirnya, si pemimpin merasa tertekan untuk selalu memenuhi ekspektasi tersebut, berapapun harganya. Disisi lain, tentu ini juga dosa si pemimpin, yang membuat kesuksesannya menjadi bola salju yg harus terus menggelinding dan akhirnya menghalalkan segala cara untuk terus-menerus sukses. Akhirnya, ia jatuh karena kesuksesan yang telah menjadi penjara baginya.

Kiranya belas kasih Allah menolong dia bertobat dari dosanya dan kembali pulih, sehingga Setan tidak mengambil keuntungan tambahan dari apa yang ia sudah nikmati dari kejatuhan pendeta Guglielmucci.

Aug 19, 2008

Alexandr Solzhenitsyn

Minggu lalu di kelas leadership yang saya asuh, saya mengajak mahasiswa untuk membahas Alexander Solzhenitsyn, salah satu pengarang dari Rusia yang paling berpengaruh di dunia di abad ke-20. Ia baru saja meninggal pada tanggal 3 Agustus yang lalu di usia 89 tahun, namun yang ia tinggalkan kepada dunia tetap hidup jauh melampaui masa hidupnya.

Solzhenitsyn dipenjara antara tahun 1945-1953 gara-gara kritik yang ia lontarkan terhadap tiran Josep Stalin. Ia dijebloskan ke neraka buatan Stalin yang terkenal, The Gulag. Penderitaan yang dia alami dalam kamp konsentasi buatan Stalin begitu hebat, namun ketegarannya menghadapi semua itu begitu luar biasa. Ia mengubah penanya menjadi sebuah pedang dan tulisan-tulisannya menjadi tentara militer, meng-ekspose seluruh kebrutalan eksperimen komunis di Rusia. Penerima Nobel Prize di tahun 1970 ini dikenal sebagai 'one-man resistance movement against Communist Totalitarianism." Dalam teks pidato penerimaan Nobel yang diselundupkan oleh rekannya kepada dunia karena ia tidak menghadiri upacaranya, ia menulis "One word of truth shall outweigh the whole world."

Kekejaman komunisme di Rusia tidak akan pernah diketahui oleh dunia kalau Solzhenitsyn tidak menulis seluruh peristiwa tersebut, dan pengalamannya sendiri, ke sebuah buku setebal 300,000-kata berjudul The Gulag Archipelago. Seorang rekan saya memberi buku tersebut 8 tahun yang lalu. Apa yang ia tulis dalam buku tersebut begitu mencekam, namun begitu riil. Dia menjelaskan dalam buku tersebut mengapa cerita kekejaman komunisme tersebut harus ia paparkan kepada dunia:
"We have to condemn publicly the very idea that some people have the right to repress others. In keeping silent about evil, in burying it so deep within us that no sign of it appears on the surface, we are implanting it, and it will rise up a thousandfold in the future. When we neither punish nor reproach evildoers, we are not simply protecting their trivial old age, we are thereby ripping the foundations of justice from beneath new generations."
Yang luar biasa bagi saya adalah bahwa sebagian besar dari bukunya sebenarnya ia telah tulis di penjara, tepatnya ia telah hafalkan di kepalanya setiap hari, ratusan bahkan ribuan baris kalimat, agar dia dapat menuangkannya dalam bentuk tulisan saat ia dilepaskan dari penjara. Konfiksi ini begitu kuat berada dalam dirinya. Dia dilepaskan dari Gulag pada hari yang sama Stalin meninggal. Namun kemerdekaannya tersebut tidak dia isi dengan hidup berfoya-foya. Ia membuat sebuah resolusi untuk terus menulis dan mengajar. Ia menulis:
"I could have enjoyed myself so much, breathing the fresh air, resting, stretching my cramped limbs, but my duty to the dead permitted no such self-indulgence. They are dead! You are alive: Do your duty. The world must know all about it."
Meski ia mengenali konfiksi hidupnya di usia senja, namun konfiksi tersebut mengubah drastis arah dan fokus hidupnya. Ia merasa begitu berhutang kepada para korban tanpa nama yang tewas di tangan Stalin, dan kemudian memilih untuk menjadikan hal tersebut menjadi misi pribadinya dihadapan Allah.

Erickson yang menulis tentang Solzhenitsyn berpendapat bahwa kunci untuk memahami pemikiran dan pergumulan hati Solzhenitsyn adalah iman Kristiani-nya. Di tengah sekulerisme dan humanisme yang mendominasi elit intelektual dizamannya, ia memegang teguh iman percayanya kepada Kristus. Di tahun 1978, ia diundang oleh Harvard University untuk memberikan pidato wisuda yang begitu terkenal sampai hari ini. Pidato berjudul "A World Split Apart" tersebut berisi kritik yang ia uraikan tentang kebangkrutan moral dan spiritual yang terjadi di Barat akibat sekulerisme dan humanisme. Berikut kutipan dari teks pidatonya di Harvard yang dapat diakses lengkap di sini:
However, in early democracies, as in the American democracy at the time of its birth, all individual human rights were granted because man is God's creature. That is, freedom was given to the individual conditionally, in the assumption of his constant religious responsibility. Such was the heritage of the preceding thousand years. Two hundred or even fifty years ago, it would have seemed quite impossible, in America, that an individual could be granted boundless freedom simply for the satisfaction of his instincts or whims. Subsequently, however, all such limitations were discarded everywhere in the West; a total liberation occurred from the moral heritage of Christian centuries with their great reserves of mercy and sacrifice. State systems were -- State systems were becoming increasingly and totally materialistic. The West ended up by truly enforcing human rights, sometimes even excessively, but man's sense of responsibility to God and society grew dimmer and dimmer.
Melalui kacamata iman Kristen inilah, Solzhenitsyn mengerti bagaimana kejahatan (evil) seperti yang ia alami sendiri dapat dikalahkan. Ia menulis dalam bukunya bahwa garis yang memisahkan antara kebaikan dan kejahatan ada dalam hati manusia:
"It was granted to me to carry away from my prison years on my bent back, which nearly broke beneath its load, this essential experience: how a human being becomes evil and how good. In the intoxication of youthful successes I had felt myself to be infallible, and I was therefore cruel. In the surfeit of power I was a murderer and an oppressor. In my most evil moments I was convinced that I was doing good, and I was well supplied with systematic arguments. It was only when I lay there on rotting prison straw that I sensed within myself the first stirrings of good. Gradually it was disclosed to me that the line separating good and evil passes not through states, nor between classes, nor between political parties either, but right through every human heart, and through all human hearts. This line shifts. Inside us, it oscillates with the years. Even within hearts overwhlemed by evil, one small bridgehead of good is retained; and even in the best of all hearts, there remains a small corner of evil" ((The Gulag Archipelago: 1918-1956, Vol. 2, 615-616).
Ketika ia dipenjara, ia tidak pernah kecewa, marah, apalagi mengutuki Allah. Sebaliknya ia bersyukur kepada Allah untuk pengalaman penjara tersebut karena ia menemukan arti hidupnya ketika ia berada dalam penjara, bahkan imannya mengkristal ketika justru ia berada dalam kegelapan hidup yang paling brutal. Saya sering takjub melihat bagaimana penjara seringkali sebuah training ground yang paling ampuh membentuk konfiksi hidup manusia, mulai dari Yusuf di Mesir, Martin Luther King, Jr., sampai Solzhenitsyn:
"That is why I turn back to the years of my imprisonment and say, sometimes to the astonishment of those about me: “Bless you, prison!” I...have served enough time there. I nourished my soul there, and I say without hesitation: “Bless you, prison, for having been in my life!” (The Gulag Archipelago: 1918-1956, Vol. 2, 617).
Berikut liputan CNN di hari dia meninggal dunia 3 Agustus 2008:

Doa bersama dan untuk Anak

Trevin Wax di blog-nya mensharingkan waktu doa yang ia lakukan bersama anaknya setiap malam. Untuk mendorong anaknya berdoa, dia membuat variasi doa yang saya kira sangat baik:

1. Apostles’ Creed (with motions)
2. May the Lord Almighty grant us and those we love a peaceful night and a perfect end.
3. Our help is in the Name of the Lord, the maker of heaven and earth. (Psalm 124:8)
4. Confession: Almighty God, our heavenly Father, we have sinned against you, through our own fault, in thought, word and deed, by what we have done, and by what we have left undone. For the sake of your Son, our Lord Jesus Christ, forgive us all our offenses, and grant that we may serve you in newness of life, to the glory of your name, Amen. (The Book of Common Prayer)
5. Gloria: Glory to the Father, to the Son, and to the Holy Spirit, as it was in the beginning, is now and will be forever, Amen.
6. Bible Memorization: Choose a psalm or a Bible passage you want your kids to know by heart. Quote it here for a few weeks.
7. The Lord’s Prayer: We use the ESV.
8. Into your hands, O Lord, I commend my spirit, for you have redeemed me, O Lord, O God of truth. Keep me, O Lord, as the apple of your eye. Hide me under the shadow of your wings. (Psalm 17:8, 31:5)
9. Personal, spontaneous prayers: Each member of the family prays for a minute or two whatever is on our hearts.

Thanks, Trevin. I will try to apply the above with my kids.

Book Review: Shepherding A Child's Heart (1)

Saya ingin mempromosikan (tanpa komisi tentunya...) kedua buku disebelah kiri ini. Ada banyak buku Christian parenting yang kita bisa baca, namun kedua buku karangan Tedd Tripp ini adalah buku yang benar-benar biblical, menolong kita untuk mendidik anak dengan berfokus kepada masalah yang paling esensial yang disorot oleh Allah, yaitu masalah hati. Saat ini saya sedang membaca ulang (kali kedua) buku yang pertama, Shepherding the Heart, dan akan share beberapa point penting yg dipaparkan oleh pengarangnya dalam posting kali ini dan beberapa mendatang secara berseri (saya sengaja mengunyah buku ini dengan sangat perlahan agar memiliki waktu diantara setiap bab untuk mengaplikasikannya kepada anak saya sendiri - It's a tough job!)

Kutipan dari Preface to the Second Edition:
"God is concerned with the heart - the well-spring of life (Prov 4:23). Parents tend to focus on the externals of behavior rather than the internal overflow of the heart. We tend to worry more about the "what" of behavior than the "why". Accordingly, most of us spend an enormous amount of energy in controlling and constraining behavior. To the degree and extent to which our focus is on behavior, we miss the heart . . . When we miss the heart, we miss the subtle idols of the heart. Romans 1 makes it clear that all human beings are worshippers; either we worship and serve God, or we make an exchange and worship and serve substitutes of God - created things rather than the Creator (Romans 1:18-25) . . . When we miss the heart, we miss the Gospel. Those internal issues: self-love, rebellion, anger, bittnerness, envy, and pride of the heart show our children how profoundly they need grace . . . When we miss the heart, we miss the glory of God. One of the most important callings God has given parents is to display the greatness, goodness, and glory of the God for whom they are made. We know that the greatest delights our children can ever experience are found in delighting in the God who has made them for his glory." (pp xi-xii).

Dengan introduksi seperti diatas, kita mendapat gambaran tentang benang merah dan tekanan tema buku ini. Bagian pertama membahas tentang tujuan dan metode biblikal dari mendidik anak. Bagian kedua berbicara tentang aplikasinya dalam berbagai tingkatan umur, mulai dari balita sampai remaja. Dalam beberapa hari/minggu ke depan, saya akan mensharingkan apa yg saya dapat dari buku ini, dan ingin mengundang Anda para pembaca blog ini untuk membagikan juga kesan dan pengalaman Anda sebagai orang tua atau calon orang tua atau guru Sekolah Minggu.

Christian Leadership Conference X

CLC 10 baru saja berlalu minggu yang lalu, 7-9 Agustus. Tidak terasa telah 10 tahun acara tahunan ini berlangsung. Topik untuk 10th anniversary ini kembali kepada basic, yaitu bagaimana menjadi bible-saturated leaders. Mengambil tema "RESOLVED", menyitir dari Jonathan Edwards, ayat emas yang dipakai diambil dari 1 Tim 4:16 "Keep a close watch on yourself and on your teaching", CLC yang diikuti sekitar 60 orang kali ini menghadirkan dua keynote speakers: Pdt Stefanus Theofilus (Gembala Sidang, GII Vancouver BC) dan Ev Yuzo Adhinarta (PhD Candidate, Calvin Seminary). Saya sendiri hanya mengisi sesi pembukaan. Berikut beberapa highlight yang muncul dalam sesi-sesi CLC.

Stefanus Theophilus
Roh Kudus adalah “Penolong yang lain.” Kata “yang lain” dalam bahasa Yunani adalah kata ‘Halos’, bukan ‘Heteros’. Halos berarti berbeda secara kualitas (Pak Steve bercerita bgmana dirinya berbeda dengan si Bleki karena dia adalah manusia dan Bleki adalah anjing). Heteros berbeda secara bentuk (Pak Steve berbeda dengan seorang peserta CLC Stefanus meski sama manusia, sama mampu makan, tidur, kerja, dst.). Jadi yang dimaksud dalam Injil Yohanes adalah bahwa Roh Kudus adalah Allah, pribadi ketiga dari Allah tritunggal, yang berbeda dalam hal peran dan fungsi.

Banyak orang hari ini yang memanipulasi Roh Kudus. Misal, Pendeta meminta jemaat untuk memberi persembahan. Anggota jemaat bilang dia hanya memiliki tanah yang ternyata tidak bisa dipakai untuk apapun karena tanahnya goyang. Pendeta mengatakan serahkan pada gereja saja, nanti kita doa. Lalu pendeta mengontak salah satu investor dan ternyata investor tersebut bersedia membeli tanpa bertanya tentang kualitas tanah tersebut. Pdt tersebut lalu berkata bahwa Roh Kudus bekerja dan turun menguasai pikiran investor tersebut sehingga mereka tidak lagi bertanya kualitas tanah tersebut. Contoh ini membuat kita seharusnya kritis bertanya apakah itu adalah pekerjaan Roh Kudus atau pekerjaan Setan yang menguasai pikiran pendeta tersebut.

Orang Kristen punya kecenderungan untuk ‘mendandani’ Tuhan. Kita kuatir Tuhan namaNya jelek, sehingga kita berusaha keras untuk merasionalisasi segala hal yang terjadi di sekitar kita. Misal, saat seorang gagal atau mengalami penderitaan, kita tidak mengatakan bahwa Allah mengijinkan atau menghendaki hal tersebut, tetapi kita menganggap orang tersebut pasti ada dosa karena Allah tidak mungkin membuat anaknya gagal atau menderita.

Dalam konteks pimpinan Roh Kudus, maka ayat “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati” artinya apa bagi seorang pengusaha Kristen misalnya? Cerdik seperti ular artinya adalah bahwa ia tidak mudah ditipu oleh orang lain, dan tulus seperti merpati adalah ia tidak menipu orang lain meskipun kesempatan tersebut ada.

Jika kita melihat PB, khususnya Kisah Para Rasul, justru ketika para rasul dan murid Kristus hidup taat dibawah pimpinan Roh Kudus, ketika mereka 'dipenuhi' Roh Kudus, mereka mengalami berbagai penderitaan. Penderitaan fisik dan emosi. Anehnya, hari ini orang Kristen merasa dipenuhi Roh Kudus saat mereka menerima berkat atau menampilkan menifestasi-manifestasi yang lucu dan menggelikan.

Kita adalah orang Kristen yang sangat kampungan jika kita merasa diberkati Allah saat kita mendapat pekerjaan, lulus ujian, memperoleh hadiah, dst. Jika itu konsep berkat yang kita miliki, kita tidak perlu datang kepada Yesus. Karena diluar Yesus, ada banyak dukun dan jimat yang dapat memberikan semua itu. Alkitab mensaksikan bahwa pimpinan dan kepenuhan Allah justru terjadi ketika rencana dan kehendak Allah digenapi dalam hidup seseorang, dan itu berarti penyangkalan diri. Pak Steve memberikan kesaksian bagaimana dia suatu hari ditelpon seseorang yang mengatakan ia memerlukan beberapa puluh juta dalam waktu singkat untuk dapat terus menunjang sekelompok profesional yang ditunjang hidupnya. Tanpa uang tersebut, sekelompok orang ini tidak akan dapat menyelesaikan tugas mereka. Dalam keputusasaan pak Steve bergumul keras karena ia tahu tidak mungkin dapat memperoleh uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tapi tiba-tiba ada seorang lain yg menelpon beliau dan berkata bahwa ia diberkati usahanya oleh Allah dan sudah berjanji akan memberi persembahan iman berupa sebuah mobil utk Pak Steve. Ketika diberi pilihan mobil apa yang ia inginkan, pak Steve sempat bergumul dengan istrinya, namun ia tahu jelas bahwa ini jawaban doanya. Maka ia berkata, "Thanks untuk persembahan kasih dari mu, aku akan pakai uang tersebut utk menolong sekelompok orang yg sedang membutuhkan saat ini. Kalau engkau tulus memberi, bagaimana uang tersebut digunakan adalah 100% hak saya. Thanks yah..." Meski ia butuh mobil saat itu, ia tahu Allah sedang bekerja dalam semua hal tersebut (pak Steve buru-buru menambahkan dia masih tetap perlu mobil kalau ada yang mau memberikan akan ia terima dengan senang hati ..... hahaha :)

Yuzo Adhinarta
Gereja berada dalam sebuah urgency karena ada gap antara doktrin dan hidup. Yang mengaku dipenuhi Roh Kudus doktrinnya kacau balau. Sedangkan yang tahu banyak doktrin, hidupnya kacau balau. Ada seorang pendeta yang dengan berani menyatakan di depan jemaatnya: “Allah memerintahkan saya untuk menikahi sekretaris saya, saya mencoba menolak, tetapi Allah begitu jelas menyatakan kehendakNya berulang-ulang.” Belakangan diketahui bahwa sebelum dia mengeluarkan pernyataan tersebut, ternyata sekretarisnya sudah hamil duluan.

Karya RK memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Apa atau siapa kebenaran tersebut? Roh Kudus memimpin kita kepada Kristus, yang adalah Sang Kebenaran. Seorang teolog mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ‘the shy member of the Trinity’, karena Dia tidak pernah berkata-kata tentang diriNya sendiri, tetapi selalu menunjuk kepada Kristus Yesus. Sehingga hidup yang dipenuhi Roh Kudus adalah hidup yang semakin serupa Kristus.

Kalau orang Kristen tidak suka baca Alkitab, merenungkan Firman Tuhan, mungkin surga bukan tempat kita. Karena disana kita akan merasa bosan bersekutu, bercakap-cakap dengan Allah sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat melewati masa kekal bersama Allah jika kita terus-menerus menolak untuk memakai waktu bersamaNya dalam dunia yang sementara ini?

Ketika seorang peserta bertanya bgmana mengetahui pimpinan Allah dalam mencari jodoh, Yuzo menjawab bahwa Alkitab tidak memberi deskripsi konkrit tentunya untuk memilih pasangan kita. Di Alkitab saja, hanya ada 3 orang yang Allah secara langsung menyediakan istri, yaitu bagi Adam, Ishak, dan Hosea. Dari tiga keluarga yg Allah secara langsung pasangkan tesrebut, dua adalah keluarga bahagia, satu keluarga menderita. Namun ketiganya terjadi untuk menggenapi rencana Allah. Sisanya Allah tidak menunjuk langsung. Tapi Alkitab memberi guideline. Satu, mesti satu dalam iman kepada Kristus Yesus. Kedua, mesti sama-sama memiliki visi untuk memuliakan Allah dalam hidup ini, dan sepanjang hidup ini sebelum dan sesudah menikah dalam profesi, keluarga, mendidik anak, gereja, dst.

Aug 14, 2008

Rick Warren: Global Leader

Rick Warren was recently featured in the latest TIME magazine. In it he was reported as a highly successful pastor who quickly became the jack of all trades. What caught my attention was the following paragraph:

"The only worry one might have about Rick Warren," says Michael Cromartie, a prominent Washington Evangelical with the U.S. Commission on International Religious Freedom, "is that he gets so many balls going up in the air that one might ask, 'Does he have enough hands to catch them?'" Warren has clearly heard this before. "God has given me the ability to manage my time pretty well," he says. "I can handle a lot of balls." Everything he does, he claims, feeds everything else. "I'm a door opener and a bridge builder," he insists. "If I weren't doing it, I'd be dead and in my grave."

No doubt he has been used quite amazingly by God with his book, PEACE program, and all. But as many of his predecessors showed, one's major strength can well be one's major weakness. He is now walking on a tightrope juggling so many balls. A person with 21 commitments will never be effective no matter how amazingly talented he or she is. Setting a limit for ourselves to and only to the portion God wants us to get involved is a key to ministry longevity.

Aug 12, 2008

Pemimpin dan Kejatuhan Moral

Saat mata seluruh dunia terpaku sajian kolosal pembukaan Olimpiade pada tanggal 08/08/08 kemarin, ada sebuah berita yang tidak kalah heboh. John Edward, salah seorang kandidat Presiden US, mengakui dihadapan publik akan penyelewengan di luar nikah, extra-marital affair, yang ia lakukan. Meski tadinya peluang Edwards menjadi presiden sangat tipis, ia memiliki kesempatan untuk menjadi Wakil Presiden dari Obama, namun harapan itu kini menguap karena affair yang ia lakukan di tahun 2006.

Berikut pernyataan publik yang dimuat selengkapnya di situs Politico:
In 2006, I made a serious error in judgment and conducted myself in a way that was disloyal to my family and to my core beliefs. I recognized my mistake and I told my wife that I had a liaison with another woman, and I asked for her forgiveness. Although I was honest in every painful detail with my family, I did not tell the public. When a supermarket tabloid told a version of the story, I used the fact that the story contained many falsities to deny it. But being 99% honest is no longer enough.

I was and am ashamed of my conduct and choices, and I had hoped that it would never become public. With my family, I took responsibility for my actions in 2006 and today I take full responsibility publicly. But that misconduct took place for a short period in 2006. It ended then. I am and have been willing to take any test necessary to establish the fact that I am not the father of any baby, and I am truly hopeful that a test will be done so this fact can be definitively established. I only know that the apparent father has said publicly that he is the father of the baby. I also have not been engaged in any activity of any description that requested, agreed to or supported payments of any kind to the woman or to the apparent father of the baby.

It is inadequate to say to the people who believed in me that I am sorry, as it is inadequate to say to the people who love me that I am sorry. In the course of several campaigns, I started to believe that I was special and became increasingly egocentric and narcissistic. If you want to beat me up – feel free. You cannot beat me up more than I have already beaten up myself. I have been stripped bare and will now work with everything I have to help my family and others who need my help.

I have given a complete interview on this matter and having done so, will have nothing more to say.


Saya pernah diskusi dengan Pdt Yung Tik Yuk apakah dosa kejatuhan seksual sebagai dosa yang lebih besar, lebih berat, lebih rendah, daripada dosa gosip, sombong, dst. Alkitab memang berkata bahwa ada hukum Allah yang lebih penting dibanding hukum yang lain (Mat 5:17-20; 22:37-39), dan sebagai implikasinya, ada dosa yang berat dibanding dosa yang lain. Di mata Allah, memang semua dosa, kecil atau besar, tetap adalah dosa. Pertanyaannya, kenapa dosa moral harus membuat seorang pemimpin seperti Edwards harus mundur, sementara dosa-dosa pemimpin lain (kesombongan, memanipulasi bawahan, konspirasi memfitnah orang lain, dst) tidak membuat dia merasa disqualified dari peran dan posisi kepemimpinan tersebut? Dengan kata lain, isunya adalah: Apa ada sih sesuatu yang unik tentang dosa seksual yang begitu ampuh merontokkan seorang pemimpin tiada hentinya dari waktu ke waktu?

1. Extra-marital affair tentu tidak menjadi a powerful disqualifier karena dosa tersebut lebih jarang terjadi baik secara intensitas maupun frekuensi dibanding dosa lain (gosip, fitnah, manipulasi, etc.). Meski mungkin itu persepsi banyak orang. Karena dosanya 'malu-maluin', jadi kalau ada pemimpin besar yg terpeleset ke sana, langsung mesti turun atau menurunkan diri.

Saya mencoba melihatnya dari 1 Korintus 6 dimana rasul Paulus menulis keunikan dosa percabulan: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: "Keduanya akan menjadi satu daging . . . Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri" (6:16, 18). Di ayat-ayat diatas, kita tahu bahwa Paulus jelas mengkategorika dosa tersebut sebagai dosa yang serius yang menodai untuk selamanya institusi pernikahan yang Allah tetapkan. Karena orang yg melakukan dosa tersebut menjadi satu tubuh dengan dua orang wanita (atau dua orang pria) yang berbeda. Itu sebab dosa percabulan harus dilihat menjadi dosa yg serius.

2. Edwards mengakui bahwa dosa percabulan yang ia lakukan terkait dengan dosa kesombongan: "In the course of several campaigns, I started to believe that I was special and became increasingly egocentric and narcissistic." Persepsi diri merasa spesial dan layak diperlakukan secara khusus, sehingga muncul konsep diri yang narsisis berkontribusi pada dosa percabulan, dalam kasus Edwards (dan banyak kasus pemimpin lain). Sebenarnya kesombongan inilah yang sering menjadi faktor utama penyebab kejatuhan pemimpin, mulai dari sejak zaman PL (Raja Uzia misalnya) sampai hari ini dalam kasus Edwards.

Peringatan Spurgeon kepada para hamba Tuhan, para pengkotbah, tetap perlu diulang terus-menerus di zaman ini: "When a preacher of righteousness has stood in the way of sinners, he should never again open his lips in the great congregation until his repentance is as notorious as his sin" (Lectures to My Students, p. 14). Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah kalimat tsb dapat diterapkan ke dalam lingkaran yang lebih besar: Elders, majelis, pengurus komisi, pemimpin Kristen di perusahaan, dst?

Aug 5, 2008

Melongok dunia lewat Google

Siapa yang pernah sangka bahwa sekarang orang tua saya di Indonesia bisa check lewat internet apakah saya sudah potong rumput di depan tempat tinggal saya di Melbourne?

Hari ini Google melakukan launching Street View map untuk Australia. Sehingga hampir semua jalan dan tempat di Australia dapat dilihat dari Internet. Dalam artikel The Age berikut, dilaporkan bgmana orang di US yg protes terhadap Google karena kehilangan privacy mereka. Jawaban Google, "even in today's desert, complete privacy does not exist."

Teknologi yang menciptakan begitu banyak convenience bagi manusia hari ini semakin ampuh dan berguna. Aplikasi dari mapping tool ini memang bisa bermacam-macam, dari yang positif sampai negatif. Yang positif yang saya terpikir: Memberitahu orang untuk datang ke gereja dengan lebih mudah, melihat points of interest jika ingin liburan ke suatu tempat, mengurangi kemungkinan kesasar bila ingin bertamu ke rumah orang, dst. Namun yang negatif tidak kalah banyak. Bayangkan kalau profesi saya adalah maling jemuran. Tidak ada jemuran yang akan aman di pekarangan rumah orang. Berbagai bentuk kejahatan akan lebih mudah dilakukan dgn teknologi ini. Memang tangan seorang manusia berdosa dalam dunia yang sudah jatuh ini, teknologi yang tadinya netral dapat menjadi alat untuk berbuat dosa. Nasehat Paulus kepada Timotius untuk secara konstan memperhatikan hidup-nya dan ajaran-nya (1 Tim 4:16) adalah nasehat yang sangat relevan bagi kita di abad ke-21 ini.

Berikut video resmi dari Google ttg teknologi Street View map tersebut: