Showing posts with label ministry. Show all posts
Showing posts with label ministry. Show all posts

Aug 12, 2009

Light these idle sticks

"God, I pray Thee,
light these idle sticks of my life and may I burn for Thee.
Consume my life, my God, for it is Thine.
I seek not a long life, but a full one, like you, Lord Jesus."

Jim Elliot, quoted in Shadow of the Almighty, page 247.

HT: Ray Ortlund

Aug 2, 2009

Heaven, Hell, and Ministry (in Bahasa)

Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Tim 4:1-8).

Sesaat sebelum dia dijatuhi hukuman mati, Paulus menuliskan kalimat-kalimat terakhirnya dalam 2 Timotius 4 kepada Timotius dan jemaat Efesus tentang keseriusan menunaikan tugas pelayanan kita. Memulai sebuah pelayanan memang tidak mudah, namun setia dalam pelayanan tersebut sampai pada akhir hidup jauh lebih sulit. Selama 30 tahun melayani Kristus, Paulus mengalami banyak tantangan fisik dan mental. Namun di akhir hidupnya Paulus menjadikan dirinya sebagai teladan bagi Timotius yang masih muda dan pemalu, dan menulis: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” (note: yang baik bukan cara Paulus bertanding, tetapi pertandingan yang ia pilih).

Tantangan yang dihadapi Timotius akan sangat berat. Kalau dalam pelayanan Paulus saja, hamba Allah yang diberikan talenta dari Tuhan yang luar biasa, ia ditinggalkan oleh ‘Demas yang mencintai dunia ini’ (4:10) dan “semua mereka yang di daerah Asia Kecil…termasuk Figelus dan Hermogenes” (1:15), betapa mudah bagi Timotius untuk menjadi kecil hati, kecewa, dan putus asa dalam pelayanan? Jika orang-orang yang kita layani adalah orang-orang yg menurut Paulus adalah orang yang ‘mencintai dirinya sendiri …suka menjelekkan orang…berlagak tahu… menentang kebenaran’ (3:2-9), siapa yang akan tahan dalam pelayanan? Apalagi semua pelayan Kristus yang memilih pertandingan yang baik tahu bahwa semakin lama melayani, semakin sulit dan berat.

Tidak heran banyak orang Kristen yang tadinya aktif melayani sekarang (1) melayani ala kadarnya tanpa ada api cinta yang berkobar-kobar bagi Kristus, atau (2) samasekali tidak lagi melayani lalu memilih pertandingan yang lain (fokus di bisnis/keluarga, etc.)

Bagaimana memiliki api motivasi dan persistensi pelayanan yang terus berkobar bagi Kristus?

Pertama, dengan menyadari kengerian neraka. “Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati (2 Tim 4:1)”. Orang-orang belum percaya yang kita layani hanya mempunyai dua pilihan di akhir hidup mereka: surga atau neraka. Apabila kita dapat membayangkan kengerian spiritual neraka di mana jiwa manusia terpisah dengan Allah secara kekal, kita akan menyadari bahwa kita memikul sebuah konsekuensi besar dalam pelayanan karena implikasinya adalah kekekalan. Pelayanan yang sembarangan (asal jadi) dan kesaksian hidup yang tidak dijaga dapat menjerumuskan orang ke dalam neraka. Atau minimal semakin dekat ke sana!

Kedua, dengan menyadari kemuliaan surga. Paulus berkata “tersedia bagiku mahkota kebenaran… juga kepada semua orang… (2 Tim 4:8)”. Salah satu tafsiran berkata bahwa akan ada tingkatan-tingkatan pahala atau upah di surga, berdasarkan pelayanan kita di dunia. Pahala ini bukan soal materi. Tetapi soal kapasitas kita menikmati Allah.

Semua orang di surga akan bahagia bersama Allah secara maksimal, namun kapasitas maksimal seorang akan berbeda dengan orang lain. Orang yang setia melayani memiliki kapasitas yang lebih besar dibanding orang yang melayani dengan asal-asalan. Yang paling kecil adalah orang yang tidak melayani. Kalau surga adalah adalah sebuah konser klasik, yang paling menikmati konser tersebut adalah orang yang memahami musik klasik. Semakin dalam ia paham, semakin ia menikmatinya. Setiap tetes keringat, air mata, dan darah yang kita cucurkan dalam pelayanan pada Kristus membuat kita semakin kenal Dia.

Jul 30, 2009

Why Ministry is a Better Investment than Blue Chip Stocks

Investment gurus always advise whoever wants to listen to invest in blue chip stocks because they are reliable stocks in a volatile market and will deliver solid returns year after year to investors. But there is an investment that has a far greater probability of higher return: Ministry.

Fulfilling our ministry in obedient gratitude to the Lord is a better investment than blue chip stocks because:

1. The return of ministry is eternal; it goes beyond this life.
Meanwhile, the return of blue chips is limited to this life. “Do not lay up for yourselves treasures on earth, where moth and rust destroy and where thieves break in and steal, but lay up for yourselves treasures in heaven, where neither moth nor rust destroys and where thieves do not break in and steal" (Matt 6:19-20)

2. The return of ministry in the afterlife knows no limit
Ministry does help us to enlarge our capacity to receive a never-ending joy that flows from God in heaven. The more we serve God, the bigger the joy we experience in heaven. Each drop of sweat, tear, and (even) blood counts. “Blessed are you when others revile you and persecute you and utter all kinds of evil against you falsely on my account. Rejoice and be glad, for your reward is great in heaven, for so they persecuted the prophets who were before you" (Matt 5:11)

3. Ministry has eternal consequences: heaven and hell.
Blue-chips only have temporal consequences while enslave us. "I charge you in the presence of God and of Christ Jesus, who is to judge the living and the dead, and by his appearing and his kingdom: preach the word.. fulfill your ministry" (2 Tim 4:1-4). Those we serve will either end up in heaven or hell. If we preach anything but Christ (and that includes philosophy, psychology, and everything that satisfies our itching ears), the hearers will end up in hell. For non-preachers, your ministry also has hellish consequences. Mahatma Gandhi remained a Hindu because he was denied entry by ushers at a church in London. To which he replied "If you have a caste system in Christianity, I might as well remain a Hindu"

4. Ministry is 'the good fight'
Christ Jesus who will judge the living and the dead will also give the crown of righteousness to those who, like Paul, have fought a good fight, finished the race, and kept the faith (2 Tim 4). Paul did not refer to the way he fought, but that he has chosen a good fight. The good fight. And that is serving Christ Jesus. Others like Demas chose a different fight, building up the kingdom of the world.

Aug 28, 2008

Why do we serve others?

Why do we serve others as small group leaders, as counselors, as a brother/sister to another brother/sister in Christ? The following quote from Paul Tripp's book gives a solid answer on the purpose of personal ministry:
"Personal ministry is not about always knowing what to say. It is not about fixing everything in sight that is broken. Personal ministry is about connecting people with Christ so that they are able to think as he would have them think, desire what he says is best, and do what he calls them to do even if their circumstances never get 'fixed.' It involves exposing hurt, lost, and confused people to God's glory, so that they give up their pursuit of their own glory and live for his. It is about so thoroughly embedding people's personal stories in the larger story of redemption that they approach every situation and relationship with a 'God's story' mentality. We need to be filled with awe at what the Lord has called us to participate in! ... Biblical personal ministry is more about perspective, identity, and calling than about fixing what is broken" (Paul D. Tripp, Instruments in the Redeemer's Hands: People in Need of Change Helping People in Need of Change, 2001, pp. 185-186).

Jul 22, 2008

Karakter dan Kasih dalam Pelayanan

Tanpa karakter dan kasih, pelayanan kita kepada Allah akan menjadi sebuah lelucon yang tidak lucu yang kita lakukan secara rutin untuk mengelabui diri kita sendiri:

Karakter
Allah membentuk para hambaNya. Sebelum Allah memakai hamba-hambaNya, Ia membentuk mereka terlebih dahulu. Training Yusuf untuk menjadi PM Mesir: 13 tahun. Training Musa menjadi pemimpin massa: 80 tahun. Training Saulus di seminari Arabia untuk menjadi rasul Paulus: 3 tahun. Dengan kata lain, karakter terlebih dahulu, baru kompetensi dibangun lewat pelayanan. Apapun jenis pelayanan yang Allah berikan kepada kita – mengajar, menasihati, memimpin pujian – kita tidak dapat memberikan kepada orang apa yang kita sendiri tidak memiliki. Karakter adalah fondasi dari pelayanan.

Tanpa karakter, pelayanan hanya menjadi komedi putar rohani, bahkan menjadi ‘religious business’ yang sangat destruktif bagi jiwa kita. Orang Farisi berpikir apa yang mereka lakukan adalah pelayanan, Yesus menyebutnya kemunafikan. Karena orang Farisi lebih mengutamakan reputasi, dan bukan karakter. Mereka lebih mencari pujian dari manusia daripada kesukaan dari Allah. Apakah karakter Anda telah dibentuk oleh Allah sebelum Anda ambil bagian dalam pelayanan, dan selama Anda melayani? Mari kita menjaga diri agar pelayanan kita tidak menjadi hobby atau rutinitas yang mungkin kelihatan ‘wah’ di mata orang, namun dinilai ‘nol besar’ di hadapan Allah.

Kasih
Allah menuntut dari hambaNya. Ukuran kesetiaan seorang pelayan bukan berapa banyak orang yang bekerja dibawah dia, bahkan bukan berapa banyak orang yang dilayaniNya, namun kualitas kasih yang mendorong kita untuk melayani orang lain (termasuk mereka tergolong tipe “orang menjengkelkan”). Bukan berarti kita lalu menjadi kosetan kaki. Karena yang kita layani sebenarnya adalah Allah, dan itu terkadang membuat kita harus menolak ide dan keinginan sesama kita. Namun di lain pihak, kita harus melayani manusia. Bukan dengan hati yang ngegrundel, tapi dengan kasih terhadap mereka, kasih yang tidak dapat dibuat-buat atau direkayasa. Karena kasih tersebut muncul sebagai buah dari hidup yang dipimpin Roh Kudus.

Tanpa kasih, berkotbah, main musik, atau memimpin pujian di hadapan jemaat tidak ada bedanya dengan sebuah stage performance. Tanpa kasih, mudah sekali seorang hamba mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan pribadinya. Tugas pelayanan menjadi kesukaan saat itu dipenuhi oleh kasih. Anak sulung dalam cerita Yesus melayani dengan taat, namun dia tidak memiliki kasih terhadap ayahnya. Ia akhirnya marah, pahit, dan kehilangan sukacita. Tanpa kasih, karunia dan talenta menjadi penghambat pelayanan kita, karena semua itu meninggikan pemiliknya, dan tidak membangun jemaat. Apakah Anda mengasihi orang yang Anda layani dalam jemaat gereja maupun di luar gereja?