Showing posts with label character. Show all posts
Showing posts with label character. Show all posts

Apr 29, 2009

Disability and Christlikeness

I just came across this short article by Angela Beise--a missionary and the mother of four children, including a 10-year-old with a rare genetic chromosomal disorder ("18Q-minus"). It is a very moving and thoughtful one. Indeed it uncovers the hidden blessing that God gives to those parents who have to endure all sorts of inconveniences of having a child with disabilities. Angela wrote in Christianity Today:
In the days following this teacher's remark, I tried to imagine a society devoid of people with disabilities. What if any and all babies with special needs were to be eliminated? What would a society look like if everyone were "normal," if we never had to make provisions and exceptions for people who are deaf, blind, mute, or lame?

I didn't have to look any farther than my own family to start finding answers. My children are among the most unselfish people I have ever known. Brian, 19, Melissa, 17, and Rachel, 13, have made sacrifices, too many and too big to count, for their disabled sibling. One would think that this would have made them bitter and discontented. Amazingly, it has done exactly the opposite. They are thankful, giving, and tolerant to difficult and unlovely people.

As I pondered this potential "perfect" society, one verse from the Bible kept coming to my mind: "Do nothing out of selfish ambition or vain conceit" (Phil. 2:3). Parenting a child with special needs makes living out this verse a little easier.

This child becomes the focus of most of his parents' time and energy. An enormous amount of money may have to be spent on therapists, doctors, hospitals, and equipment. He limits what dreams his parents can pursue. They grieve throughout his lifetime. They not only grieve the child they "lost" at his birth, but grieve as they see him struggle with tasks that normally come easy, grieve when he realizes that he is not like other children, and often when he is in physical or emotional pain. They have little room left for selfish ambition.

What about vain conceit? That is likely to die, too. It's often embarrassing to have a child who cries out in public for no reason, looks different, and acts different. He won't be at the top of his class, won't be the best athlete, and will probably never be voted Most Beautiful or Most Likely to Succeed.

I wonder, if our advanced technologies successfully eliminate the weak and needy, will future scholars, theologians, politicians, and poets ponder: "Why has our society become less loving, so selfish, so intolerant, so uncommitted to anything outside of individual gain? Why are we so full of selfish ambition and vain conceit?" Is this "perfect" society a place where any of us would want to live?

If having a child with certain disabilities is what it takes for God to make Christian parents more Christ-like, which is in the final analysis is what it matters when we see God face to face, then they have to be thankful for this unique means of grace. Of course there are other ways to be more Christ-like, but I am sure if having a child with disability is what God, in his perfect and sovereign will, arranges for that to happen among those who love Him, then it is surely something that He meant for good (Romans 8:28)

Jun 9, 2008

Bagaimana 8 Ucapan Bahagia Menyatakan Karakter

Karakter adalah siapa diri kita yang sebenar-benarnya, tanpa berbagai kedok dan atribut yang kita banggakan: Posisi, gelar, prestasi, pengalaman, materi, dst. Karakter adalah masalah hati, respon hati kita saat tidak ada orang lain yang melihat atau saat kita dibawah tekanan.

Alkitab membedakan tentang perilaku dan hati kita. Memang dari hati kita mengalir keluar perilaku kita (Amsal 4:23; Markus 7:21). Namun kita dapat mengubah perilaku kita sementara hati kita tetap sama tak berubah. Misal, kita taat pada polisi meski hati kita mungkin berontak terhadapnya. Kita rajin melayani Allah meski hati kita tidak cinta Dia tapi cinta kesenangan dunia.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa tingkah laku yang tidak mengalir keluar secara natural dari hati kita dikutuk oleh Kristus “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Mat 23:27).

Delapan ucapan bahagia yang Yesus kotbahkan mengacu pada perubahan hati, dan bukan hanya perilaku. Saat hati kita disentuh dan karakter kita diubah, perilaku kita pun berubah mengikutinya. Orang Farisi dan para murid Kristus keduanya adalah orang religius. Yang membedakan mereka adalah soal hati. Yang pertama hatinya tetap membatu sementara tingkah laku agamanya membuat orang kagum. Yang kedua hatinya disentuh, dihancurleburkan, lalu dibentuk ulang oleh Allah. Hasilnya, transplantasi hati yang baru.

Delapan ucapan bahagia ini memaksa kita untuk serius bertanya: Apakah saya benar-benar orang Kristen? Jika ya, itu berarti karakter-karakter yang ada dibawah ini kita miliki dan nyatakan dalam keseharian hidup kita. Jika karakter-karakter tersebut tidak muncul, Anda dan saya perlu dengan sangat amat serius meragukan iman percaya kita kepada Kristus Yesus. Berikut beberapa karakter yang saya kembangkan dari 8 ucapan bahagia yang diucapkan oleh Tuhan kita:



Apr 22, 2008

The Christ-like Martins...

I am running a new sermon series on Christian Character from the Sermon on the Mount, Matthew 5-7, for the next few months. Will post my sermon notes here. Here is the ad placed in a local Indonesian paper in Melbourne:

Jan 20, 2008

Gaya Hidup "Akribos" (part 2)

Sejak Mbah Socrates bilang "An unexamined life is not worth living", maka orang di Barat mulai punya bibit kesadaran bahwa yg namanya hidup itu mesti reflektif. Tanpa refleksi, hidup kita akan mudah jalani sembarangan. Lengah. Orang bilang pengalaman adalah guru yang berharga. Tapi saya kira itu salah lho. Yang menjadi guru berharga itu bukan pengalaman, tapi refleksi terhadap pengalaman-pengalaman. Tanpa refleksi, pengalaman-pengalaman hidup itu lewat begitu saja, kayak angin yang bertiup di sela-sela tubuh kita numpang lewat doang.

Kalau ada yg suka bilang gini: "Saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan". Kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang sembilan kali ! Jadi kesalahan yg sama tetap dilakukan. Metode yg sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Hidup Akribos adalah hidup yang reflektif dalam pengalaman hidup keseharian yang kita anggap sederhana, yang sepele, yang remeh. Namun seringkali semua itu tanpa kita sadari membentuk karakter kita in the long run. Berikut beberapa contoh:

1. Dalam relasi suami-istri kita sudah biasa ngomong ke istri atau suami kita dengan asal-asalan. Ngomong tanpa berhadapan muka. Tapi menjerit dari ruangan sebelah. "Eh, loe besok rencana ke rumah si A Bun jadi ga? Hah, apa? Jawab kencengan dikit kek! Hah, bukan, bukan, gua bukannya ngelarang.....gua nanya soalnya kalo lu jadi, gua mau ikut. Apa? Lu ga denger? GUA MAU IKUTTT!" Ini hal sepele, namun cara komunikasi seperti ini dalam 2-3 tahun akan turut membentuk kualitas relasi antara suami dan istri. Lama kelamaan, cara bicara sekenanya akan menjadi sebuah pola. Akibatnya, seringkali komunikasi sambil lalu itu menghilangkan sensitivitas terhadap perasaan pasangan kita. Ujung-ujungnya, cekcok, berantem, pisah ranjang, etc. Ketika sedang marahan, yang dijadikan kambing hitam adalah urusan klasik (anak, uang, mertua, etc.). Padahal akar masalahnya sepele. Yaitu suami istri tsb tidak pernah duduk merefleksikan cara komunikasi mereka yang semakin lama semakin memburuk. Masalah yang persis sama seringkali terjadi dalam relasi orang tua dan anak.

2. Seorang remaja pria yang mulai coba-coba belajar melakukan masturbasi. "Ah, ini khan masalah sepele. Toh semua remaja usia puber melakukannya" (well, at least menurut dia). "Khan ndak ada yang tahu. Toh aku sudah cukup dewasa dalam iman untuk tidak keliwat batas. Mendingan begini daripada apa yang dilakukan teman-temanku, jauh lebih runyam." Maka sesuatu yang awalnya coba-coba, lama-lama jadi enak, keterusan, ketagihan. Tidak lama kemudian, jadi habit. Habit yang tidak pernah habis. Bahkan sampai remaja tersebut beranjak dewasa, sampai punya pacar, sampai menikah dan punya anak. Ketika menginjak usia senja, pemuda yang sekarang telah menjadi kakek tersebut berkata "Aku sudah tidak tahu lagi siapa diriku, mengapa aku berubah menjadi babi yang selalu ke kubangan dosa. Begitu menjijikkan. Tapi aku tak mampu berhenti."

Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, tulis Rasul Paulus. Gejala "coba-coba" yang lalu menjadi habit ini muncul dalam bentuk yang berbeda-beda: rokok, obat-obatan, alcohol abuse, mengumpat, dst.

3. Ken Lay, eks Chairman dari Enron, yang tadinya adalah one of the most innovative/highly respected/top-performing global firms, sebelum divonis hukuman penjara seumur hidup karena turut mendalangi the biggest accounting fraud dalam sejarah bisnis, memulai praktek menyulap angka-angka di pembukuan perusahaan itu secara kecil-kecilan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Masalah yang paling besar bukan kejahatan kerah putihnya yang semakin menggila, tapi karakternya yang semakin ter-erosi. Sehingga kalau dia membandingkan dirinya di usia 20-an saat dia mulai bekerja di Enron dan di usia 60-an ketika dia divonis oleh pengadilan, dia merasa dia tidak kenal lagi siapa dirinya. Akhir hidupnya begitu mengenaskan, tidak berapa lama setelah ia divonis, ia meninggal karena serangan jantung.

Masih ada banyak contoh lain. Tapi point-nya sudah jelas. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yg kita lakukan setiap hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Apa yang kita lakukan secara konsisten, sekecil apapun hal tersebut, akan mempengaruhi the core of our being.

Permasalahannya, sekitar 95% perilaku kita itu spontan, bukan premeditate. Pikiran, sikap, dan aksi kita meluncur otomatis. Semua itu semacam spillover dari apa yang ada dalam hati kita. “Out of the abundance of the heart the mouth speaks", kata Yesus dalam Mat 12:34. Kalau mobil kita diselip orang, kita tidak pernah menepikan mobil lalu mengerutkan alis dan berpikir, "Gua mendingan ngumpat itu sopir atau ngempet aja dalam hati?" Tapi reaksi kita spontan. Hawa panas naik membakar hati, lalu api tersebut memberi energi kepada sel-sel otot di mulut untuk berkata, "Hey, muke gile loe!" sambil otak memerintahkan kaki untuk injak pedal gas dan tangan untuk menyelip balik sopir gila itu (dan semua itu terjadi dalam dua detik).

Tidak heran apabila Rasul Paulus setelah memaparkan dengan beda manusia lama dan manusia baru, lalu memberikan aplikasi praktis dalam hidup keseharian kita: Jangan berdusta, jangan marah, jangan ada perkataan kotor dari mulutmu, dst. Semua itu adalah spillover dari apa yang ada hati kita.

Itu sebab mari kita hidup dengan Akribos. Perhatikan apa yg kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita. Karena itu menjadi refleksi apa yang ada di hati kita. Pengamsal dengan arif mengingatkan kita: "Jagalah hatimu dengan kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Amsal 4:23).

Jan 17, 2008

Gaya Hidup 'Akribos'

"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" - Efesus 5:15

Hidup orang Kristen berbeda dengan hidup orang dunia, karena standard yang dipakai berbeda. Bijaksana menurut Alkitab berbeda dengan bijaksana menurut dunia. Apa yang dianggap bijak oleh dunia, mungkin dianggap bebal oleh Alkitab. Demikian juga sebaliknya!

Elton John mungkin punya ide cemerlang dgn musiknya, demikian juga Steve Jobs dgn inovasinya dari iPod sampai Macbook Air, dst, namun diluar Kristus mereka tidak akan dapat menjalani hidup sebagai orang bijak menurut kacamata Allah.

Dalam teks Efesus 5:15-17, Paulus memberitahu kita beda orang bijak dan orang bebal.

Kata asli yang dipakai untuk ‘perhatikan dengan seksama’ adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, thoroughness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yg sedang menganalisa suatu zat dibawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup Akribos adalah hidup yang tidak sembarangan. Hidup Akribos adalah hidup yang selalu sepadan dengan standard, dengan sebuah idealisme.

Dalam PB, kata ini dipakai minimal empat kali:
- Matius 2:8 "Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
- Lukas 1:3 "Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu."
- Kisah 18:25 "Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes."
- 1 Tes 5:2 "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."

Menarik sekali mempelajari konteks dimana keempat ayat tersebut muncul, lalu melihat bahwa dalam keempat konteks yg berbeda tersebut, ada persamaan benang merah dalam penggunaan kata Akribos. Yaitu ketelitian dan keakuratan yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.

Dalam Matius, kata Akribos digunakan untuk orang Majus yang diminta Herodes menjadi Detektif menyelidiki Bayi Kudus yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, kata ini dipakai oleh Dr Lukas melihat dirinya sebagai seorang Jurnalis melaporkan pandangan mata dan pengalamannya bersama Kristus Yesus, Dalam Kisah Rasul, kata ini digunakan Apolos sebagai seorang Guru yang mengajar jemaat Efesus dengan akurat. Terakhir, kata tersebut digunakan jemaat Tesalonika sebagai Murid yang telah menguasai ajaran dengan mendalam ttg kedatangan Kristus. Jadi ada 4 profesi yang muncul menggunakan kata Akribos: Detektif, Jurnalis, Guru, dan Murid.

Dalam Efesus 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, tetapi sebuah gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis, hari ini bagian dari Turki. Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yg sangat tersohor shg semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya setiap tahun. Sebagaimana kota metropolitan hari ini seperti Melbourne atau Jakarta, segala macam dosa ada ada di Efesus. Kepada jemaat Efesus Paulus berkata, "Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!" Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di abad ke-21.

Mengapa kita harus hidup dengan Akribos? Ayat 15 dimulai dengan "Karena itu..." Kita lalu bertanya: Karena apa? Jawabannya ada di ayat sebelumnya, ayat 14: "Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Kita harus hidup dengan Akribos karena Kristus telah membangkitkan kita dari kematian rohani. Tadinya kita adalah zombie rohani. Hidup bergerak kesana-kemari, tapi mati secara rohani. Seperti Lazarus, kita dibangkitkan oleh Allah dari kematian. Itu sebab hidup kita sebagai manusia baru adalah hidup Akribos.

Anda dan saya akan disebut orang bebal, bila kita hidup terus-menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh Setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, Engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang-orang yg belum mengenal Allah. Ayat 11 berkata, "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu."

Konkritnya, hidup dengan Akribos adalah hidup yang dipimpin oleh firman Allah. Hidup yang diarahkan, diarahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Banyak orang yang namanya Sophia, mulai dari Sophia Latjuba, Sophia Loren, dst. karena arti Sophia adalah bijak. Bebal dalam ayat 5:15 berasal dari kata asophia. Kata philosophy berasal dari dua kata philo-sophia yg berarti orang yg mencintai kebenaran. Orang yang suka bijaksana hidup.

Jika kita tengok ke belakang ke tahun 2007, apakah kita sering lengah, terus-menerus menjadi bahan tertawaan Setan? Pemazmur berdoa kepada Tuhan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.... Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

bersambung...