Mar 25, 2008

ICC Easter Camp 08: HAPPIER

Foto disebelah adalah wajah gembira para peserta Camp Paskah gereja kami Good Friday-Easter Sunday kemarin di Ballarat. Tahun ini camp kami mengambil tema HAPPIER dan sub-tema "Delight yourself in the Lord." Pembicara utama adalah Ev Ronald Oroh, yang memang mendalami teologi kenikmatan. Lihat blognya disini.

Ada beberapa hal menarik yang saya catat dalam buku catatan tentang proses persiapan, insights dari sesi, dan berbagai hal lainnya:

1. Di saat-saat terakhir menjelang camp, Allah secara ajaib memimpin kami untuk pindah tempat camp. Dari sebuah tempat yg kurang layak pakai ke tempat yang super mewah untuk sebuah camp gereja: Midcity Hotel di Ballarat. Keajaiban tersebut muncul dalam berbagai bentuk: Heavily discounted price, Free use of conference room, In-house Malaysian chef who cooks 5-7 dishes for lunch and dinner (termasuk kangkung belachan, telur bali, mee siam, pork string bean, etc). Semua peserta langsung HAPPIER!

2. Sesi Pembukaan adalah Kebaktian Jumat Agung yg saya pimpin. Terkait dengan tema camp, saya membahas dari Yesaya 53:10 "It pleased the Lord to bruise him." Ayat yg kedengaran kontroversial ini bukan berbicara ttg child abuse, namun tentang bagaimana Salib menyatakan kemuliaan Allah kembali dihadapan manusia dan ketaataan AnakNya menggenapi kehendak Bapa untuk mati menggantikan manusia berdosa sebagaimana ditetapkan dalam kekekalan.

3. Sesi Ke-1 sampai Ke-6 berbicara tentang What is Enjoyment?, Where is God when I enjoy?, Where am I where God enjoys? How to enjoy God, Forever enjoy, How to Enjoy God's Blessings. Ada bbrp hal menarik yang Ronald sampaikan:
- Allah kita adalah Sang Penikmat Akhir. Dia menikmati diriNya sendiri dan segala sesuatu yang Ia ciptakan. Bahkan Ia berhenti di hari ke-7 untuk menikmati ciptaanNya.
- Dia sebenarnya tidak perlu makluk lain diluar diriNya untuk menikmati, namun Ia mau share kenikmatan dengan manusia ciptaanNya.
- Berkat-berkat Allah yang Ia berikan kepada kita perlu kita nikmati. Saat kita tidak menikmati, itu berarti kita menghina Allah Sang Pencipta dan Pemberi Berkat. Namun jangan lupa bahwa berkat-berkat tersebut hanyalah alat, hanyalah appetizer untuk membawa kita kepada kenikmatan yang jauh lebih tinggi, yaitu Allah sendiri. Jadi setiap kali kita makan enak (misal, sate ayam dan es kelapa muda), mari kita belajar untuk mengingat Allah saat mengunyah sate tersebut. Jika sate ayam ini yg cuma berkat Nya nikmat sekali, apalagi kenikmatan yg kita dapat miliki dari Allah.
- Konteks eksternal semestinya tidak menghalangi kita untuk menikmati Allah. Paulus menulis dalam kondisi lapar dan kenyang, dia belajar untuk mencukupkan diri dalam segala hal dan melihat Allah didalam semua itu. Jadi menikmati Allah seharusnya kita lakukan dalam kondisi suka maupun duka, kelebihan maupun kekurangan.

Untuk melihat insights lain dari Ronald ttg kenikmatan, silakan kunjungi e-booknya Mari Menikmati.

Video Talk of Tim Keller @ Google

Dr Tim Keller, gembala sidang dari Redeemer Presbyterian Church New York, baru-baru ini menerbitkan sebuah buku baru, The Reasons for God: Belief in an Age of Skepticism. Dunia blog Kristen sedang heboh karena buku ini. Pasalnya, buku ini sekarang sedang bertengger di nomer 7 di New York's Bestseller List.

Keller adalah salah seorang pengkotbah yg saya kagumi karena meskipun dia seorang baby-boomer preacher tetapi memiliki kemampuan untuk menjangkau GenX-ers dan GenY-ers tanpa mengkompromikan Injil. Buku ini barangkali paling mendekati CS Lewis' Mere Christianity yang pas untuk abad ke-21. Berikut motivasi Keller menulis buku ini sebagai seorang hamba Tuhan yang melayani masyarakat New York yang sangat sophisticated, postmodern, and secular.
However, the issues in the public discourse around Christianity have become much more complex than they were in the mid and late 20th century. The questions are now not just philosophical (e.g. Is there evidence for God's existence? They are also now cultural (Doesn't strong faith make a multicultural society impossible?), political (Doesn't orthodox religion undermine freedom?) and personal. Also fifty years ago, when C.S. Lewis was writing, there was general agreement that rational argument and empirical method were the best ways to discover truth. That consensus has vanished. Today there are deep disagreements over how we know things and how certain we can be about anything.

Dr Keller diundang ke Google (yes, GOOGLE the company) untuk berbicara tentang bukunya. Video YouTube selama 61:07 ini mengikuti outline 3 item berikut:
1. Why the reasons for God are important
2. How the reasons for God work
3. What the reasons for God are

Mar 18, 2008

Love is Patient and Kind

I recently sat in a wedding service and mentally took note of the following two points:

First, "Love is patient", said the Minister to the married couple. God's patience has been continually shown to his people, as seen both in the Old and New Testament. This character of God ought to be that of the husband and wife. In a married life, there will be times where everything seems to work out well. Career is great, relationship is fantastic, etc. But the strength of a husband-wife relationship is tested not on those times. Rather it's during the times where the husband does something that falls out the expectation of the wife, and vice versa. Something hurtful, something stupid, something sinful. In those difficult times, would the husband and the wife be ready to show great patience, and forgive, understanding that God's patience is overflowing in their own life.

Second, "Love is kind". God has also been very generous. His generosity was greatly expressed throughout his dealing with the Israelites, and demonstrated in concrete in the death of his son, Jesus Christ. Saying "I do" in a marriage is a serious stuff. Because everything we have accomplished in our lives, our upbringings and training, our family values and patterns, everything that makes up who we are, including our material possessions, all of them are wrapped as one gift and we give it to our husband/wife. Each gives himself or herself to another. That...is a Christian marriage.

Mar 11, 2008

Next Generation Leaders @ Wheatstone Academy

Baru-baru ini saya tersandung di dunia maya dan bertemu dgn Wheatstone Academy, yang menyelenggarakan program pembinaan untuk "the next generation of Christian leaders." Pelayanan ini dimulai oleh dua orang usahawan yang memiliki konfiksi melihat 50% dari mahasiswa di berbagai universitas di Amerika berhenti berbakti di gereja. Yang menarik dari program mereka adalah tekanan pada mandat budaya dan servant leadership, dua hal yang telah lama menggetarkan hati saya. Berikut VIDEO ttg program mereka (12:39).

Mar 10, 2008

New Book: Beyond Opinion

Sebuah buku yg baru terbit tahun 2007 kemarin tentang apologetika yang di-edit oleh seorang pakar dibidangnya, Dr Ravi Zacharias, berjudul Beyond Opinion: Living the Faith We Defend. Buku ini layak beli bagi mereka yang rindu untuk diperlengkapi untuk dapat hidup dengan konfiksi terhadap iman Kristen yang seringkali diminta pertanggungjawabannya oleh dunia.

Berikut teaser dari Penerbitnya:
Respected apologist Ravi Zacharias was once sharing his faith with a Hindu when the man asked: "If the Christian faith is truly supernatural, why is it not more evident in the lives of so many Christians I know?" The question hit hard, and this book is an answer. Its purpose is to equip Christians everywhere to simultaneously defend the faith and be transformed by it into people of compassion. In addition to writing several chapters himself, Ravi Zacharias brings together many of today's leading apologists and Christian teachers, including Alister McGrath and John Lennox, to address topics present in the very future of worldwide Christianity-from the process of spiritual transformation to the challenges posed by militant atheism and a resurgent Islam. Destined to become a classic, Beyond Opinion is a touchstone that will affect Christians around the world.

Bagi yang masih penasaran, silakan baca dulu dua chapter yang tersedia free dari website RZIM:
Intro Chapter dari Ravi Zacharias berjudul An Apologetic for Apologetics

Artikel dari staff RZIM L.T. Jeyachandran berjudul: The Trinity as a Paradigm for Spiritual Transformation

Gerakan Emerging dan Emergence Church

Salah satu perdebatan yang sedang menghangat saat ini adalah seputar Emerging Church Movement. Gerakan yang lahir sebagai respon gereja terhadap pengaruh posmodernisme ini ternyata tidak unison, tapi muncul dalam spektrum yang cukup luas. Gerakan ini dipersepsi akan semakin mewarnai, membentuk, dan mengubah wajah Kekristenan di abad 21, khususnya di Amerika (yang lalu akan dieksport ke berbagai negara lain).

Apa itu Emerging church? Apa bedanya dengan Emergence? Apa yang mereka ajarkan, dan apakah berbeda dengan confession of faith seperti Westminster Catechism? Dan apakah gerakan ini diwakili oleh Brian McLaren saja, bgmana dengan Scot McKnight atau Mark Driscoll? Meski sekarang sudah ada Wikipedia entry tentang topik ini, berikut beberapa resources reliable di web yang saya temukan lebih informatif dan edukatif untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas:

C Michael Patton membuat mapping gerakan Emerging dan berbagai filosofi mereka. Menurut Patton ada 4 kategori yg muncul: Fundamentalist, Evangelical, Emerging, dan Emergent.

Scot Mcknight menulis sebuah artikel di Christianity Today, juga mencoba memetakan gerakan ini. McKnight melihat ada 5 golongan terkait dgn posisi teologia mereka thd gerakan ini: Propheticl, Postmodern, Praxis-oriented, Post-evangelical, dan Political.

Interview Religion & Ethics NewsWeekly dengan D.A. Carson tentang Emerging Church movement terkait dengan peluncuran bukunya.

Albert Mohler menulis review terhadap buku evangelical scholar D.A. Carson tentang Emerging Church berjudul:Becoming Conversant with the Emerging Church.

Mar 6, 2008

Good Blogs

Just in case you never come across this stats, there are 90 million blogs on the web. It would be insane to even try to scan them all. Thankfully, people like Tony Morgan has listed his 25 Blogs Tony Can't Live Without. Unlike Tony, I can still live without them, but his list does contain some good blogs.

Powerful PowerPoint

If you are like me, you will be using powerpoint very often. In my case, it's at least three times a week in classrooms and at the church. Reading these tips from SlideShare below made me realize how I have bored so many people to death (slowly) with my powerpoint slides in the last 10 years.


Mar 4, 2008

Mulut Busuk, Lidah Dusta, & Bibir Palsu

Iman Kristiani tidak hanya relevan dengan hal-hal yang besar dan global: Kemiskinan, Ketidakadilan sosial, AIDS, Global Warming, dst. Tetapi juga kepada hal-hal yang kecil, remeh, sepele, mundane dalam keseharian hidup kita. Ada sesuatu yang amat sangat salah jika ada seorang anak Tuhan yang adalah pejuang HAM kelas dunia bertarung melawan tirani membela rakyat kecil, namun ternyata dia punya wanita simpanan dan menilep uang organisasi (misal, Jesse Jackson). Bukankah kita akan heran mendengar seorang pendeta yang dipakai Tuhan dengan heran dalam skala internasional, memimpin jemaat puluhan ribu anggotanya, dan menjadi presiden dari organisasi Injili terbesar di dunia, namun memiliki hubungan seksual di luar nikah dengan seorang pelacur yang sesama jenis (misal, Ted Haggard)?

Itu sebab firman Tuhan menuntut kita memiliki transformasi hidup dari dalam keluar secara total. Kesaksian gereja Tuhan akan mandul bila para pemimpin Kristen hanya terlihat wah dan hebat di mata publik, namun rapuh dan busuk di dalam. Jika secara performance hebat, namun dalam pembentukan imannya, karakternya, being-nya tidak pernah tersentuh. Tidak pernah ditransformasi.

Inilah yang menjadi concern rasul Paulus saat dia menulis surat ke jemaat Efesus. Dia menulis tentang kontras antara manusia lama dan manusia baru dalam Ef 4:17-24: “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata di dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Lalu dalam ayat-ayat berikutnya dia memberi aplikasi praktis kontras tersebut dalam area-area keseharian hidup orang percaya: Perkataan, Emosi, Pekerjaan, dan Tingkah Laku.

DUSTA vs. KEBENARAN
Kata menanggalkan / put off dalam ayat 22 dipakai lagi di ayat 25. Ayat 22 adalah prinsipnya: Tanggalkan manusia lama. Ayat 25 itu aplikasi praktis: Tanggalkan dustamu.

Dari ayat 22 tersebut, kita tahu bahwa berkata bohong itu adalah salah satu karakteristik dari manusia lama yg menemui kebinasaaanya oleh nafsunya yang menyesatkan. Berdusta itu bukan karakteristik manusia baru, orang yang sudah dibangkitkan dari kematian rohani oleh dan bersama dgn Kristus. Kalau bohong 1x, 2x, ia jatuh dalam dosa tersebut dan cepat bertobat, itu masih bisa dipahami karena natur keberdosaan manusia. Namun kalau bohong jadi kebiasaan tiap hari, tiap saat, tiada hari tanpa bohong, dan tidak merasa itu dosa, maka Alkitab berkata bahwa orang itu pasti bukan orang Kristen meski ia ngaku Kristen, meskipun KTP nya Kristen. Mengapa?

Karena Yohanes 8:44 berkata bahwa Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta. Jadi org yg punya kebiasaan bohong itu berarti ia anak Iblis, bukan anak Tuhan. Wahyu 21:8 berkata, bahwa semua pendusta akan mendapat bagian dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Pendek kata, seorang pendusta yg kalau berdusta tidak merasa apa-apa sama seperti orang gosok gigi pasti bukan Kristen, dan akan masuk neraka.

Kita biasanya berbohong karena tidak mau kehilangan muka. Budaya Saving Face ini kuat sekali dalam budaya Timur. Daripada malu, mendingan bohong. Kita berkata kita sudah melakukan ini dan itu, kenal dengan si A dan si B, menguasai bidang C dan D, dst. Semua itu kita utarakan untuk menutupi ketidakmampuan yang tidak berani kita akui. Kita juga berbohong karena takut. Takut kehilangan teman. Takut tidak dapat order. Takut tidak dipromosikan. Alasan lain berbohong adalah serakah. Serakah akan uang, pujian, posisi, kuasa. Hal ini sangat jelas ditunjukkan oleh Ananias ketika dia ditegur oleh Petrus: "Ananias, why has Satan filled your heart to lie to the Holy Spirit?" (Kis 5:3). Lagi-lagi Setan ada dibalik dusta kita. Memang setiap kali kita berdusta, kita sedang dipakai oleh Setan. Kita jadi alat Setan melalui dusta yang kita anggap sepele. Apapun motivasi kita berdusta, kalau ada 1 hal yg jelas yg Alkitab katakan dengan dusta, itu adalah hal yang serius di mata Tuhan. Sebuah kekejian. Amsal 12:22 berkata Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN.

Sebaliknya, Paulus menulis bahwa sebagai manusia baru, kita bukan hanya harus berhenti berdusta. Etika Kristen adalah etika yang mentranformasi karakter seseorang sehingga tidak lagi berhenti melakukan hal yang negatif, yang berdosa dan menjadi 'netral'. Tetapi melampaui semua itu adalah hal yang positif, yang terpuji, dan menyenangkan Allah. Dalam hal ini "berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Dusta diantara sesama anggota tubuh sangat fatal akibatnya. Jika mata Anda berbohong pada tangan yang sedang mengendarai mobil, lalu mata berkata, "Ya, pindah jalur sekarang. Tidak ada mobil di sebelah. Sekarang!" Anda lalu pindah jalur dan tiba-tiba "BRAAAK!"

PERKATAAN KOTOR vs PERKATAAN MEMBANGUN
Masih seputar masalah lidah dan bibir, Paulus juga menulis di 4:29: "Jangan perkataanmu busuk, biarlah perkataanmu membangunorang lain." Busuk disini mengacu kepada buah yang sudah lewat tanggal, baunya sudah tidak sedap, dan rasanya mengerikan. Termasuk didalamnya adalah mengumpat, memakai nama Allah sembarangan, becanda hal-hal yang bernada seksual, berkata kasar, fitnah, dan memberi label pada orang lain. Saat kita mengutuki orang lain dengan label misalnya "Dasar GOBLOK!", kita sedang menghina PenciptaNya dan menganggap orang tersebut lebih rendah dari kita yang notabene sama-sama orang berdosa di mata Allah. Saya suka mendengar orang me-refer kepada individu2x tertentu, meski biasanya dengan maksud canda, dengan sebutan "Si Lugu (Lucu Goblok"), "Si Camen (Cacat Mental", "Si Tuek Ompong", dst. Demi Kristus, mari kita hentikan label-label tersebut.

Mulut yang busuk tidak bisa dibersihkan dengan sabun Lux atau pasta gigi Pepsodent, Yang mesti dibersihkan adalah hati, karena apa yang kebusukan mulut kita itu adalah luapan isi hati kita. Itu sebab butuh transformasi dari Allah untuk mengubah hati. Apalagi bila yang dibutuhkan adalah revolusi mulut kita dari bau busuk menjadi bau segar. Paulus berkata hendaklah perkataan kita membangun orang lain. Tidak cukup hanya stop berkata busuk. Dan tiap kali kita ngobrol, yang keluar dari mulut kita hanya small talks (cuaca, harga bensin, kabar si A dan si B, dst.). Karakteristik manusia baru adalah dia suka membangun orang lain dengan perkataannya. Dengan encouragement, afirmasi, penghibiran, nasihat, teguran dalam kasih. Mari kita teliti apakah perkataan kita pada umumnya cenderung busuk, netral, atau membangun?

Kesimpulan
Dalam gereja Tuhan hari ini, tidak terhitung lagi banyaknya anggota tubuh Kristus yang meninggalkan gereja karena merasa ditipu, dikecewakan, dan disakiti karena kalimat-kalimat kita yang mengandung dusta dan maksud jahat. Dan tidak sedikit gereja yang sesama anggotanya saling curiga, mudah tegang, dan sering konflik gara-gara pola ucapan mulut yang sering terdengar.

Kalau ada orang yang bilang, "Saya mau pelayanan di bidang musik dengan sungguh-sungguh mulai bulan depan." Antena kecurigaan kita langsung naik. "Hmm, ada udang jenis apa lagi di balik batu hatinya? Kenapa baru sekarang mau pelayanan? Mau cari untung apa dia? Apa kita berani percayakan pelayanan ini kepadanya? Jangan-jangan dia cuma ngomong doang, kayak dulu itu." Dalam relasi pelayanan seperti itu, gereja akan jalan di tempat, lumpuh dan tumpul dalam kesaksiannya.

Paulus menulis bahwa jika kita sungguh telah diperbarui oleh Kristus, maka tidak ada lagi dusta diantara sesama saudara seiman, bahkan tidak ada dusta sama sekali. Tidak ada perkataan kotor, yang mengecilkan dan menyakiti orang lain. Yang ada adalah perkataan yang jujur, terbuka, dan tulus, serta membangun, menggembalakan banyak orang. Biarlah doa pemazmur berikut menjadi doa kita bersama “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku” (Mzm 141:3). Jika Tuhan menjadi penjaga pintu bibir kita, Dialah yang akan menentukan apa yang keluar dari mulut kita: Apakah karena takut dan serakah, dari mulut kita keluar dusta? Apakah perkataan kita mengeluarkan bau busuk, ataukah membangun orang lain?

Mar 3, 2008

Menebus Dunia Pendidikan

Bedanya polemik tentang Kristen dan Pendidikan di Indonesia dan Australia memang menarik untuk diperhatikan. Di Indo, yang menjadi isu adalah mayoritas dan minoritas. Karena Kristen itu dikondisikan sbg 'minoritas' maka pendidikan Kristen mesti dibatasi. Di Australia, yg notabene negara sekuler, pemerintahnya sendiri sewot melihat menjamurnya pendidikan berbasis kepercayaan iman, seperti yang diberitakan baru-baru ini di The Age.

Pemerintah Oz gusar karena jika para pelajar diajarin Creationism dan bukan Darwinian Evolution, mereka akan jadi "isolated sub-groups in our community." Di level state, telah terjadi perbedaan kebijakan: "Under Victorian law, it is not compulsory for private schools to teach evolution, though it is recommended in the curriculum. In NSW evolution is a compulsory part of the syllabus."

Seorang kepala sekolah Kristen dalam berita tsb menyatakan: "We don't hide the fact that there is a theory of evolution, and that's how we'd present it, as a theory... We teach it, explain what it is, and at the same time we present clearly and fairly, and we believe convincingly, the fact that our position as a school is that God created the heaven and earth … There wouldn't be any point of being a faith-based school if we didn't think that God was the creator."

Kasus riil yg sedang terjadi diatas menjadi contoh kotemporer bagaimana perjuangan menebus budaya (redeeming culture) untuk ditundukkan kembali kepada Kristus begitu penting. Banyak sekali orang modern yg tidak menyadari bahwa pendidikan tertiary itu dimulai di abad ke-12 oleh kaum Puritan yang memiliki konfiksi iman yang murni bagi Kristus, bahwa ilmu pengetahuan berkembang pertama kali karena adanya pengakuan bahwa keteraturan alam semesta ini pasti tidak terjadi dengan sendirinya karena jika ada grand design, pasti ada Grand Designer.

Yang juga menarik dari polemik dalam berita koran diatas adalah pendidikan berbasis kepercayaan akan membuat orang cupet pikirannya. Jadi jika mau mencetak generasi yang pikirannya progresif, sikapnya toleran, kontribusinya inklusif, jangan diajari konsep yg dilandasi kepercayaan iman. Lha terus kenapa orang Yahudi bisa paling progresif dalam kemajuan berbagai bidang ilmu? Dan apakah ada yang bisa menjamin bahwa kalau diajarin Darwin dan Teori Evolusinya, mereka akan jadi toleran terhadap orang lain, atau malah menghina orang Kristen yang belajar Creationism? Bukankah orang Kristen yang diajar abstinence before marriage (dan bukan pakai kondom biar aman) seringkali menjadi bahan tertawaan karena dianggap kuno dan kuper?

Mar 2, 2008

Lewis and Chesterton on Being Open-minded

An open mind, in questions that are not ultimate, is useful. But an open mind about ultimate foundations either of Theoretical or Practical reason is idiocy. If a man's mind is open on these things, let his mouth at least be shut.
C.S. Lewis quoted in Credenda Agenda, 4(5), p. 16.

Merely having an open mind is nothing; the object of opening the mind, as of opening the mouth, is to shut it again on something solid.
G.K. Chesterton

Feb 27, 2008

The L books I recommend my students

There is at least one leadership book published every single day. At that rate, compulsive reader one may be, trying to catch up with leadership books and still maintain his or her sanity is simply obnoxious and impossible. Thankfully, for every 100 books, there is one that stands out from the rest. The books below are those that in my view stand tall, shaping the practice of leadership around the globe, for better or worse...

Feb 26, 2008

2008 Resurgence Conference: Text & Context

Tgl 25-27 Feb ini di Seattle, Amerika, sedang berlangsung sebuah conference yg cool dan crucial: Text & Context: The Resurgence Conference


Pembicaranya top quality baik dari sisi theological maupun pastoral. Coba saja lihat:

Monday, February 25, 2008
2:00 pm Session 1 – Mark Driscoll – Text & Context: Humble Incarnational Ministry
4:00 pm Session 2 – CJ Mahaney – Text & Context: Pastoral Character & Loving People
7:00 pm Session 3 – John Piper - Text: Why I Trust the Scriptures

Tuesday, February 26, 2008
9:00 am Session 4 – Jim Gilmore – Context: Fear and Trembling in the Experience Economy
10:45 am Session 5 – Matt Chandler - Text & Context: Preaching the Gospel in the Center of the Evangelical World
1:00 pm Session 6 – John Piper - Text & Context: How My Pastoral Ministry Shapes my Pulpit Ministry
2:45 pm Session 7 Mark Driscoll - The Ox: Qualifications of a Church Planter (Acts 29 Session)
4:15 pm Session 8 Matt Chandler - Vision of a Church Planter (Acts 29 Session)
7:00 pm Session 9 – John Piper - Text: How Do I Distinguish Between Gospel and False Gospel?
9:00 pm Q & A with John Piper

Wednesday, February 27, 2008
10:00 am Session 10 – Jim Gilmore – Context: Decoding the Future, the Phoniness, and the Shifting Sands
11:20 am Q& A with Jim Gilmore
1:00 pm Session 11 – Mark Driscoll – Text & Context: Preaching Jesus Christ To Pagan Culture
2:15 pm Q & A with Mark Driscoll

Anda yang memiliki broadband internet, dapat mengikuti live feed dari conference tersebut disini.
Jika sudah telat live broadcast, audio/video files bisa diakses disini.
Namun bila Anda ndak sabar, bisa lihat catatan Justin Buzzard yang blogging dari conference tsb.

Feb 24, 2008

Prinsip 3S untuk Mengerti Kehendak Tuhan

1. Saturate your mind with the Word of God

Jika kita ingin tahu kehendak Allah, bacalah firman Allah karena Allah menyatakan kehendakNya disana. Dalam firman Allah kita beroleh prinsip-prinsip penting untuk membantu kita mengambil keputusan-keputusan yang tidak secara eksplisit diperintahkan atau dilarang oleh firman Allah.

Yang menarik disini adalah seringkali kita tahu bahwa Allah menghendaki A, tapi kita masih mencoba bertanya apakah mungkin Allah menhendaki B. Misal, seorang pemuda Kristen jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pemudi yang tidak seiman. Lalu dia bertanya, "mungkinkah kehendak Tuhan utk aku menikahinya sehingga ia bisa diselamatkan?" Jawabannya tentu tidak. Karena firman Tuhan jelas berkata bahwa pasangan seiman itu adalah syarat mutlak (dan dalam prakteknya, memang prinsip tersebut ternyata sangat penting). Jika kita mau taat kepada firman Allah yang eksplisit, akan banyak hal dalam hidup kita yang kita tidak perlu bingung dan kuatir manakah kehendak Allah.

Masalahnya ada dua. Pertama, kita mungkin tidak menyelami firman Tuhan sehingga tidak tahu mana kehendak Tuhan. Tukang masak yang jago selalu bilang bahwa agar masakan lezat, daging harus di-marinate sampai meresap ke tulang-tulangnya. Demikian juga seharusnya pikiran kita perlu di-marinate dengan firman Tuhan. Kedua, kita mungkin tahu mana kehendak Tuhan, tapi tidak bersedia untuk taat.

Prinsip yang penting disini adalah bahwa "OBEDIENCE is the ORGAN OF SPIRITUAL KNOWLEDGE", sebagaimana Yesus sendiri berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri." Semakin kita taat, semakin kita peka menangkap kehendak Tuhan. Semakin taat, semakin mengerti kehendakNya. Bukan mengerti dulu baru taat, tetapi taat dulu baru mengerti, dan semakin taat semakin mengerti.

Dalam banyak area hidup kita, Alkitab memang berdiam tidak berkata apa-apa. Misal: Alkitab mengajarkan bahwa "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes 3:10). Tapi Alkitab tidak memberitahu di bidang apa kita harus bekerja, sebagai apa, di kota apa, dst. Alkitab mengajarkan bahwa menikah harus dengan pasangan seiman: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" (2 Kor 6:14). Tapi Alkitab tidak memberitahu kita saudara seiman yang mana yang kita meski nikahi. Dan tentu 1001 hal lainnya. Setelah studi, mau tinggal di Australia atau pulang ke Indonesia? Mau punya anak atau tidak, kalau ya, berapa biji, eh... berapa banyak? Beli orange juice dan pakai shampoo mau merk apa? Dan lain-lainnya....

Itu sebab yang kita perlukan adalah pikiran yang telah diperbarui, dibentuk, dan dipimpin oleh kehendak Allah yang dinyatakan dengan eksplisit dalam Alkitab. Dengan demikian, kita memiliki kepekaan (discerment) untuk menganalisa setiap keputusan dengan pikiran Kristus. Hal ini tidak instan-supranatural. Tetapi sebuah proses yang panjang. Bergumul dan berusaha bergaul dengan firman Allah sehingga kita memiliki kepekaan untuk mengaplikasikan firman Allah dalam area-area dimana Alkitab tidak mengatur secara eksplisit. Jika kita mencari kehendak Allah dengan hanya bersandar pada mimpi dan suara Allah yang audible, wahyu, dan tanda-tanda konkrit dari Allah untuk memberitahu kita apa yg kita harus lakukan, kita tidak akan pernah berusaha memiliki pikiran yang ditransformasi & dikuduskan oleh kebenaran firmanNya. Yang Allah inginkan adalah transformasi pikiran kita - "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah" (Roma 12:2).

2. Seek Advice from mature Christians

Inilah fungsi komunitas umat Allah. Saling menasihati, mengajar, menegur, membangun satu sama lain. Jika setiap keputusan penting dalam hidup kita, kita coba konsultasikan dengan 10 orang yg kita anggap dewasa dalam iman dan mengenal kita cukup dekat, maka kita akan beroleh konfirmasi atau diskonfirmasi apakah keputusan tersebut benar-benar kehendak Allah atau agenda pribadi kita. Sebab tidak jarang Allah menyatakan kehendakNya lewat orang-orang tersebut.

Mau pacaran dengan seorang pria/wanita? Bertanyalah kepada 10 orang tsb, apakah mereka melihat ada kecocokan dari sisi kedewasaan iman, kesamaan beban pelayanan, compatibility kepribadian, dst. Mau pindah kerja? Coba konsultasi dengan mereka bertanya tanggapan mereka ttg dampak pekerjaan yg baru pada keluarga, pelayanan, visi hidup pribadi, dst. Jika mereka mau serius mendoakan keputusan tersebut dan dapat memberi nasihat yang kental dengan prinsip firman, Anda adalah orang yang sangat diberkati, karena tidak banyak orang Kristen yang dikelilingi oleh mentor-mentor rohani seperti itu!

3. Scrutinize your situation

Langkah terakhir adalah mencermati sungguh-sungguh konteks hidup kita sendiri. Benarkah Tuhan mau Anda punya anak yang ketiga, misalnya, jika realitanya selama ini dengan dua anak saja Anda sudah kewalahan memberi waktu yang cukup sebagai seorang ayah atau ibu? Apakah tawaran pekerjaan di kota baru itu (dengan gaji yg lebih tinggi tentunya) perlu diambil bila itu berarti Anda harus meninggalkan peran strategis Anda di tempat yg sekarang yang notabene lebih sejalan dengan panggilan hidup Anda? Kebutuhan pelayanan ada dimana-mana, masalahnya apakah saya harus ambil satu lagi bidang pelayanan, sementara waktu pribadi bersama Tuhan sudah sangat minim akhir-akhir ini? Apakah saya harus keluar kerja dan studi tahun ini atau tunggu sampai tabungan lebih besar?

Selama ini dalam mengambil keputusan, setelah menganalisa seluruh aspek hidup saya (keluarga, pekerjaan, gereja, persekutuan, dll), saya mencoba bertanya, apakah ada kepastian (damai sejahtera) untuk melangkah? Saya suka prinsip yang Allah berikan kepada Yusuf dan Maria untuk tetap tinggal di Mesir ketika bayi Yesus diburu oleh Herodes yang paranoid itu: "Stay there until I tell you" (Matius 2:13). Jika tidak ada kepastian melangkah, maka "stay there." Sampai kapan? Sampai Tuhan bilang kita harus melangkah. Jika Allah menyatakan kehendakNya pada Musa setelah 80 tahun Musa menunggu-nunggu, maka mungkin kita mesti belajar lebih berani berserah pada waktu Tuhan.

Feb 23, 2008

But How Can I Discover God's Will?

Think about the last big life decision you made, and ask yourself honestly:
On a scale of 1 to 10, how sure were you that the decision reflected God's will and not yours?
Often our smart, rational, pious excuses in making that decision cloud our discernment. Yet since we keep repeating those excuses to our spouses, family members, friends, etc., we end up believing those excuses ourselves. "Sure I believed that God wanted me to do that." Otherwise, how can you have a peaceful sleep?

The above scenario was part and parcel of my life, too. Here are some of the big decisions I struggled with post high-school years:

Study in which university in America (wait, who said it had to be America)? Which field of study? After graduation, going back home or stay in the US? What sort of career I should have? Should I do my MBA or take MA in Christian Studies, and where? How did I end up in Melbourne anyway? After finishing my MBA, should I work first then marry, or the other way? Wait, is she the woman God wanted me to marry? How many kids you wanted us to raise, God? Is my calling in leadership, then in what form exactly? Does that involve a PhD? Do you want me to start a new church in a city already crowded with small Indo churches, or should I just join one? And how do I know which car to buy, at what price range, and when Lord? Our old TV is well, very old Lord,... is it Your will Lord to buy a new TV, if yes, tube or flat-screen, HD or Full HD, LCD or Plasma, Silver or Black, 32 or 42 inch? I think for my coffee, I have decided for a long while now that it must be extra hot, skinny, strong Mocha, sorry I never asked whether that's also Your will.

... and so on.

That is why I'd like to recommend several books on discovering and discerning God's will, which I found very useful. For your perusal, I provided the hot links to Amazon so you can browse, and hopefully buy and read them:

1. Step by Step, James Petty
2. Decision Making and the Will of God, Garry Friesen
3. Knowing God’s Will, M. Blaine Smith
4. Discovering God’s Will, Sinclair Ferguson
5. Guidance and the Voice of God, Phillip D. Jensen and Tony Payne
6. Hearing God, Dallas Willard

Feb 22, 2008

Theological Pick-Up Lines

If you happen to be theologically-savvy, and single, don't even think of using these pick-up lines. Funny, but hopeless!

“I could not help but notice you were exegeting me instead of the text during the sermon.”

”Your name must be grace, because you are irresistible.”

“Until this moment, I thought I had the gift of singleness.”

“The Bible says that God is not concerned with outer appearance . . . neither should you.”

“God may be the bread of life, but you are the butter.”

While giving her a TULIP say, ”This Totally depraved person has been Unconditionally drawn to you, Limiting himself to your
Irresistible beauty that is Persevering beyond all others.”

See the complete Top Twenty Theological Pick-Up Lines NOT to use by C Michael Patton

New Book: Leadership from the Inside Out

A new leadership book by Kevin Harney, Leadership from the Inside Out. The sub-title of the book is Examining the Inner Life of A Healthy Church Leader.

A Teaser from the Publisher:
Why is it that so many gifted and passionate leaders end up on the sidelines of ministry rather than finishing well? How can you avoid the pitfalls that face those who serve Christ and his church? What steps can you take that will propel you forward into a more faithful and fruitful ministry than you ever dreamed? These questions and more are addressed in Leadership from the Inside Out.

Click here for the Flash presentation of the book by the author.

Feb 20, 2008

Rahasia Kehebatan Google

Mau tahu rahasia Google untuk mencapai peringkat teratas dalam ranking tahunan majalah Fortune Top 100 Best Companies to Work For? Lihat brief video report ini.

Tidak heran Microsoft, Yahoo, dan puluhan perusahaan besar, menengah, dan kecil iri hati terhadap Google...

Sovereign Grace Leadership Interview Podcast

Sovereign Grace Ministries baru-baru ini melakukan launching Leadership Interview Series podcast yang menampilkan roundtable discussion antara C.J. Mahaney (president of Sovereign Grace Ministries), Jeff Purswell (dean of Pastors College), dan Joshua Harris (senior pastor of Covenant Life Church). Ketiganya muncul secara reguler membahas isu-isu teologia dan kepemimpinan pastoral. Relevan bagi semua orang, khususnya bagi pendeta.

Feb 19, 2008

Shawshank Redemption

I was just turning on the TV last Thu when one of the local TV networks re-ran the Shawshank Redemption, a 1994 classic which I never had seen before. After quickly pondering the likely consequences of watching that movie at the cost of not doing other things, I decided to sit and watch! Two hours later (or more with TV ads), I remember thinking to myself, "Great movie!"

The overarching theme is of course HOPE, a crucial thing in a make-or-break context like State Prison. I have been pondering for a long time the tranforming effects of prison on inmates. Many world leaders were somewhat changed or shaped during their prison experiences. Yes, they emerged much stronger individuals with rock solid convictions. From Gandhi to Solhenitzyn to King, Jr to Mandela, just to name a few big names for simplicity sake (though many unknowns had the same experiences).

The main character in this Stephen King's screenplay, Andy Defresne (Tim Robbins), was sent to a prison for a crime he didn't commit. But he brought hope to a bunch of inmates who have lost all hope. "Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies", that's what he believed in, which were contagious, sparking new excitement and infusing new meaning of life.

The best part of the movie that I thought was powerful was shown by Brooks, an old inmate who has been inside for 50 years and was now up for his parole, which means he can get out and enjoy life outside prison. However, Brooks has been 'institutionalized", slowly and oddly becoming too comfortable in prison. Days after he was out, he's got a job at a supermarket but grew increasingly insecure and disoriented. He in fact thought of committing a new crime so that he can be sent back to prison.

Here is what his mate told of Brooks "The man's been in here fifty years,... Fifty years! This is all he knows. In here, he's an important man. He's an educated man. Outside, he's nothin'! Just a used up con with arthritis in both hands." The same friend then explained how prison experience shaped Brooks: "These walls are funny. First you hate 'em, then you get used to 'em. Enough time passes, you get so you depend on them. That's institutionalized... They send you here for life, and that's exactly what they take. The part that counts, anyway."

So reluctant was Brooks to enjoy his newfound freedom on the other side of the fence that he ended up hanging himself. That's what happened when hope is lost. A running commentary was again provided by his mate, who also got his parole, but didn't want to end up like Brooks:
There is a harsh truth to face. No way I'm gonna make it on the outside. All I do anymore is think of ways to break my parole. Terrible thing, to live in fear. Brooks Hatlen knew it. Knew it all too well. All I want is to be back where things make sense. Where I won't have to be afraid all the time.

I am always fascinated by the question: Why do some people bounce back from difficult circumstances and emerge much stronger, and some give everything up? What makes some so resilient that when they are knocked down, they are not knocked out? Prison is one of those crucible experiences that can make you or break you, but certainly there are many other. Victor Frank's chronicle of his Nazi camp concentration experience provided many clues to this question. These are his words penned in his bestselling book Man's Search for Meaning.
“We who lived in concentration camps can remember the men who walked through the huts comforting others, giving away their last piece of bread. They may have been few in number, but they offer sufficient proof that everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms -- to choose one's attitude in any given set of circumstances, to choose one's own way.”

He was able to transform his horrible experience into something positive, in the form of logotherapy for which he was known a pioneer in the field, a technique used to treat people who undergo harsh realities of life. Later he wrote that "What is to give light must endure burning.” Which reminds me of Nietzschean maxim that "That which does not kill us makes us stronger."

The question remains however why some people can redeem life's darkest moments and popping up on the surface with steel-coated but tender-hearted conviction that can move mountains?

Feb 15, 2008

A milestone on Valentine's day

Here is an unlikely Valentine's day story. A story that somewhat misfits the day but brought me and my wife a great joy as parents.

On Valentine's day 2008, at around 7.30pm, our three-year-old boy Calvin decidedly thought that that day was the day he would ditch his nappies. So after giving us the proper signs, he did 'number 1' gracefully, much to our surprise. Prior to that "A HA" moment, he underwent a very brief toilet training period. We can only recall a couple extreme occasions where we stood with him next to the bowl, nearly 15 minutes!

Great job, Cal!

Feb 12, 2008

Orang Bodoh dan Jigsaw Puzzle

Karena hidup ini singkat dan berharga, banyak orang Kristen berpikir bahwa untuk hidup se-produktif mungkin, yang diperlukan adalah kerja sekeras-kerasnya tanpa istirahat. Namun Alkitab memberitahu kita bahwa hidup produktif bukan seperti itu.

Hidup produktif bukan tentang hidup secara efektif (doing the right things) dan efisien (doing this right), meski keduanya perlu. Alkitab mengajarkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang mengerti kehendak Allah bagi hidup kita dan hidup didalamnya. Diluar itu, hidup kita, sehebat apapun dihadapan manusia, hanyalah sebuah kebodohan dihadapan Allah.

Itulah yang ditekankan Rasul Paulus dalam Efesus 5:17.
- Therefore do not be foolish, but understand what the will of the Lord is (ESV)
- Don't act thoughtlessly, but try to understand what the Lord wants you to do (NLT)

Kata 'foolish' (ESV) atau 'thoughtless' (NLT) atau 'bodoh' (LAI) dipakai berkali-kali di PB, termasuk oleh Tuhan kita. Dua diantaranya dipakai dalam rentang waktu yang berdekatan. Yesus memakai kata yang sama (aphron) untuk orang Farisi yang beranggapan bahwa tingkah laku agama eksternal mereka akan memperkenan hati Allah "Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?" (Lukas 11:40).

Yesus juga pernah bercerita tentang seorang yang dengan naluri entrepreneurship-nya dan keuletannnya bekerja menjadi begitu sukses dalam usahanya, sampai-sampai gudangnya tidak cukup untuk menyimpan hasil panennya. Hari ini orang kaya tersebut mungkin diwakili Richard Branson (Virgin) atau Li Ka Shing atau Kiyosaki atau siapa saja diantara kita yang dimata dunia dapat menembus marketplace yang ultra kompetitif dan menang. Namun penilaian Yesus samasekali berbeda: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?"

Baik yang beragama (Farisi) dan yang tidak beragama (orang kaya) tersebut saya yakin memiliki status sosial yang terpandang di masyarakat karena keberhasilan, kesalehan, dan konfiksi hidup mereka. Namun keduanya disebut 'bodoh' oleh Tuhan kita. Kedua orang tersebut mengingatkan kita bahwa menjadi pemeluk agama Kristen tidak lalu menjadikan kita bijak dimata Tuhan. Demkian juga menjadi alumni Harvard MBA yang berhasil menjadi Milyuner Muda sekalipun tidak menjamin kita pasti tidak akan disebut 'Bodoh' oleh Allah.

Rasul Paulus menulis bahwa orang yang disebut bijak oleh Allah adalah orang yang berupaya mengerti kehendak Allah dalam hidupnya. Menarik sekali kata 'mengerti' yang dipakai dalam Efesus 5:17 punya konotasi seorang yang sedang menyusun potongan-potongan jigsaw puzzle, sampai akhirnya mendapatkan keseluruhan gambarnya secara utuh. Gambar yang kita sedang coba susun tersebut adalah kehendak Allah, yaitu apa yang menjadi keinginan hati Allah (lihat Efesus 5:10). Bijaksanalah orang yang menjalani hidupnya mencari potongan-potongan puzzle hasrat hati Allah, menemukannya, dan mengikutinya seumur hidupnya.

The Lure of Sin

According to tradition, this is how an Eskimo hunter kills a wolf. First, the Eskimo coats his knife blade with animal blood and allows it to freeze. He then adds layer after layer of blood until the blade is completely concealed by the frozen blood.

Next, the hunter fixes his knife in the ground with the blade up. When a wolf follows his sensitive nose to the source of the scent and discovers the bait, he licks it, tasting the fresh frozen blood. He begins to lick faster, more and more vigorously, lapping the blade until the keen edge is bare. Feverishly now, harder and harder, the wolf licks the blade in the cold Arctic night. His craving for blood becomes so great that the wolf does not notice the razorsharp sting of the naked blade on his own tongue. Nor does he recognize the instant when his insatiable thirst is being satisfied by his own warm blood. His carnivorous appetite continues to crave more until in the morning light, the wolf is found dead on the snow!

Many kids begin using drugs, drinking alcohol, smoking cigarettes, or engaging in unsafe sexual behavior for the same reasons that the wolf begins licking the knife blade. It seems safe and delicious at first, but it doesn't satisfy. More and more is desired, leading to a crisis-or death. Don't be fooled by the temptations of sin. Like the wolf, we can get away with it for a while. Eventually, however, its true character is revealed. Sin leads to death and destruction. "For the wages of sin is death" (Rom. 6:23).

Source: Wayne Rice, Hot Illustrations For Youth Talks, Zonderzan, pp. 87-88.

Feb 7, 2008

Leadership Class

I am about to finish teaching Summer intensive course in Leadership which runs for two weeks 5 hours each. It's tiring, but self-rewarding. The opportunity to touch the lives of others through the course is something that I enjoy doing profoundly. Equally important is what I teach helps me to challenge my own preconceived notion of leadership and the many other issues associated.

We discussed many leaders from William Wilberfore to Steve Jobs, from Mahatma Gandhi to Jim Jones. What becomes clear to me is that leadership starts with a process of self-discovery. As there are no universal traits of leaders, one need to be authentic - to be who she or he really is. That is why a lot of soul searching is required for any effective leadership. Our earliest experiences as a baby/child did play a role in determining the effectiveness of our leadership, and so are all the 'defining moments' later in our lives.

Our fascination (and mine) with leadership will be likely to continue. Despite how unhealthy it may become, one should acknowledge that everything rises and falls on leadership. Borrowing de Vries' metaphor, you can have the most sophisticated engine and most aesthetic design in the world for your car, but without a capable driver, the only direction the car will run on itself is downhill. Organizations are not different. If anything, this course deepens my conviction that cultivating our leadership character is priceless, particularly since we have a role model to imitate: The Servant King, Christ Jesus.

Feb 4, 2008

Tragedy of Life


The tragedy of life is that you can only understand it backward but you have to live it forward (Soren Kierkegaard)

Kairos Favors the Prepared Heart

"In the field of observation, chance favors the prepared mind", demikian tulis Pakar Mikrobiologi Perancis Louis Pasteur (1822-1895). Kalau diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia, kalimat diatas kira-kira berbunyi sebagai berikut: “Dalam bidang observasi, keberuntungan berpihak pada mereka yang siap.”

Pasteur menulis kalimat tersebut dalam konteks penelitiannya tentang proses kristalisasi dan fermentasi, yang aplikasinya hari ini kita dapati pada susu dan wine, vaksin penyakit kolera dan rabies, dan lain sebagainya. Ia mungkin tidak pernah mengantisipasi bahwa kalimatnya diatas akan diadopsi oleh banyak di luar konteks laboratorium sebagai sebuah filosofi hidup. Di bidang manajemen, para eksekutif hari ini menerapkan filosofi tersebut saat mereka menyusun rencana strategis perusahaan dan hidup pribadi mereka.

Kalimat tersebut menarik, karena saya pikir relevan dengan filosofi hidup anak-anak Allah, namun perlu modifikasi. Alkitab tidak mengajarkan kita konsep chance atau keberuntungan, karena Allah dalam pemeliharaanNya yang penuh kasih senantiasa berintervensi dalam hidup anak-anakNya.

Bagi anak-anak Allah, yang benar bukan “Chance favors the prepared mind”, tetapi “Kairos favors the prepared heart.” Konsep tersebut saya deduksi dari apa yang ditulis Rasul Paulus dalam Efesus 5:16, yaitu “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Kata ‘waktu’ yang dipakai di ayat tersebut berasal dari kata kairos (bukan kronos, yg berarti waktu secara kronologi – kemarin, hari ini, dan besok). Kairos adalah momen Allah menyatakan diriNya secara khusus pada kita melalui pengalaman hidup yang kita lewati, yang berpotensi menjadi sebuah momen transformatif dalam hidup kita. Beberapa contoh kairos, adalah saat kita pertama kali menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, atau pengalaman hidup yang negatif namun yang justru memberi makna baru terhadap cara pandang atau prioritas hidup kita.

Sedangkan kata 'pergunakan' dalam ayat tersebut berasal dari akar kata yang dengan tepat diterjemahkan ‘redeem’ dalam versi King James. Jadi Paulus meminta kita untuk menebus kairos. Ia seakan berseru: “Tebuslah, belilah kembali momen-momen transformatif yang Allah berikan bagimu."

Alasannya adalah "karena hari-hari ini adalah jahat." Alasan kita menebus kairos bukan karena hari-hari kita pendek, tapi jahat. Kepada jemaat Efesus yang hidup di tengah budaya metropolitan yang sarat dengan manifestasi dosa (secara khusus, penyembahan berhala dan berbagai dampaknya), Paulus mengingatkan bahwa semakin gelap dunia kita, semakin penting kita menangkap setiap kesempatan yang Allah turunkan bagi kita agar hidup kita yang sementara di dunia ini tidak sia-sia, tidak terus ditipu mentah-mentah oleh si Jahat dan menjadi bahan tertawaannya.

Sebuah studi menyatakan bahwa jumlah milioner baru di Australia meningkat drastis karena begitu banyak entrepreneur muda yang begitu peka dan lihai mencium sebuah kesempatan bisnis, menangkapnya, mengerjakannya, dan menuai hasil darinya. Mereka tahu persis bahwa kesempatan bisnis yang penting tidak akan datang untuk kedua kalinya. Dan tidak akan menunggu orang-orang yang tidak siap.

Bukankah tragis bila anak-anak Allah juga hanya peka dan siap untuk menangkap kesempatan bisnis, namun bagai orang bisu tuli terhadap kairos-kairos Allah?

Menengok ke belakang, saya sadar betapa sering kairos-kairos Allah lewat begitu saja dalam hidup saya. Momen dimana saya seharusnya mengabarkan Injil, menghibur orang lain, menyatakan sentuhan kasih Allah pada orang yang membutuhkan, semua itu lewat begitu saja karena saya terlalu sibuk dengan agenda pribadi saya. Banyak orang Kristen seharusnya naik kelas dalam sekolah iman ketika Allah ijinkan sebuah pengalaman kehilangan (kehilangan kesehatan, keberhasilan, rasa aman, orang yang dikasihi, dst), namun mereka hanya bengong karena tidak siap.

Sebabnya sederhana: hidup di dunia ultra modern, kita tidak dengar-dengaran terhadap Allah. Relasi pribadi kita dengan Allah hanya sebatas rutinitas keagamaan. Tidak heran kita merasa hidup rohani kita kering, dan Allah tidak riil dalam hidup kita. Mari kita ubah pola ini. Kepekaan rohani tidak datang dalam semalam, tetapi muncul karena sebuah kebiasaan berinteraksi secara akrab dengan Allah. Sama halnya suami-istri yang setelah bertahun-tahun hidup bersama menjadi lebih peka dengan suara hati pasangannya.

Tanpa kepekaan rohani, kairos Allah tersebut akan hanya melewati kita. Dan kesempatan untuk dibentuk, diajar, diubahkan oleh Allah hilang, dan mungkin tak pernah kembali. “Kairos favors the prepared heart.”

Jan 25, 2008

Sexual Addiction

Christianity Today (CT) in the past published three excellent articles on how Christian leaders battle their addiction to lust. The articles instantly became leadership classics - must-read readings on the subject!

I have read all three, which include very candid accounts of a Christian struggling with the sin of pornography. I have referred to them in my sermon and applied the truth in my own life. Now CT publish them as a bible study guide titled Confronting Sexual Addiction with the following intro:

Sex sells. At $57 billion per year, pornography generates more revenue in America than the combined income generated by pro football, baseball, and basketball, according to xxxchurch.com. But this is not an excuse - we must recognize that lust isolates, explores multiple lives, and fosters shame. This study affirms that sexuality comes under God’s kingdom rule. This is a call for greater resolve among followers of Christ to shed light on the problem, stop feeding it, and to be honest about where it will take us. Finally, it points us back to the cross to remind us how much God loves us, even in our failures.

But you can still get the three individual articles full-text on the web:
Article 1: The War Within - The Anatomy of Lust
Article 2: The War Within Continues
Article 3: Gutsy Guilt
...plus an Afterthought: Battle Strategy

Jan 23, 2008

'Private Journals with Megaphones'

Blogs are merely "private journals with megaphones", wrote Russell Jacoby, a history prof at UCLA. Neat definition, isn't it?

He argued in today's Higher Education section of The Australian newspaper that in general blogs are pathetic when it comes to "reasoned contributions to public life." Certainly there is a grain of truth there. One can read lots of useless blogs, become a junkie at that, and, to use Portman's phrase, amuse him/herself to intellectual death. A word of caution there for both blog readers and writers (me included).

Here is another interesting quote from Jacoby:

Jose Ortega y Gasset's fear almost a century ago of the revolt of the masses needs an update. We face a revolt of the writers. Today everyone is a blogger, but where are the readers? A New Yorker cartoon reverses the usual picture of a literary festival with book lovers lined up to get the author's autograph. The cartoon shows a table and a queue, but authors line up to see the reader, who sits behind the table. On the internet, articles, blog posts and comments on blog posts pour forth, but who can keep up with them? And while everything is archived, has anyone looked at last year's blogs?

The full-text article is here.

Jan 21, 2008

New Book: The Discipline of Spiritual Discernment

Tim Challies, yang disebut oleh Justin Taylor (rekan sepelayanan John Piper) sebagai The World’s Most Famous Canadian Reformed Blogger menulis sebuah buku baru yang penting untuk dibaca: The Discipline of Spiritual Discernment.

Tertarik untuk membaca Foreword (oleh John MacArthur), Introduction, dan Chapter 1 dari buku tersebut? Klik disini.

Jan 20, 2008

Gaya Hidup "Akribos" (part 2)

Sejak Mbah Socrates bilang "An unexamined life is not worth living", maka orang di Barat mulai punya bibit kesadaran bahwa yg namanya hidup itu mesti reflektif. Tanpa refleksi, hidup kita akan mudah jalani sembarangan. Lengah. Orang bilang pengalaman adalah guru yang berharga. Tapi saya kira itu salah lho. Yang menjadi guru berharga itu bukan pengalaman, tapi refleksi terhadap pengalaman-pengalaman. Tanpa refleksi, pengalaman-pengalaman hidup itu lewat begitu saja, kayak angin yang bertiup di sela-sela tubuh kita numpang lewat doang.

Kalau ada yg suka bilang gini: "Saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan". Kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang sembilan kali ! Jadi kesalahan yg sama tetap dilakukan. Metode yg sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Hidup Akribos adalah hidup yang reflektif dalam pengalaman hidup keseharian yang kita anggap sederhana, yang sepele, yang remeh. Namun seringkali semua itu tanpa kita sadari membentuk karakter kita in the long run. Berikut beberapa contoh:

1. Dalam relasi suami-istri kita sudah biasa ngomong ke istri atau suami kita dengan asal-asalan. Ngomong tanpa berhadapan muka. Tapi menjerit dari ruangan sebelah. "Eh, loe besok rencana ke rumah si A Bun jadi ga? Hah, apa? Jawab kencengan dikit kek! Hah, bukan, bukan, gua bukannya ngelarang.....gua nanya soalnya kalo lu jadi, gua mau ikut. Apa? Lu ga denger? GUA MAU IKUTTT!" Ini hal sepele, namun cara komunikasi seperti ini dalam 2-3 tahun akan turut membentuk kualitas relasi antara suami dan istri. Lama kelamaan, cara bicara sekenanya akan menjadi sebuah pola. Akibatnya, seringkali komunikasi sambil lalu itu menghilangkan sensitivitas terhadap perasaan pasangan kita. Ujung-ujungnya, cekcok, berantem, pisah ranjang, etc. Ketika sedang marahan, yang dijadikan kambing hitam adalah urusan klasik (anak, uang, mertua, etc.). Padahal akar masalahnya sepele. Yaitu suami istri tsb tidak pernah duduk merefleksikan cara komunikasi mereka yang semakin lama semakin memburuk. Masalah yang persis sama seringkali terjadi dalam relasi orang tua dan anak.

2. Seorang remaja pria yang mulai coba-coba belajar melakukan masturbasi. "Ah, ini khan masalah sepele. Toh semua remaja usia puber melakukannya" (well, at least menurut dia). "Khan ndak ada yang tahu. Toh aku sudah cukup dewasa dalam iman untuk tidak keliwat batas. Mendingan begini daripada apa yang dilakukan teman-temanku, jauh lebih runyam." Maka sesuatu yang awalnya coba-coba, lama-lama jadi enak, keterusan, ketagihan. Tidak lama kemudian, jadi habit. Habit yang tidak pernah habis. Bahkan sampai remaja tersebut beranjak dewasa, sampai punya pacar, sampai menikah dan punya anak. Ketika menginjak usia senja, pemuda yang sekarang telah menjadi kakek tersebut berkata "Aku sudah tidak tahu lagi siapa diriku, mengapa aku berubah menjadi babi yang selalu ke kubangan dosa. Begitu menjijikkan. Tapi aku tak mampu berhenti."

Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, tulis Rasul Paulus. Gejala "coba-coba" yang lalu menjadi habit ini muncul dalam bentuk yang berbeda-beda: rokok, obat-obatan, alcohol abuse, mengumpat, dst.

3. Ken Lay, eks Chairman dari Enron, yang tadinya adalah one of the most innovative/highly respected/top-performing global firms, sebelum divonis hukuman penjara seumur hidup karena turut mendalangi the biggest accounting fraud dalam sejarah bisnis, memulai praktek menyulap angka-angka di pembukuan perusahaan itu secara kecil-kecilan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Masalah yang paling besar bukan kejahatan kerah putihnya yang semakin menggila, tapi karakternya yang semakin ter-erosi. Sehingga kalau dia membandingkan dirinya di usia 20-an saat dia mulai bekerja di Enron dan di usia 60-an ketika dia divonis oleh pengadilan, dia merasa dia tidak kenal lagi siapa dirinya. Akhir hidupnya begitu mengenaskan, tidak berapa lama setelah ia divonis, ia meninggal karena serangan jantung.

Masih ada banyak contoh lain. Tapi point-nya sudah jelas. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yg kita lakukan setiap hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Apa yang kita lakukan secara konsisten, sekecil apapun hal tersebut, akan mempengaruhi the core of our being.

Permasalahannya, sekitar 95% perilaku kita itu spontan, bukan premeditate. Pikiran, sikap, dan aksi kita meluncur otomatis. Semua itu semacam spillover dari apa yang ada dalam hati kita. “Out of the abundance of the heart the mouth speaks", kata Yesus dalam Mat 12:34. Kalau mobil kita diselip orang, kita tidak pernah menepikan mobil lalu mengerutkan alis dan berpikir, "Gua mendingan ngumpat itu sopir atau ngempet aja dalam hati?" Tapi reaksi kita spontan. Hawa panas naik membakar hati, lalu api tersebut memberi energi kepada sel-sel otot di mulut untuk berkata, "Hey, muke gile loe!" sambil otak memerintahkan kaki untuk injak pedal gas dan tangan untuk menyelip balik sopir gila itu (dan semua itu terjadi dalam dua detik).

Tidak heran apabila Rasul Paulus setelah memaparkan dengan beda manusia lama dan manusia baru, lalu memberikan aplikasi praktis dalam hidup keseharian kita: Jangan berdusta, jangan marah, jangan ada perkataan kotor dari mulutmu, dst. Semua itu adalah spillover dari apa yang ada hati kita.

Itu sebab mari kita hidup dengan Akribos. Perhatikan apa yg kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita. Karena itu menjadi refleksi apa yang ada di hati kita. Pengamsal dengan arif mengingatkan kita: "Jagalah hatimu dengan kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Amsal 4:23).

Jan 17, 2008

Gaya Hidup 'Akribos'

"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" - Efesus 5:15

Hidup orang Kristen berbeda dengan hidup orang dunia, karena standard yang dipakai berbeda. Bijaksana menurut Alkitab berbeda dengan bijaksana menurut dunia. Apa yang dianggap bijak oleh dunia, mungkin dianggap bebal oleh Alkitab. Demikian juga sebaliknya!

Elton John mungkin punya ide cemerlang dgn musiknya, demikian juga Steve Jobs dgn inovasinya dari iPod sampai Macbook Air, dst, namun diluar Kristus mereka tidak akan dapat menjalani hidup sebagai orang bijak menurut kacamata Allah.

Dalam teks Efesus 5:15-17, Paulus memberitahu kita beda orang bijak dan orang bebal.

Kata asli yang dipakai untuk ‘perhatikan dengan seksama’ adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, thoroughness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yg sedang menganalisa suatu zat dibawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup Akribos adalah hidup yang tidak sembarangan. Hidup Akribos adalah hidup yang selalu sepadan dengan standard, dengan sebuah idealisme.

Dalam PB, kata ini dipakai minimal empat kali:
- Matius 2:8 "Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
- Lukas 1:3 "Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu."
- Kisah 18:25 "Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes."
- 1 Tes 5:2 "karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam."

Menarik sekali mempelajari konteks dimana keempat ayat tersebut muncul, lalu melihat bahwa dalam keempat konteks yg berbeda tersebut, ada persamaan benang merah dalam penggunaan kata Akribos. Yaitu ketelitian dan keakuratan yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.

Dalam Matius, kata Akribos digunakan untuk orang Majus yang diminta Herodes menjadi Detektif menyelidiki Bayi Kudus yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, kata ini dipakai oleh Dr Lukas melihat dirinya sebagai seorang Jurnalis melaporkan pandangan mata dan pengalamannya bersama Kristus Yesus, Dalam Kisah Rasul, kata ini digunakan Apolos sebagai seorang Guru yang mengajar jemaat Efesus dengan akurat. Terakhir, kata tersebut digunakan jemaat Tesalonika sebagai Murid yang telah menguasai ajaran dengan mendalam ttg kedatangan Kristus. Jadi ada 4 profesi yang muncul menggunakan kata Akribos: Detektif, Jurnalis, Guru, dan Murid.

Dalam Efesus 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, tetapi sebuah gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis, hari ini bagian dari Turki. Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yg sangat tersohor shg semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya setiap tahun. Sebagaimana kota metropolitan hari ini seperti Melbourne atau Jakarta, segala macam dosa ada ada di Efesus. Kepada jemaat Efesus Paulus berkata, "Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!" Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di abad ke-21.

Mengapa kita harus hidup dengan Akribos? Ayat 15 dimulai dengan "Karena itu..." Kita lalu bertanya: Karena apa? Jawabannya ada di ayat sebelumnya, ayat 14: "Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati, dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Kita harus hidup dengan Akribos karena Kristus telah membangkitkan kita dari kematian rohani. Tadinya kita adalah zombie rohani. Hidup bergerak kesana-kemari, tapi mati secara rohani. Seperti Lazarus, kita dibangkitkan oleh Allah dari kematian. Itu sebab hidup kita sebagai manusia baru adalah hidup Akribos.

Anda dan saya akan disebut orang bebal, bila kita hidup terus-menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh Setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, Engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang-orang yg belum mengenal Allah. Ayat 11 berkata, "Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu."

Konkritnya, hidup dengan Akribos adalah hidup yang dipimpin oleh firman Allah. Hidup yang diarahkan, diarahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Banyak orang yang namanya Sophia, mulai dari Sophia Latjuba, Sophia Loren, dst. karena arti Sophia adalah bijak. Bebal dalam ayat 5:15 berasal dari kata asophia. Kata philosophy berasal dari dua kata philo-sophia yg berarti orang yg mencintai kebenaran. Orang yang suka bijaksana hidup.

Jika kita tengok ke belakang ke tahun 2007, apakah kita sering lengah, terus-menerus menjadi bahan tertawaan Setan? Pemazmur berdoa kepada Tuhan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih, Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.... Dalam hatiku aku menyimpan janjiMu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

bersambung...

The Truth shall set you free!


Die Wahrheit wird euch frei machen. That's the motto of University of Freiburg in Germany, one of the oldest and most respected universities in the world. It is literally taken from the Scripture: The Truth shall set you free (John 8:32). Top universities in the world were initially started in the 12th century with a passion to study the world and its Creator, something that is made possible by the orderliness with which God has weaved into His designs. However, the emerging rationalism and humanism in the 18th century staged a coup on theology as the queen of science. Since then the secularization process began.

To understand that process and its profound consequences, check this useful website, The Redemption of Reason, a conference for Intentional Christian scholars in conversation with the Secular mindset today. The website contains links to profound writings by concerned Christian scholars from multiple generations, such as Lewis, Malik, Schaeffer, Noll, etc. Their latest conference featured Dr Dallas Willard.

O'Donovan's on Morally Awake

If you fancy weighty theological stuff, here is the 2007 New College Lecture Series by Professor Oliver O'Donovan, entitled Morally awake? Admiration and resolution in the light of Christian faith. Here is a snapshot:

There is one metaphor in Scripture that seems to me to capture the dynamic of moral thinking, and that is “wakefulness”. The metaphor of wakefulness draws our attention to the fact that moral attention faces in more than one direction: to reality as it is, to possibility as it has yet to be realised, and to ourselves as actors. It brings together attentiveness and alertness: attentiveness to the realities that present themselves, alertness in responding to them. So it captures the nuclear core of our moral experience, the sense of being so situated in the world that certain practical dispositions are elicited from us. At the same time it forces us to look from our routine moral experience to the ultimate question of our final destiny.


The full pdf text and mp3 file are available here.

Jan 14, 2008

Computer Games bad for kids

An important piece of the latest research evidence for parents:

"CHILDREN should be banned from playing computer games until the age of seven because the technology is "rewiring'' their brains, it has been claimed. Bombardment of the senses with fast-pace action games is said to be causing a shortening of attention span, harming the ability to learn."

Read the entire article here.

Manusia Lama dan Baru (bag. 2)

Dalam sekolah Kristus, Ia sebagai kepala sekolah berkata, “Ganti bajumu dengan pakaian yang baru!" Pakaian baru tersebut telah Ia sendiri ciptakan bagi kita. Tapi pertanyaannya bagaimana kita mengenakan manusia baru yang Ia telah ciptakan tersebut? Yaitu manusia yang memiliki perpektif, pikiran, perasaan, perilaku, dan prioritas hidup yang berkenan pada Allah.

Jawabanya ada di ayat 23: Kamu dibaharui dalam roh dan pikiranmu. Dalam bahasa Inggris, terjemahannya lebih jelas: Be renewed in the spirit of your mind. Struktur kalimat aslinya seharusnya membuat kalimat tsb berbunyi: And be constantly renewed in the spirit of your mind. Ada beberapa prinsip yang penting yg kita perlu perhatikan dari struktur kalimat ini, dan ini perlu kita mengerti bukan supaya kita menguasai Alkitab, tapi supaya kita dapat hidup menyenangkan Allah.

Pertama, kata ‘be renewed’ ditulis dalam bentuk continuous present tense, menunjukkan bahwa kita secara konstan terus-menerus diperbaharui. Ini berbeda dengan kata “Put on” yang ditulis dalam bentuk Aorist tense yang menunjukkan bahwa ini adalah aksi yang telah selesai terjadi di masa lampau (a past completed action).

Kedua, kata ‘be renewed’ ditulis dalam bentuk passive voice, yang berarti kita tidak memperbarui pikiran kita sendiri, tetapi kita diperbarui oleh sebuah kuasa dari luar diri kita, yaitu kuasa Ilahi Allah Roh Kudus yang menyucikan kita.

Pembaruan pikiran kita terjadi saat pikiran kita dipenuhi oleh kebenaran firmanNya. Berikut beberapa ayat firman Tuhan yang mengajarkan kebenaran ini:

Kol 3:2-3 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Fil 4:8: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Mzm 119:11 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.

Kita tidak akan pernah berhasil menjadi suci, menjadi orang yang berkenan pada Allah, dengan usaha kita sendiri. Allah bekerja dengan dan melalui firmanNya yang lebih tajam dari pedang bermata dua, sanggup memisahkan pertimbangan dan pikiran hati kita. Saat pikiran kita semakin 'saturated' dengan kebenaranNya disanalah Allah perlahan mengubahkan perspektif dan prioritas hidup kita. Kecederungan hati kita, affection kita tidak lagi pada dunia dan segala tawaran manisnya, tetapi kepada Allah.

Manusia Lama vs Manusia Baru

Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:20-24).

Apa artinya menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru?

Ayat paralel teks diatas dari Kolose 3:8-9 berbunyi: “Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui.” Inilah prinsip penafsiran Alkitab yang penting. Yaitu Alkitab ditafsirkan oleh Alkitab sendiri. The best commentary of the Bible is the Bible itself. Dari ayat tersebut, kita mengerti bahwa arti menanggalkan manusia lama bukan hanya soal perilaku. Perhatikan tadi Kolose menulis “karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Manusia lama itu merujuk kepada siapa diri kita, yaitu perspektif hidup kita, sikap hidup kita, prioritas hidup kita, perasaan kita, dan perbuatan kita.

Mengenakan manusia baru dalam Kolose dijelaskan sebagai berikut di ayat 12: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Dalam sekolah Kristus, inilah baju seragam yang harus kita kenakan. Kita belajar dalam sekolah Kristus untuk ditransformasi menjadi orang yang berbelas kasih, bermurah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

Analogi yang paling tepat menggambarkan kebenaran ini adalah peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati selama 4 hari dan tubuhnya mulai membusuk dan bau. Namun Yesus bersabda dan firmanNya tsb membangkitkan Lazarus dari kematian. Yoh 11:44 mencatat “Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannnya masih terikat dengan kain kapan, dan mukanya tertutup dengan kain peluh.”

Anda ingat apa kalimat berikut yang keluar dari mulut Tuhan kita? “BUKALAH KAIN-KAIN ITU, dan biarkanlah ia pergi.” Bukalah kain-kain itu! Tanggalkan baju kuburan itu. Copot baju itu karena itu baju untuk orang mati itu. Karena ia sekarang tidak lagi mati, tetapi hidup.

Kalau Anda dan saya yang tadinya mati secara rohani, dan telah mendengar seruan Kristus yang membangkitkan kita dari kematian, namun kita masih berjalan kesana-kemarin dengan baju kuburan, ada sesuatu yang tidak beres dengan hidup kita. Kita bukan orang mati, mengapa kita masih pakai baju orang mati? Kita sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, mengapa kita masih pakai baju orang tahanan?

Ini konsep yang penting kita mengerti. Itu sebab Ef 4:22-24 ini dijelaskan panjang lebar oleh Paulus dalam 4 pasal kitab Roma, pasal 5,6,7,8. Jika Anda dan saya mengaku telah percaya Kristus, masuk dalam sekolah Kristus, namun masih memiliki perspektif hidup, nilai hidup, sikap hidup, prioritas hidup, dan kebiasaan-kebiasaan yang sama seperti dahulu, tidak ada perubahan, Anda dan saya perlu bertanya, BENARKAH SAYA SUDAH MENGENAL KRISTUS? BENARKAH SAYA SUDAH DISELAMATKAN?

Kristus berkata, “Ganti bajumu”, namun kita cuma merapikan baju kita yang lama, kita cuma tambahin aksesoris di baju kita, pakai pin, pakai dasi, ditutup dengan jaket, namun pakaian lapisan dalam yang lama itu tetap kita kenakan. Artinya: Setelah kenal Kristus, kita tetap adalah manusia yang cinta uang, yang terikat dengan pornografi, yang memandang rendah orang lain, yang suka mengumpat, yang egois, dan seterusnya.
Kita masuk sekolah Kristus tidak dengan hati yang sungguh-sungguh. Hidup yang telah dibenarkan dalam Kristus akan melahirkan kesucian hidup, kecintaan terhadap Allah terhadap pekerjaan Allah, dan kebencian terhadap dosa. Jika setelah dibenarkan dalam Kristus tidak ada kesucian hidup, keselamatan Anda perlu dipertanyakan.

1 Yoh 2:15 mencatat: Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

Mari kita periksa diri kita saat ini. Kita yang mengaku Kristen, tetapi kita tidak pernah punya niat untuk meninggalkan dunia, dosa, dan si Jahat, tidak ada kemauan untuk berubah, Anda perlu meragukan keselamatan Anda. Jangan pikir karena sudah jadi anggota gereja, ikut pelayanan dalam gereja, maka keselamatan Anda terjamin. Perubahan gaya hidup adalah tanda dari keselamatan, buah dari keselamatan.

Anda mungkin lalu berpikir, Wah, rasul Paulus kok muter-muter ya nulisnya? Kenapa ga langsung saja bilang, “ Okay, kamu sekarang sudah Kristen. Tinggalkan kebiasaan burukmu. Bangun kebiasaan yang baik mulai hari ini. Miliki kesucian hidup” Khan lebih jelas, lebih straightforward.

Karena sekolah Allah bukan sekolah orang Farisi, bukan sekolah yang legalistik, bukan sekolah yang berisi peraturan moral yang dipatuhi dengan kemampuan usaha manusia. Mari kita baca lagi ayat 24: mengenakan manusia baru yang telah DICIPTAKAN menurut kehendak Allah. Manusia baru ini bukan usaha kita. Tapi telah diciptakan oleh Allah. Kita tidak diperintahkan untuk mengejar hidup suci, karena Allah telah memberikan itu. Sekolah Allah bukan performance-oriented school, yang muridnya dituntut mati-matian ‘hidup suci’, dan dinilai oleh Allah dengan High Disctinction atau Fail.

Dalam sekolah Allah, kurikulumnya bukan self-improvement program. Tapi kurikulumnya adalah grace-based. Berdasar anugerah. Allah menciptakan manusia baru, dan itu berarti semua perspektif, pikiran, perasaan, dan perilaku yang kita harus kenakan itu sudah Allah ciptakan. Karena Allah Roh Kudus bekerja dalam hati kita sbgmana Paulus jelaskan dalam Efesus pasal 1.

bersambung...

Jan 11, 2008

Alkitab dan Weight-Loss Program

Sebuah artikel menarik dari Washington Post, yg muncul di The Age Online.


Berikut cuplikan artikel tersebut. Komentar singkat saya ada dibawah.
A YEAR ago Baptist minister Steve Reynolds told his Virginia congregation they were praying too much at the altar of fatty foods and put them on a diet. About 250 people, most of them members of Mr Reynolds' Capital Baptist Church, joined his Bod4God weight-loss program that combined Christian principles with a low-fat diet and exercise. They lost 952 kilograms in about 12 months.

"It was wonderful," said Diane Cornell, a homemaker from Falls Church, Virginia, who shed 21 kilograms. "It was like you got your life right with God and the weight just came off."

The program has been so successful that Mr Reynolds is launching the 2008 version of Bod4God with a luncheon on January 19 at the church. As many as 300 people are expected to enrol for the first of three sessions this year.

They also study the Bible, focusing on verses that appear to apply to issues of health and body image, such as Romans 12:1-2 — "I beseech you therefore, brethren, by the mercies of God, that you present your bodies a living sacrifice, holy, acceptable to God, which is your reasonable service."

Mungkin ini jadi contoh yg paling baru dan kocak tentang beda orang Kristen yang Alkitabiah dan Ayatiah. Comot-comot ayat untuk mendukung opini pribadi seperti buku primbon.

Kalau Roma 12:1 dipakai sebagai justifikasi utk program weight-loss, karena tubuh mesti jadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan pada Allah, berarti itu bisa juga dipakai sebagai justifikasi oleh:
- Ethical Tobacco Company Executive: "Smoking is Dangerous to Your Lung, Remember Romans 12:1-2"
- Alcoholic Anonymous Group Leader: "Alcohol ruins your lever. Let us recite again Romans 12:1-2"
- Vegetarian Advocate: "No meat, no fat, no bbq pork; they damage your heart. Romans 12:1-2 rules against it"
- Dermatologist: "No exposure to UV index, it will grow cancerous cell in your body. Reason: Romans 12:1-2"
- Water Saver Ad: "Four-minute once-a-day shower is best to avoid dry skin. It's biblical. See Romans 12:1-2"
- Yoga Teacher: "Christian Yoga is good for your body health. I am supported by the bible Romans 12:1-2"
- Retail Therapist: "Going shopping twice a week rejuvenates your soul and body. Romans 12:1-2 supports that"
- Greenist: "Leave your car. Walk, jog, run to and from work. It's good for your body. Ref: Romans 12:1-2"
- Milk Enthusiast: "Romans 12:1-2 says body is important to God. Drink Milk. It does your body good"
- Shiatsu Massage Specialist: "We fix your tense muscle in no time. Romans 12:1-2 said, Relax your muscle"
- Etc...

Ada cukup banyak buku Kristen yang memberitahu bahaya penafsiran Alkitab yang sembarangan, misal D.A. Carson's Exegetical Fallacies, James Sire's Scripture Twisting, dst, Sayang tidak digubris.

Memang program weight-lost ada bagusnya. Berguna dan mungkin perlu didukung. Cuma tidak perlu memaksa pemakaian ayat-ayat untuk menampilkan kesan itu Alkitabiah, bila itu diambil diluar konteks dan melenceng dari makna yang dimaksud oleh penulis kepada penerima surat yang pertama kali. Lagian, jika gereja fokus pada weight-lost program, bagaimana dampaknya pada issue-issue yg lebih penting. Misalnya, bagaimana kita menjadi lebih serupa Kristus terlepas dari berapa berat badan kita.

Family Christmas Snapshot

Here is a snapshot of our family Christmas dance.
Too bad the actual video is already unavailable.

Jan 9, 2008

Hidup Sepadan dengan Panggilan

Panggilan hidup atau vokasi hidup berasal dari kata vocare (Latin) atau kalein (Yunani). Di Alkitab, baik PL maupun PB, kita menemukan Allah sebagai Caller (Pemanggil) para hambaNya (Abraham, Musa, Yesaya, misalnya) dan umatNya. Dalam PB, umat perjanjian disebut sebagai Ekklesia, yang berasal dari kata ex (dari) dan klesis (dipanggil) dan berarti dipanggil keluar. Itu berarti kita adalah umat yang dipanggil keluar dari dosa oleh Allah untuk melayani Allah di dunia ciptaanNya. Inilah yang biasa disebut sebagai ‘panggilan umum.’

Alkitab juga mengajarkan tentang panggilan khusus. Yaitu bahwa setiap orang Kristen mendapat suara panggilan Allah untuk mempersembahkan seluruh dimensi kehidupan mereka sebagai ibadah mereka kepada Allah. Dengan demikian tidak ada dualisme antara klergi dan awam, rohani dan sekuler, orang Kristen full-time dan part-time, gereja dan dunia.

Dalam bukunya The Call, Os Guinness menggambarkan orang yang hidup sesuai dengan panggilan Allah ini sebagai berikut: “Hidup yang dihidupi menjawab panggilan Kristus sehingga kepribadian, karunia rohani, dan talenta naturalnya mengalami pembaruan sedemikian rupa sehingga semua itu dipakai bukan untuk kepentingan pribadinya, keluarganya, atau bahkan orang lain, tetapi untuk Allah, yang akan meminta pertanggungjawaban darinya atas semua itu.”

Kita tidak dapat memilih panggilan Allah untuk kita. Kita hanya dapat menemukannya, menerimanya, dan menjalankannya.

Guinness menekankan bahwa setiap kali kita berbicara soal panggilan, kita harus bertanya “Siapa yang panggil?” dan “Dipanggil untuk apa?” Dalam kitab Efesus, kita mendapat jawaban kedua pertanyaan tersebut. Pertama, kita mendapat panggilan untuk bertobat dan kembali kepada Allah dalam Kristus Yesus (Efesus 1-3). Kedua, panggilan untuk hidup memuliakan Allah (Ef 1:6,12,14).

Jadi kita dipanggil pertama-tama kepada ‘Seseorang’ sebelum kita dipanggil untuk melakukan ‘sesuatu’. Panggilan untuk memuliakan Allah tersebut dijelaskan oleh Paulus muncul dalam berbagai konteks hidup kita, yaitu gereja (Ef 4:1-16), pribadi (Ef 4:17-32), pernikahan (Ef 5:21-33), rumah tangga (Ef 6:1-4), tempat kerja (Ef 6:5-9), dan masyarakat (Ef 6:10-18).

Berikut definisi (sementara) saya tentang panggilan Allah, berdasar Efesus 1-6:
Panggilan Allah dalam Kristus Yesus kepada umatNya yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang mentransformasi seluruh dimensi hidup mereka agar sepadan dengan panggilan tersebut.

Itulah sebabnya setiap kali seorang Kristen memikirkan perannya sebagai soerang anggota gereja, seorang suami/istri, orang tua, seorang anak, seorang pegawai, seorang profesional, seorang manager, seorang warga negara, maka ia berhadapan dengan sebuah tantangan. Tantangan untuk menginterpretasi seluruh aktivitas yang tercakup dalam berbagai peran tersebut dalam terang panggilan untuk mengasihi Allah dan sesamanya.

Itu berarti saya bukan hanya dipanggil sebagai suami, ayah, dosen, tetapi saya dipanggil sebagai seorang suami, ayah, dan dosen di dalam rangka saya mengasihi Allah dan sesama manusia melalui peran saya tersebut.


Bagan dibawah ini mungkin membantu memperjelas:

New Year's Dilemma

I last blogged Dec 16 2007. Today is Jan 9 2008.
Nearly a month has passed.

During that holiday period, I had too much fun living in a real life, so much so that I found it difficult to find the time to stop and write. But the trappings of the real life at Christmas and its after-effects can be lethal in the absence of deep reflection. If the real life is a bus, I may need to shout, "Stop, I want to get off here and now!" I found blogging to be therapeutic at times, and will try to make it more so in 2008.

Which is why I wanted to play catch up, speaking out my cluttered mind.
Which is why I gave this blog the long-due facelift it deserves.

Problem is... time.

To me, blogging is a luxury. Especially 'naked blogging' (you know, the type that you are reading now, the candid spell-out-what-you-have-in-your-heart type). Though it keeps me honest before God. So I can only try, living this life with a fitting rhythm. Getting on the bus and off the bus.