Mar 4, 2008

Mulut Busuk, Lidah Dusta, & Bibir Palsu

Iman Kristiani tidak hanya relevan dengan hal-hal yang besar dan global: Kemiskinan, Ketidakadilan sosial, AIDS, Global Warming, dst. Tetapi juga kepada hal-hal yang kecil, remeh, sepele, mundane dalam keseharian hidup kita. Ada sesuatu yang amat sangat salah jika ada seorang anak Tuhan yang adalah pejuang HAM kelas dunia bertarung melawan tirani membela rakyat kecil, namun ternyata dia punya wanita simpanan dan menilep uang organisasi (misal, Jesse Jackson). Bukankah kita akan heran mendengar seorang pendeta yang dipakai Tuhan dengan heran dalam skala internasional, memimpin jemaat puluhan ribu anggotanya, dan menjadi presiden dari organisasi Injili terbesar di dunia, namun memiliki hubungan seksual di luar nikah dengan seorang pelacur yang sesama jenis (misal, Ted Haggard)?

Itu sebab firman Tuhan menuntut kita memiliki transformasi hidup dari dalam keluar secara total. Kesaksian gereja Tuhan akan mandul bila para pemimpin Kristen hanya terlihat wah dan hebat di mata publik, namun rapuh dan busuk di dalam. Jika secara performance hebat, namun dalam pembentukan imannya, karakternya, being-nya tidak pernah tersentuh. Tidak pernah ditransformasi.

Inilah yang menjadi concern rasul Paulus saat dia menulis surat ke jemaat Efesus. Dia menulis tentang kontras antara manusia lama dan manusia baru dalam Ef 4:17-24: “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata di dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Lalu dalam ayat-ayat berikutnya dia memberi aplikasi praktis kontras tersebut dalam area-area keseharian hidup orang percaya: Perkataan, Emosi, Pekerjaan, dan Tingkah Laku.

DUSTA vs. KEBENARAN
Kata menanggalkan / put off dalam ayat 22 dipakai lagi di ayat 25. Ayat 22 adalah prinsipnya: Tanggalkan manusia lama. Ayat 25 itu aplikasi praktis: Tanggalkan dustamu.

Dari ayat 22 tersebut, kita tahu bahwa berkata bohong itu adalah salah satu karakteristik dari manusia lama yg menemui kebinasaaanya oleh nafsunya yang menyesatkan. Berdusta itu bukan karakteristik manusia baru, orang yang sudah dibangkitkan dari kematian rohani oleh dan bersama dgn Kristus. Kalau bohong 1x, 2x, ia jatuh dalam dosa tersebut dan cepat bertobat, itu masih bisa dipahami karena natur keberdosaan manusia. Namun kalau bohong jadi kebiasaan tiap hari, tiap saat, tiada hari tanpa bohong, dan tidak merasa itu dosa, maka Alkitab berkata bahwa orang itu pasti bukan orang Kristen meski ia ngaku Kristen, meskipun KTP nya Kristen. Mengapa?

Karena Yohanes 8:44 berkata bahwa Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta. Jadi org yg punya kebiasaan bohong itu berarti ia anak Iblis, bukan anak Tuhan. Wahyu 21:8 berkata, bahwa semua pendusta akan mendapat bagian dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Pendek kata, seorang pendusta yg kalau berdusta tidak merasa apa-apa sama seperti orang gosok gigi pasti bukan Kristen, dan akan masuk neraka.

Kita biasanya berbohong karena tidak mau kehilangan muka. Budaya Saving Face ini kuat sekali dalam budaya Timur. Daripada malu, mendingan bohong. Kita berkata kita sudah melakukan ini dan itu, kenal dengan si A dan si B, menguasai bidang C dan D, dst. Semua itu kita utarakan untuk menutupi ketidakmampuan yang tidak berani kita akui. Kita juga berbohong karena takut. Takut kehilangan teman. Takut tidak dapat order. Takut tidak dipromosikan. Alasan lain berbohong adalah serakah. Serakah akan uang, pujian, posisi, kuasa. Hal ini sangat jelas ditunjukkan oleh Ananias ketika dia ditegur oleh Petrus: "Ananias, why has Satan filled your heart to lie to the Holy Spirit?" (Kis 5:3). Lagi-lagi Setan ada dibalik dusta kita. Memang setiap kali kita berdusta, kita sedang dipakai oleh Setan. Kita jadi alat Setan melalui dusta yang kita anggap sepele. Apapun motivasi kita berdusta, kalau ada 1 hal yg jelas yg Alkitab katakan dengan dusta, itu adalah hal yang serius di mata Tuhan. Sebuah kekejian. Amsal 12:22 berkata Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN.

Sebaliknya, Paulus menulis bahwa sebagai manusia baru, kita bukan hanya harus berhenti berdusta. Etika Kristen adalah etika yang mentranformasi karakter seseorang sehingga tidak lagi berhenti melakukan hal yang negatif, yang berdosa dan menjadi 'netral'. Tetapi melampaui semua itu adalah hal yang positif, yang terpuji, dan menyenangkan Allah. Dalam hal ini "berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Dusta diantara sesama anggota tubuh sangat fatal akibatnya. Jika mata Anda berbohong pada tangan yang sedang mengendarai mobil, lalu mata berkata, "Ya, pindah jalur sekarang. Tidak ada mobil di sebelah. Sekarang!" Anda lalu pindah jalur dan tiba-tiba "BRAAAK!"

PERKATAAN KOTOR vs PERKATAAN MEMBANGUN
Masih seputar masalah lidah dan bibir, Paulus juga menulis di 4:29: "Jangan perkataanmu busuk, biarlah perkataanmu membangunorang lain." Busuk disini mengacu kepada buah yang sudah lewat tanggal, baunya sudah tidak sedap, dan rasanya mengerikan. Termasuk didalamnya adalah mengumpat, memakai nama Allah sembarangan, becanda hal-hal yang bernada seksual, berkata kasar, fitnah, dan memberi label pada orang lain. Saat kita mengutuki orang lain dengan label misalnya "Dasar GOBLOK!", kita sedang menghina PenciptaNya dan menganggap orang tersebut lebih rendah dari kita yang notabene sama-sama orang berdosa di mata Allah. Saya suka mendengar orang me-refer kepada individu2x tertentu, meski biasanya dengan maksud canda, dengan sebutan "Si Lugu (Lucu Goblok"), "Si Camen (Cacat Mental", "Si Tuek Ompong", dst. Demi Kristus, mari kita hentikan label-label tersebut.

Mulut yang busuk tidak bisa dibersihkan dengan sabun Lux atau pasta gigi Pepsodent, Yang mesti dibersihkan adalah hati, karena apa yang kebusukan mulut kita itu adalah luapan isi hati kita. Itu sebab butuh transformasi dari Allah untuk mengubah hati. Apalagi bila yang dibutuhkan adalah revolusi mulut kita dari bau busuk menjadi bau segar. Paulus berkata hendaklah perkataan kita membangun orang lain. Tidak cukup hanya stop berkata busuk. Dan tiap kali kita ngobrol, yang keluar dari mulut kita hanya small talks (cuaca, harga bensin, kabar si A dan si B, dst.). Karakteristik manusia baru adalah dia suka membangun orang lain dengan perkataannya. Dengan encouragement, afirmasi, penghibiran, nasihat, teguran dalam kasih. Mari kita teliti apakah perkataan kita pada umumnya cenderung busuk, netral, atau membangun?

Kesimpulan
Dalam gereja Tuhan hari ini, tidak terhitung lagi banyaknya anggota tubuh Kristus yang meninggalkan gereja karena merasa ditipu, dikecewakan, dan disakiti karena kalimat-kalimat kita yang mengandung dusta dan maksud jahat. Dan tidak sedikit gereja yang sesama anggotanya saling curiga, mudah tegang, dan sering konflik gara-gara pola ucapan mulut yang sering terdengar.

Kalau ada orang yang bilang, "Saya mau pelayanan di bidang musik dengan sungguh-sungguh mulai bulan depan." Antena kecurigaan kita langsung naik. "Hmm, ada udang jenis apa lagi di balik batu hatinya? Kenapa baru sekarang mau pelayanan? Mau cari untung apa dia? Apa kita berani percayakan pelayanan ini kepadanya? Jangan-jangan dia cuma ngomong doang, kayak dulu itu." Dalam relasi pelayanan seperti itu, gereja akan jalan di tempat, lumpuh dan tumpul dalam kesaksiannya.

Paulus menulis bahwa jika kita sungguh telah diperbarui oleh Kristus, maka tidak ada lagi dusta diantara sesama saudara seiman, bahkan tidak ada dusta sama sekali. Tidak ada perkataan kotor, yang mengecilkan dan menyakiti orang lain. Yang ada adalah perkataan yang jujur, terbuka, dan tulus, serta membangun, menggembalakan banyak orang. Biarlah doa pemazmur berikut menjadi doa kita bersama “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku” (Mzm 141:3). Jika Tuhan menjadi penjaga pintu bibir kita, Dialah yang akan menentukan apa yang keluar dari mulut kita: Apakah karena takut dan serakah, dari mulut kita keluar dusta? Apakah perkataan kita mengeluarkan bau busuk, ataukah membangun orang lain?

Mar 3, 2008

Menebus Dunia Pendidikan

Bedanya polemik tentang Kristen dan Pendidikan di Indonesia dan Australia memang menarik untuk diperhatikan. Di Indo, yang menjadi isu adalah mayoritas dan minoritas. Karena Kristen itu dikondisikan sbg 'minoritas' maka pendidikan Kristen mesti dibatasi. Di Australia, yg notabene negara sekuler, pemerintahnya sendiri sewot melihat menjamurnya pendidikan berbasis kepercayaan iman, seperti yang diberitakan baru-baru ini di The Age.

Pemerintah Oz gusar karena jika para pelajar diajarin Creationism dan bukan Darwinian Evolution, mereka akan jadi "isolated sub-groups in our community." Di level state, telah terjadi perbedaan kebijakan: "Under Victorian law, it is not compulsory for private schools to teach evolution, though it is recommended in the curriculum. In NSW evolution is a compulsory part of the syllabus."

Seorang kepala sekolah Kristen dalam berita tsb menyatakan: "We don't hide the fact that there is a theory of evolution, and that's how we'd present it, as a theory... We teach it, explain what it is, and at the same time we present clearly and fairly, and we believe convincingly, the fact that our position as a school is that God created the heaven and earth … There wouldn't be any point of being a faith-based school if we didn't think that God was the creator."

Kasus riil yg sedang terjadi diatas menjadi contoh kotemporer bagaimana perjuangan menebus budaya (redeeming culture) untuk ditundukkan kembali kepada Kristus begitu penting. Banyak sekali orang modern yg tidak menyadari bahwa pendidikan tertiary itu dimulai di abad ke-12 oleh kaum Puritan yang memiliki konfiksi iman yang murni bagi Kristus, bahwa ilmu pengetahuan berkembang pertama kali karena adanya pengakuan bahwa keteraturan alam semesta ini pasti tidak terjadi dengan sendirinya karena jika ada grand design, pasti ada Grand Designer.

Yang juga menarik dari polemik dalam berita koran diatas adalah pendidikan berbasis kepercayaan akan membuat orang cupet pikirannya. Jadi jika mau mencetak generasi yang pikirannya progresif, sikapnya toleran, kontribusinya inklusif, jangan diajari konsep yg dilandasi kepercayaan iman. Lha terus kenapa orang Yahudi bisa paling progresif dalam kemajuan berbagai bidang ilmu? Dan apakah ada yang bisa menjamin bahwa kalau diajarin Darwin dan Teori Evolusinya, mereka akan jadi toleran terhadap orang lain, atau malah menghina orang Kristen yang belajar Creationism? Bukankah orang Kristen yang diajar abstinence before marriage (dan bukan pakai kondom biar aman) seringkali menjadi bahan tertawaan karena dianggap kuno dan kuper?

Mar 2, 2008

Lewis and Chesterton on Being Open-minded

An open mind, in questions that are not ultimate, is useful. But an open mind about ultimate foundations either of Theoretical or Practical reason is idiocy. If a man's mind is open on these things, let his mouth at least be shut.
C.S. Lewis quoted in Credenda Agenda, 4(5), p. 16.

Merely having an open mind is nothing; the object of opening the mind, as of opening the mouth, is to shut it again on something solid.
G.K. Chesterton

Feb 27, 2008

The L books I recommend my students

There is at least one leadership book published every single day. At that rate, compulsive reader one may be, trying to catch up with leadership books and still maintain his or her sanity is simply obnoxious and impossible. Thankfully, for every 100 books, there is one that stands out from the rest. The books below are those that in my view stand tall, shaping the practice of leadership around the globe, for better or worse...

Feb 26, 2008

2008 Resurgence Conference: Text & Context

Tgl 25-27 Feb ini di Seattle, Amerika, sedang berlangsung sebuah conference yg cool dan crucial: Text & Context: The Resurgence Conference


Pembicaranya top quality baik dari sisi theological maupun pastoral. Coba saja lihat:

Monday, February 25, 2008
2:00 pm Session 1 – Mark Driscoll – Text & Context: Humble Incarnational Ministry
4:00 pm Session 2 – CJ Mahaney – Text & Context: Pastoral Character & Loving People
7:00 pm Session 3 – John Piper - Text: Why I Trust the Scriptures

Tuesday, February 26, 2008
9:00 am Session 4 – Jim Gilmore – Context: Fear and Trembling in the Experience Economy
10:45 am Session 5 – Matt Chandler - Text & Context: Preaching the Gospel in the Center of the Evangelical World
1:00 pm Session 6 – John Piper - Text & Context: How My Pastoral Ministry Shapes my Pulpit Ministry
2:45 pm Session 7 Mark Driscoll - The Ox: Qualifications of a Church Planter (Acts 29 Session)
4:15 pm Session 8 Matt Chandler - Vision of a Church Planter (Acts 29 Session)
7:00 pm Session 9 – John Piper - Text: How Do I Distinguish Between Gospel and False Gospel?
9:00 pm Q & A with John Piper

Wednesday, February 27, 2008
10:00 am Session 10 – Jim Gilmore – Context: Decoding the Future, the Phoniness, and the Shifting Sands
11:20 am Q& A with Jim Gilmore
1:00 pm Session 11 – Mark Driscoll – Text & Context: Preaching Jesus Christ To Pagan Culture
2:15 pm Q & A with Mark Driscoll

Anda yang memiliki broadband internet, dapat mengikuti live feed dari conference tersebut disini.
Jika sudah telat live broadcast, audio/video files bisa diakses disini.
Namun bila Anda ndak sabar, bisa lihat catatan Justin Buzzard yang blogging dari conference tsb.

Feb 24, 2008

Prinsip 3S untuk Mengerti Kehendak Tuhan

1. Saturate your mind with the Word of God

Jika kita ingin tahu kehendak Allah, bacalah firman Allah karena Allah menyatakan kehendakNya disana. Dalam firman Allah kita beroleh prinsip-prinsip penting untuk membantu kita mengambil keputusan-keputusan yang tidak secara eksplisit diperintahkan atau dilarang oleh firman Allah.

Yang menarik disini adalah seringkali kita tahu bahwa Allah menghendaki A, tapi kita masih mencoba bertanya apakah mungkin Allah menhendaki B. Misal, seorang pemuda Kristen jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang pemudi yang tidak seiman. Lalu dia bertanya, "mungkinkah kehendak Tuhan utk aku menikahinya sehingga ia bisa diselamatkan?" Jawabannya tentu tidak. Karena firman Tuhan jelas berkata bahwa pasangan seiman itu adalah syarat mutlak (dan dalam prakteknya, memang prinsip tersebut ternyata sangat penting). Jika kita mau taat kepada firman Allah yang eksplisit, akan banyak hal dalam hidup kita yang kita tidak perlu bingung dan kuatir manakah kehendak Allah.

Masalahnya ada dua. Pertama, kita mungkin tidak menyelami firman Tuhan sehingga tidak tahu mana kehendak Tuhan. Tukang masak yang jago selalu bilang bahwa agar masakan lezat, daging harus di-marinate sampai meresap ke tulang-tulangnya. Demikian juga seharusnya pikiran kita perlu di-marinate dengan firman Tuhan. Kedua, kita mungkin tahu mana kehendak Tuhan, tapi tidak bersedia untuk taat.

Prinsip yang penting disini adalah bahwa "OBEDIENCE is the ORGAN OF SPIRITUAL KNOWLEDGE", sebagaimana Yesus sendiri berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri." Semakin kita taat, semakin kita peka menangkap kehendak Tuhan. Semakin taat, semakin mengerti kehendakNya. Bukan mengerti dulu baru taat, tetapi taat dulu baru mengerti, dan semakin taat semakin mengerti.

Dalam banyak area hidup kita, Alkitab memang berdiam tidak berkata apa-apa. Misal: Alkitab mengajarkan bahwa "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2 Tes 3:10). Tapi Alkitab tidak memberitahu di bidang apa kita harus bekerja, sebagai apa, di kota apa, dst. Alkitab mengajarkan bahwa menikah harus dengan pasangan seiman: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya" (2 Kor 6:14). Tapi Alkitab tidak memberitahu kita saudara seiman yang mana yang kita meski nikahi. Dan tentu 1001 hal lainnya. Setelah studi, mau tinggal di Australia atau pulang ke Indonesia? Mau punya anak atau tidak, kalau ya, berapa biji, eh... berapa banyak? Beli orange juice dan pakai shampoo mau merk apa? Dan lain-lainnya....

Itu sebab yang kita perlukan adalah pikiran yang telah diperbarui, dibentuk, dan dipimpin oleh kehendak Allah yang dinyatakan dengan eksplisit dalam Alkitab. Dengan demikian, kita memiliki kepekaan (discerment) untuk menganalisa setiap keputusan dengan pikiran Kristus. Hal ini tidak instan-supranatural. Tetapi sebuah proses yang panjang. Bergumul dan berusaha bergaul dengan firman Allah sehingga kita memiliki kepekaan untuk mengaplikasikan firman Allah dalam area-area dimana Alkitab tidak mengatur secara eksplisit. Jika kita mencari kehendak Allah dengan hanya bersandar pada mimpi dan suara Allah yang audible, wahyu, dan tanda-tanda konkrit dari Allah untuk memberitahu kita apa yg kita harus lakukan, kita tidak akan pernah berusaha memiliki pikiran yang ditransformasi & dikuduskan oleh kebenaran firmanNya. Yang Allah inginkan adalah transformasi pikiran kita - "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah" (Roma 12:2).

2. Seek Advice from mature Christians

Inilah fungsi komunitas umat Allah. Saling menasihati, mengajar, menegur, membangun satu sama lain. Jika setiap keputusan penting dalam hidup kita, kita coba konsultasikan dengan 10 orang yg kita anggap dewasa dalam iman dan mengenal kita cukup dekat, maka kita akan beroleh konfirmasi atau diskonfirmasi apakah keputusan tersebut benar-benar kehendak Allah atau agenda pribadi kita. Sebab tidak jarang Allah menyatakan kehendakNya lewat orang-orang tersebut.

Mau pacaran dengan seorang pria/wanita? Bertanyalah kepada 10 orang tsb, apakah mereka melihat ada kecocokan dari sisi kedewasaan iman, kesamaan beban pelayanan, compatibility kepribadian, dst. Mau pindah kerja? Coba konsultasi dengan mereka bertanya tanggapan mereka ttg dampak pekerjaan yg baru pada keluarga, pelayanan, visi hidup pribadi, dst. Jika mereka mau serius mendoakan keputusan tersebut dan dapat memberi nasihat yang kental dengan prinsip firman, Anda adalah orang yang sangat diberkati, karena tidak banyak orang Kristen yang dikelilingi oleh mentor-mentor rohani seperti itu!

3. Scrutinize your situation

Langkah terakhir adalah mencermati sungguh-sungguh konteks hidup kita sendiri. Benarkah Tuhan mau Anda punya anak yang ketiga, misalnya, jika realitanya selama ini dengan dua anak saja Anda sudah kewalahan memberi waktu yang cukup sebagai seorang ayah atau ibu? Apakah tawaran pekerjaan di kota baru itu (dengan gaji yg lebih tinggi tentunya) perlu diambil bila itu berarti Anda harus meninggalkan peran strategis Anda di tempat yg sekarang yang notabene lebih sejalan dengan panggilan hidup Anda? Kebutuhan pelayanan ada dimana-mana, masalahnya apakah saya harus ambil satu lagi bidang pelayanan, sementara waktu pribadi bersama Tuhan sudah sangat minim akhir-akhir ini? Apakah saya harus keluar kerja dan studi tahun ini atau tunggu sampai tabungan lebih besar?

Selama ini dalam mengambil keputusan, setelah menganalisa seluruh aspek hidup saya (keluarga, pekerjaan, gereja, persekutuan, dll), saya mencoba bertanya, apakah ada kepastian (damai sejahtera) untuk melangkah? Saya suka prinsip yang Allah berikan kepada Yusuf dan Maria untuk tetap tinggal di Mesir ketika bayi Yesus diburu oleh Herodes yang paranoid itu: "Stay there until I tell you" (Matius 2:13). Jika tidak ada kepastian melangkah, maka "stay there." Sampai kapan? Sampai Tuhan bilang kita harus melangkah. Jika Allah menyatakan kehendakNya pada Musa setelah 80 tahun Musa menunggu-nunggu, maka mungkin kita mesti belajar lebih berani berserah pada waktu Tuhan.

Feb 23, 2008

But How Can I Discover God's Will?

Think about the last big life decision you made, and ask yourself honestly:
On a scale of 1 to 10, how sure were you that the decision reflected God's will and not yours?
Often our smart, rational, pious excuses in making that decision cloud our discernment. Yet since we keep repeating those excuses to our spouses, family members, friends, etc., we end up believing those excuses ourselves. "Sure I believed that God wanted me to do that." Otherwise, how can you have a peaceful sleep?

The above scenario was part and parcel of my life, too. Here are some of the big decisions I struggled with post high-school years:

Study in which university in America (wait, who said it had to be America)? Which field of study? After graduation, going back home or stay in the US? What sort of career I should have? Should I do my MBA or take MA in Christian Studies, and where? How did I end up in Melbourne anyway? After finishing my MBA, should I work first then marry, or the other way? Wait, is she the woman God wanted me to marry? How many kids you wanted us to raise, God? Is my calling in leadership, then in what form exactly? Does that involve a PhD? Do you want me to start a new church in a city already crowded with small Indo churches, or should I just join one? And how do I know which car to buy, at what price range, and when Lord? Our old TV is well, very old Lord,... is it Your will Lord to buy a new TV, if yes, tube or flat-screen, HD or Full HD, LCD or Plasma, Silver or Black, 32 or 42 inch? I think for my coffee, I have decided for a long while now that it must be extra hot, skinny, strong Mocha, sorry I never asked whether that's also Your will.

... and so on.

That is why I'd like to recommend several books on discovering and discerning God's will, which I found very useful. For your perusal, I provided the hot links to Amazon so you can browse, and hopefully buy and read them:

1. Step by Step, James Petty
2. Decision Making and the Will of God, Garry Friesen
3. Knowing God’s Will, M. Blaine Smith
4. Discovering God’s Will, Sinclair Ferguson
5. Guidance and the Voice of God, Phillip D. Jensen and Tony Payne
6. Hearing God, Dallas Willard

Feb 22, 2008

Theological Pick-Up Lines

If you happen to be theologically-savvy, and single, don't even think of using these pick-up lines. Funny, but hopeless!

“I could not help but notice you were exegeting me instead of the text during the sermon.”

”Your name must be grace, because you are irresistible.”

“Until this moment, I thought I had the gift of singleness.”

“The Bible says that God is not concerned with outer appearance . . . neither should you.”

“God may be the bread of life, but you are the butter.”

While giving her a TULIP say, ”This Totally depraved person has been Unconditionally drawn to you, Limiting himself to your
Irresistible beauty that is Persevering beyond all others.”

See the complete Top Twenty Theological Pick-Up Lines NOT to use by C Michael Patton

New Book: Leadership from the Inside Out

A new leadership book by Kevin Harney, Leadership from the Inside Out. The sub-title of the book is Examining the Inner Life of A Healthy Church Leader.

A Teaser from the Publisher:
Why is it that so many gifted and passionate leaders end up on the sidelines of ministry rather than finishing well? How can you avoid the pitfalls that face those who serve Christ and his church? What steps can you take that will propel you forward into a more faithful and fruitful ministry than you ever dreamed? These questions and more are addressed in Leadership from the Inside Out.

Click here for the Flash presentation of the book by the author.

Feb 20, 2008

Rahasia Kehebatan Google

Mau tahu rahasia Google untuk mencapai peringkat teratas dalam ranking tahunan majalah Fortune Top 100 Best Companies to Work For? Lihat brief video report ini.

Tidak heran Microsoft, Yahoo, dan puluhan perusahaan besar, menengah, dan kecil iri hati terhadap Google...

Sovereign Grace Leadership Interview Podcast

Sovereign Grace Ministries baru-baru ini melakukan launching Leadership Interview Series podcast yang menampilkan roundtable discussion antara C.J. Mahaney (president of Sovereign Grace Ministries), Jeff Purswell (dean of Pastors College), dan Joshua Harris (senior pastor of Covenant Life Church). Ketiganya muncul secara reguler membahas isu-isu teologia dan kepemimpinan pastoral. Relevan bagi semua orang, khususnya bagi pendeta.

Feb 19, 2008

Shawshank Redemption

I was just turning on the TV last Thu when one of the local TV networks re-ran the Shawshank Redemption, a 1994 classic which I never had seen before. After quickly pondering the likely consequences of watching that movie at the cost of not doing other things, I decided to sit and watch! Two hours later (or more with TV ads), I remember thinking to myself, "Great movie!"

The overarching theme is of course HOPE, a crucial thing in a make-or-break context like State Prison. I have been pondering for a long time the tranforming effects of prison on inmates. Many world leaders were somewhat changed or shaped during their prison experiences. Yes, they emerged much stronger individuals with rock solid convictions. From Gandhi to Solhenitzyn to King, Jr to Mandela, just to name a few big names for simplicity sake (though many unknowns had the same experiences).

The main character in this Stephen King's screenplay, Andy Defresne (Tim Robbins), was sent to a prison for a crime he didn't commit. But he brought hope to a bunch of inmates who have lost all hope. "Hope is a good thing, maybe the best of things, and no good thing ever dies", that's what he believed in, which were contagious, sparking new excitement and infusing new meaning of life.

The best part of the movie that I thought was powerful was shown by Brooks, an old inmate who has been inside for 50 years and was now up for his parole, which means he can get out and enjoy life outside prison. However, Brooks has been 'institutionalized", slowly and oddly becoming too comfortable in prison. Days after he was out, he's got a job at a supermarket but grew increasingly insecure and disoriented. He in fact thought of committing a new crime so that he can be sent back to prison.

Here is what his mate told of Brooks "The man's been in here fifty years,... Fifty years! This is all he knows. In here, he's an important man. He's an educated man. Outside, he's nothin'! Just a used up con with arthritis in both hands." The same friend then explained how prison experience shaped Brooks: "These walls are funny. First you hate 'em, then you get used to 'em. Enough time passes, you get so you depend on them. That's institutionalized... They send you here for life, and that's exactly what they take. The part that counts, anyway."

So reluctant was Brooks to enjoy his newfound freedom on the other side of the fence that he ended up hanging himself. That's what happened when hope is lost. A running commentary was again provided by his mate, who also got his parole, but didn't want to end up like Brooks:
There is a harsh truth to face. No way I'm gonna make it on the outside. All I do anymore is think of ways to break my parole. Terrible thing, to live in fear. Brooks Hatlen knew it. Knew it all too well. All I want is to be back where things make sense. Where I won't have to be afraid all the time.

I am always fascinated by the question: Why do some people bounce back from difficult circumstances and emerge much stronger, and some give everything up? What makes some so resilient that when they are knocked down, they are not knocked out? Prison is one of those crucible experiences that can make you or break you, but certainly there are many other. Victor Frank's chronicle of his Nazi camp concentration experience provided many clues to this question. These are his words penned in his bestselling book Man's Search for Meaning.
“We who lived in concentration camps can remember the men who walked through the huts comforting others, giving away their last piece of bread. They may have been few in number, but they offer sufficient proof that everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms -- to choose one's attitude in any given set of circumstances, to choose one's own way.”

He was able to transform his horrible experience into something positive, in the form of logotherapy for which he was known a pioneer in the field, a technique used to treat people who undergo harsh realities of life. Later he wrote that "What is to give light must endure burning.” Which reminds me of Nietzschean maxim that "That which does not kill us makes us stronger."

The question remains however why some people can redeem life's darkest moments and popping up on the surface with steel-coated but tender-hearted conviction that can move mountains?

Feb 15, 2008

A milestone on Valentine's day

Here is an unlikely Valentine's day story. A story that somewhat misfits the day but brought me and my wife a great joy as parents.

On Valentine's day 2008, at around 7.30pm, our three-year-old boy Calvin decidedly thought that that day was the day he would ditch his nappies. So after giving us the proper signs, he did 'number 1' gracefully, much to our surprise. Prior to that "A HA" moment, he underwent a very brief toilet training period. We can only recall a couple extreme occasions where we stood with him next to the bowl, nearly 15 minutes!

Great job, Cal!

Feb 12, 2008

Orang Bodoh dan Jigsaw Puzzle

Karena hidup ini singkat dan berharga, banyak orang Kristen berpikir bahwa untuk hidup se-produktif mungkin, yang diperlukan adalah kerja sekeras-kerasnya tanpa istirahat. Namun Alkitab memberitahu kita bahwa hidup produktif bukan seperti itu.

Hidup produktif bukan tentang hidup secara efektif (doing the right things) dan efisien (doing this right), meski keduanya perlu. Alkitab mengajarkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang mengerti kehendak Allah bagi hidup kita dan hidup didalamnya. Diluar itu, hidup kita, sehebat apapun dihadapan manusia, hanyalah sebuah kebodohan dihadapan Allah.

Itulah yang ditekankan Rasul Paulus dalam Efesus 5:17.
- Therefore do not be foolish, but understand what the will of the Lord is (ESV)
- Don't act thoughtlessly, but try to understand what the Lord wants you to do (NLT)

Kata 'foolish' (ESV) atau 'thoughtless' (NLT) atau 'bodoh' (LAI) dipakai berkali-kali di PB, termasuk oleh Tuhan kita. Dua diantaranya dipakai dalam rentang waktu yang berdekatan. Yesus memakai kata yang sama (aphron) untuk orang Farisi yang beranggapan bahwa tingkah laku agama eksternal mereka akan memperkenan hati Allah "Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?" (Lukas 11:40).

Yesus juga pernah bercerita tentang seorang yang dengan naluri entrepreneurship-nya dan keuletannnya bekerja menjadi begitu sukses dalam usahanya, sampai-sampai gudangnya tidak cukup untuk menyimpan hasil panennya. Hari ini orang kaya tersebut mungkin diwakili Richard Branson (Virgin) atau Li Ka Shing atau Kiyosaki atau siapa saja diantara kita yang dimata dunia dapat menembus marketplace yang ultra kompetitif dan menang. Namun penilaian Yesus samasekali berbeda: "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?"

Baik yang beragama (Farisi) dan yang tidak beragama (orang kaya) tersebut saya yakin memiliki status sosial yang terpandang di masyarakat karena keberhasilan, kesalehan, dan konfiksi hidup mereka. Namun keduanya disebut 'bodoh' oleh Tuhan kita. Kedua orang tersebut mengingatkan kita bahwa menjadi pemeluk agama Kristen tidak lalu menjadikan kita bijak dimata Tuhan. Demkian juga menjadi alumni Harvard MBA yang berhasil menjadi Milyuner Muda sekalipun tidak menjamin kita pasti tidak akan disebut 'Bodoh' oleh Allah.

Rasul Paulus menulis bahwa orang yang disebut bijak oleh Allah adalah orang yang berupaya mengerti kehendak Allah dalam hidupnya. Menarik sekali kata 'mengerti' yang dipakai dalam Efesus 5:17 punya konotasi seorang yang sedang menyusun potongan-potongan jigsaw puzzle, sampai akhirnya mendapatkan keseluruhan gambarnya secara utuh. Gambar yang kita sedang coba susun tersebut adalah kehendak Allah, yaitu apa yang menjadi keinginan hati Allah (lihat Efesus 5:10). Bijaksanalah orang yang menjalani hidupnya mencari potongan-potongan puzzle hasrat hati Allah, menemukannya, dan mengikutinya seumur hidupnya.

The Lure of Sin

According to tradition, this is how an Eskimo hunter kills a wolf. First, the Eskimo coats his knife blade with animal blood and allows it to freeze. He then adds layer after layer of blood until the blade is completely concealed by the frozen blood.

Next, the hunter fixes his knife in the ground with the blade up. When a wolf follows his sensitive nose to the source of the scent and discovers the bait, he licks it, tasting the fresh frozen blood. He begins to lick faster, more and more vigorously, lapping the blade until the keen edge is bare. Feverishly now, harder and harder, the wolf licks the blade in the cold Arctic night. His craving for blood becomes so great that the wolf does not notice the razorsharp sting of the naked blade on his own tongue. Nor does he recognize the instant when his insatiable thirst is being satisfied by his own warm blood. His carnivorous appetite continues to crave more until in the morning light, the wolf is found dead on the snow!

Many kids begin using drugs, drinking alcohol, smoking cigarettes, or engaging in unsafe sexual behavior for the same reasons that the wolf begins licking the knife blade. It seems safe and delicious at first, but it doesn't satisfy. More and more is desired, leading to a crisis-or death. Don't be fooled by the temptations of sin. Like the wolf, we can get away with it for a while. Eventually, however, its true character is revealed. Sin leads to death and destruction. "For the wages of sin is death" (Rom. 6:23).

Source: Wayne Rice, Hot Illustrations For Youth Talks, Zonderzan, pp. 87-88.

Feb 7, 2008

Leadership Class

I am about to finish teaching Summer intensive course in Leadership which runs for two weeks 5 hours each. It's tiring, but self-rewarding. The opportunity to touch the lives of others through the course is something that I enjoy doing profoundly. Equally important is what I teach helps me to challenge my own preconceived notion of leadership and the many other issues associated.

We discussed many leaders from William Wilberfore to Steve Jobs, from Mahatma Gandhi to Jim Jones. What becomes clear to me is that leadership starts with a process of self-discovery. As there are no universal traits of leaders, one need to be authentic - to be who she or he really is. That is why a lot of soul searching is required for any effective leadership. Our earliest experiences as a baby/child did play a role in determining the effectiveness of our leadership, and so are all the 'defining moments' later in our lives.

Our fascination (and mine) with leadership will be likely to continue. Despite how unhealthy it may become, one should acknowledge that everything rises and falls on leadership. Borrowing de Vries' metaphor, you can have the most sophisticated engine and most aesthetic design in the world for your car, but without a capable driver, the only direction the car will run on itself is downhill. Organizations are not different. If anything, this course deepens my conviction that cultivating our leadership character is priceless, particularly since we have a role model to imitate: The Servant King, Christ Jesus.

Feb 4, 2008

Tragedy of Life


The tragedy of life is that you can only understand it backward but you have to live it forward (Soren Kierkegaard)

Kairos Favors the Prepared Heart

"In the field of observation, chance favors the prepared mind", demikian tulis Pakar Mikrobiologi Perancis Louis Pasteur (1822-1895). Kalau diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia, kalimat diatas kira-kira berbunyi sebagai berikut: “Dalam bidang observasi, keberuntungan berpihak pada mereka yang siap.”

Pasteur menulis kalimat tersebut dalam konteks penelitiannya tentang proses kristalisasi dan fermentasi, yang aplikasinya hari ini kita dapati pada susu dan wine, vaksin penyakit kolera dan rabies, dan lain sebagainya. Ia mungkin tidak pernah mengantisipasi bahwa kalimatnya diatas akan diadopsi oleh banyak di luar konteks laboratorium sebagai sebuah filosofi hidup. Di bidang manajemen, para eksekutif hari ini menerapkan filosofi tersebut saat mereka menyusun rencana strategis perusahaan dan hidup pribadi mereka.

Kalimat tersebut menarik, karena saya pikir relevan dengan filosofi hidup anak-anak Allah, namun perlu modifikasi. Alkitab tidak mengajarkan kita konsep chance atau keberuntungan, karena Allah dalam pemeliharaanNya yang penuh kasih senantiasa berintervensi dalam hidup anak-anakNya.

Bagi anak-anak Allah, yang benar bukan “Chance favors the prepared mind”, tetapi “Kairos favors the prepared heart.” Konsep tersebut saya deduksi dari apa yang ditulis Rasul Paulus dalam Efesus 5:16, yaitu “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Kata ‘waktu’ yang dipakai di ayat tersebut berasal dari kata kairos (bukan kronos, yg berarti waktu secara kronologi – kemarin, hari ini, dan besok). Kairos adalah momen Allah menyatakan diriNya secara khusus pada kita melalui pengalaman hidup yang kita lewati, yang berpotensi menjadi sebuah momen transformatif dalam hidup kita. Beberapa contoh kairos, adalah saat kita pertama kali menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, atau pengalaman hidup yang negatif namun yang justru memberi makna baru terhadap cara pandang atau prioritas hidup kita.

Sedangkan kata 'pergunakan' dalam ayat tersebut berasal dari akar kata yang dengan tepat diterjemahkan ‘redeem’ dalam versi King James. Jadi Paulus meminta kita untuk menebus kairos. Ia seakan berseru: “Tebuslah, belilah kembali momen-momen transformatif yang Allah berikan bagimu."

Alasannya adalah "karena hari-hari ini adalah jahat." Alasan kita menebus kairos bukan karena hari-hari kita pendek, tapi jahat. Kepada jemaat Efesus yang hidup di tengah budaya metropolitan yang sarat dengan manifestasi dosa (secara khusus, penyembahan berhala dan berbagai dampaknya), Paulus mengingatkan bahwa semakin gelap dunia kita, semakin penting kita menangkap setiap kesempatan yang Allah turunkan bagi kita agar hidup kita yang sementara di dunia ini tidak sia-sia, tidak terus ditipu mentah-mentah oleh si Jahat dan menjadi bahan tertawaannya.

Sebuah studi menyatakan bahwa jumlah milioner baru di Australia meningkat drastis karena begitu banyak entrepreneur muda yang begitu peka dan lihai mencium sebuah kesempatan bisnis, menangkapnya, mengerjakannya, dan menuai hasil darinya. Mereka tahu persis bahwa kesempatan bisnis yang penting tidak akan datang untuk kedua kalinya. Dan tidak akan menunggu orang-orang yang tidak siap.

Bukankah tragis bila anak-anak Allah juga hanya peka dan siap untuk menangkap kesempatan bisnis, namun bagai orang bisu tuli terhadap kairos-kairos Allah?

Menengok ke belakang, saya sadar betapa sering kairos-kairos Allah lewat begitu saja dalam hidup saya. Momen dimana saya seharusnya mengabarkan Injil, menghibur orang lain, menyatakan sentuhan kasih Allah pada orang yang membutuhkan, semua itu lewat begitu saja karena saya terlalu sibuk dengan agenda pribadi saya. Banyak orang Kristen seharusnya naik kelas dalam sekolah iman ketika Allah ijinkan sebuah pengalaman kehilangan (kehilangan kesehatan, keberhasilan, rasa aman, orang yang dikasihi, dst), namun mereka hanya bengong karena tidak siap.

Sebabnya sederhana: hidup di dunia ultra modern, kita tidak dengar-dengaran terhadap Allah. Relasi pribadi kita dengan Allah hanya sebatas rutinitas keagamaan. Tidak heran kita merasa hidup rohani kita kering, dan Allah tidak riil dalam hidup kita. Mari kita ubah pola ini. Kepekaan rohani tidak datang dalam semalam, tetapi muncul karena sebuah kebiasaan berinteraksi secara akrab dengan Allah. Sama halnya suami-istri yang setelah bertahun-tahun hidup bersama menjadi lebih peka dengan suara hati pasangannya.

Tanpa kepekaan rohani, kairos Allah tersebut akan hanya melewati kita. Dan kesempatan untuk dibentuk, diajar, diubahkan oleh Allah hilang, dan mungkin tak pernah kembali. “Kairos favors the prepared heart.”

Jan 25, 2008

Sexual Addiction

Christianity Today (CT) in the past published three excellent articles on how Christian leaders battle their addiction to lust. The articles instantly became leadership classics - must-read readings on the subject!

I have read all three, which include very candid accounts of a Christian struggling with the sin of pornography. I have referred to them in my sermon and applied the truth in my own life. Now CT publish them as a bible study guide titled Confronting Sexual Addiction with the following intro:

Sex sells. At $57 billion per year, pornography generates more revenue in America than the combined income generated by pro football, baseball, and basketball, according to xxxchurch.com. But this is not an excuse - we must recognize that lust isolates, explores multiple lives, and fosters shame. This study affirms that sexuality comes under God’s kingdom rule. This is a call for greater resolve among followers of Christ to shed light on the problem, stop feeding it, and to be honest about where it will take us. Finally, it points us back to the cross to remind us how much God loves us, even in our failures.

But you can still get the three individual articles full-text on the web:
Article 1: The War Within - The Anatomy of Lust
Article 2: The War Within Continues
Article 3: Gutsy Guilt
...plus an Afterthought: Battle Strategy